Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
74. Ada yang Merindukanmu


__ADS_3

"Tapi aku memohon padamu, berikan aku kesempatan terakhir, untuk bisa membuktikan bahwa cintaku tulus untukmu." Amar menyandarkan wajahnya pada Anna.


"Ekhem ..."


Mereka berdua terkesiap dan Amar melepaskan pelukannya. Di dekat Anan, telah berdiri seorang pria berpakaian security. Sementara itu, Anan terus tersenyum lebar melihat kedekatan kedua orang tuanya ini.


Meskipun ibunya terlihat menyembunyikan perasaannya, Anan tahu, hati ibunya ini sedikit mencair. Anna tak lagi memandang Anan dengan dingin. Mata ibunya ini mulai terlihat lebih lembut.


"Maaf orang tuanya Anan. Saya tahu kalian adalah keluarga yang bahagia. Namun, mohon maaf sekali. Saya harap jangan terlalu mesra di depan sekolah seperti ini. Bukan apa-apa, hanya saja anak-anak zaman sekarang terlalu cepat besar—"


"Maaf, Pak ... Maaf ... Kami terlalu terbawa suasana. Lain kali, tidak akan kami ulangi." Amar menggenggam tangan Anna dan Anan mohon diri mengajak mereka berdua masuk ke dalam kendaraannya.


Anna memilih posisi di belakang, tetapi, genggaman tangan Amar semakin erat. Ia menggelengkan kepala. Namun, pintu penumpang di belakang tetap dibukakan untuk Anan. Bocah itu mengerutkan kening.


"Biasanya Anan selalu duduk di depan. Kenapa kali ini di belakang?"

__ADS_1


Anna terus mencoba melepas genggaman Amar. Akan tetapi, Amar tidak memberikan kesempatan kepada Anna untuk melepaskan diri.


"Biarkan Anan saja yang di depan." Anna kembali mencoba mendorong tangan Amar agar melepaskan genggamannya.


"Kalian berdua bisa duduk di depan, bersama. Pokoknya kamu juga harus di depan!"


Beberapa waktu kemudian, Anna hanya bisa memasang wajah pasrah duduk di samping Amar. Di pangkuannya, telah duduk Anan yang menikmati waktu seperti ini. Sebelumnya, ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya, Anan duduk dalam pangkuan sang ibu.


Ada satu yang tak mau dilepaskan Amar. Saat Anna telah duduk manis di posisinya, Amar kembali menggenggam tangan itu.


"Apa kamu bersedia ikut denganku?"


"Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja."


Amar berhenti di tempat penjual kembang. Ia membeli beberapa jenis kuntum bunga sekeranjang penuh. Tidak lupa, beberapa botol air mawar. Meskipun tanda tanya masih menggelantung dalam kepalanya, tetapi tetap memilih memendam di dalam kepalanya sendiri. Kendaraan kembali melaju menuju ke pemakaman umum yang elite.

__ADS_1


"Kenapa kamu membawa kami ke sini?"


"Ada yang merindukanmu." Kali ini Amar merangkul pinggal Anna dan pundak Anan. "Nenek pasti senang melihat ini."


"Nenek?" tanya Anna kembali.


Amar menganggukan kepala. "Nenek telah pergi, lima tahun yang lalu."


Langkah Anna terhenti. Rautnya tadi yang kebingungan, kini berubah layu. "Nenek Andari, telah kembali ke alam sana?" Ia kembali mengulang pertanyaannya, dibalas anggukan Amar.


Bulir bening jatuh begitu saja tanpa aba-aba. Tubuhnya bergetar tak kuasa menahan hati yang tiba-tiba saja mendapat berita ini.


Amar memeluknya dan Anna menyandarkan wajahnya dalam dada Amar. "Nenek, maafkan aku. Padahal, Nenek sudah sangat baik padaku. Tapi, aku malah menjauh dari Nenek."


Amar mengusap kepala dan punggung Anna. "Aku sebagai perwakilan Nenek juga ingin minta maaf padamu. Apa kamu mau memaafkan semua masa yang telah berlalu."

__ADS_1


Tangan Anna yang tadi masih bergantung lesu kini perlahan bergerak membalas pelukan Amar. "Maafkan aku, tidak hadir di saat itu." Anna menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Amar.


Amar menatap panjang pada satu makam yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


__ADS_2