Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
32. Video Call


__ADS_3

"Tidak usah masak! Rumahmu lantai berapa nomor berapa?" Pria yang berada di dalam layar itu keluar dari kendaraan dan memamerkan kantong bewarna putih di hadapan layar ponsel.


Anna tersentak kaget mencoba mencerna ucapan Dokter Yoga. Pria yang ada di dalam layar itu memutar tubuh. Di belakangnya tampak apartemen berdiri dengan gagah, yang tak lain adalah tempat ia tinggal bersama Amar saat ini.


"Dokter ada di bawah?"


"Iya, aku mau mengantarkan makanan untukmu. Makanya, buruan kasih tau kamu tinggal di lantai berapa nomor berapa?"


"Apa aku meminta Dokter untuk ke sini?" tanya Anna datar.


"Katakan saja lantai berapa dan nomor berapa?!" Dokter Yoga mulai merasa tidak sabar dengan sikap Anna.


"Maaf, Dok. Saya merasa sungkan jika Dokter kayak gini. Saya juga tidak enak dengan tetangga, apalagi suami saya tidak ada."


Dokter Yoga menghela napas panjang. Dia masih saja berbohong. Tapi, aku tidak mungkin mengatakan aku mengetahui dia sedang berbohong.


"Kalau begitu, saya titip kepada keamanan di sini. Kamu katakan saja lantai berapa dan nomor berapa? Biar saya sampaikan padanya."


"Tidak usah, Dok!"


"Udah, jangan keras kepala! Demi kesehatanmu dan bayi!"


Akhirnya, setelah menghela napas panjang, Anna menyampaikan juga alamat dia tinggal. Seperti yang dikatakannya, Dokter Yoga menitipkan bungkusan berisi makanan tersebut kepada security di sana.


"Makanan untukmu sudah aku titip. Aku kembali ke rumah sakit sejenak."

__ADS_1


"Jadi, Dokter belum selesai bertugas?"


"Sudah, sih. Hanya ada yang ketinggalan dan itu sangat penting." Dokter Yoga kembali masuk ke dalam mobilnya. "Dah, aku berangkat dulu."


Anna termangu merasa heran dengan tingkah Dokter Yoga. "Memangnya ada ya, pelayanan VIP di klinik sampai begininya? Pantas, Keluarga Bang Amar menjadikan klinik itu sebagai fasilitas kesehatan mereka. Ternyata, klinik itu benar-benar bagus."


Tak lama kemudian, terdengar bunyi bel dari arah pintu masuk. Anna pun bangkit menjemput makanan yang dimaksudkan oleh Dokter Yoga tadi. Ada sesak di dalam dadanya, memikirkan sikap suami yang sangat jauh berbeda.


"Terima kasih ya, Pak."


Makanan yang diberikan Dokter Yoga, porsinya cukup banyak. Anna merasa tidak enak hati menerimanya begitu saja.


"Wah ... Sepertinya aku harus mengganti semua biaya makanan ini."


Anna segera menuju ruang makan dan bersiap untuk menyantap makanan tersebut, sembari menunggu bisa memanggilnya kembali.


Di rumah sakit, Amar sedang menemani Ibu Luna di klinik karena mendapat kabar bahwa wanita yang masih dicintainya mengalami kritis. Di sampingnya, Ibu Luna, tengah menangis tersedu karena keadaan anaknya yang terus memburuk.


"Sepertinya, klinik ini tidak sanggup lagi menangani kasus Nona Luna. Mungkin akan lebih baik dia dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar dan tentu fasilitasnya lebih lengkap."


Amar menganggukkan kepala. Melihat ibu Luna terus menangis Amar mengusap punggungnya dan menenangkan wanita paruh baya itu.


Lalu, mata Amar menangkap satu sosok yang tadi dilihatnya saat mengikuti sang istri. "Dia lagi? Apa yang dilakukannya di sini?" gumamnya.


"Siapa?" tanya Ibu Luna mendengar suara pelan Amar.

__ADS_1


"Ah, enggak, Tante."


"Amar, kamu temani Tante ke rumah sakit itu ya?" pinta ibu Luna.


Amar mengangguk, tetapi wajahnya terus mengawasi pria yang tadi bersama Anna.


Dokter Yoga memasuki ruang kerjanya. Ia meninggalkan sebuah kartu penting di dalam kantong jas putih yang berada di ruang kerja. Sejenak, ia mengecek ponsel dan ada tanda panggilan tidak terjawab.


Dokter Yoga memanggil kontak itu kembali, sembari berjalan keluar dari ruangan. "Ada apa Anna, kenapa kamu menelepon? Apa makanan yang aku beri rasanya tidak enak?"


Anna yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tersedak karena pertanyaan tersebut. Ia terbatuk dan segera menenggak air putih dengan buru-buru sambil tertawa.


"Bukan ... Bukan itu. Aku hanya—"


"Ternyata, kamu sudah sangat kelaparan. Sehingga membuatmu makan dengan terburu-buru."


Dokter Yoga melihat ada brangkar yang akan lewat, membawa pasien yang akan dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Ia bergeser menepi dengan sejenak.


"Permisi, Dok." sapa perawat yang mendampingir brangkar itu. Dokter Yoga menganggukkan kepalanya, melanjutkan bicara dengan pasien VIP.


Di sisi lain brangkar tadi, seorang pria tampak menatap panjang ke arah Dokter yang sedang melakukan video call. Wajah pria tersebut terekam jelas di dalam layar ponsel Anna.


Anna tertegun melihat Amar tampak sibuk mengurus wanita sakit di klinik itu.


"Anna? Kenapa tiba-tiba kamu murung begitu?"

__ADS_1


__ADS_2