
Anna sangat terkejut mendapat perlakuan seperti ini membuat ia refleks menarik tangannya dari genggaman dokter muda ini.
"Maaf ..." ucap Dokter Yoga, memutar kunci mobil.
Anna mengusap tangannya yang tadi sempat tergenggam dalam tangan Dokter Yoga. Karena kejadian tadi, membuat suasana di antara mereka menjadi canggung.
"Ehmm ... Maaf ... Aku membuatmu tidak nyaman," ucap Dokter Yoga tanpa melirik sedikit pun fokus pada kendaraannya.
"I-iya ... aku hanya kaget."
"Kamu mau ke mana buru-buru dalam tampilan yang cantik begini? Bagaimana keadaanmu? Bukan kah aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak boleh banyak bergerak?"
Anna menggeleng kepala tersenyum tipis. "Ke mana pun, yang penting sudah tidak di tempat itu."
"Kenapa dengan apartemennya? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Kali ini Dokter Yoga melirik ibu muda yang membuatnya penasaran.
Namun, Anna pun terlihat sibuk memandangi suasana di jalanan. Entah benar-benar ada yang menarik, atau mungkin untuk sekedar menghindari Dokter Yoga.
__ADS_1
Dokter Yoga menepi pada sebuah taman kota. Anna terlihat bingung kenapa mereka berhenti. Dokter Yoga pun membuka pintu mobilnya.
"Ayoo, kita menikmati pemandangan di taman ini." Pintu penumpang bagian belakang dibuka, dan ia menarik sebuah kantong yang berisi sebuah kotak.
Meskipun ia merasa sedikit ragu, akhirnya Anna memilih untuk turut membuka pintunya juga. Satu per satu kakinya turun pada aspal tempat mobil ini diparkirkan.
Dokter Yoga telah berjalan lebih dulu secara perlahan. Ia menunggu langkah wanita yang saat ini menjadi temannya menikmati suasana di taman ini.
"Kita duduk di sini saja. Nikmati suasana taman pada cuaca sore yang cerah ini. Kamu bisa menenangkan pikiranmu!" Dokter Yoga mempersilakan Anna duduk pada bangku taman ditutupi ranting-ranting berdaun rindang.
Dokter Yoga berpindah posisi memilih duduk pada bangku kosong di samping Anna. Kini, ia tepat duduk di samping Anna. Anna masih memejamkan matanya menikmati aroma hijau yang diberikan dedaunan pada pohon yang ada di dekat mereka. Namun, Anna mulai mengerutkan kening. Aroma oksigen itu bercampur dengan aroma jerut segar, tetapi menyengat.
Anna membuka matanya ... ternyata, di sampingnya telah duduk dokter yang mengajaknya tadi. Anna seketika menghela napas panjang.
"Dokter sudah biasa menghadapi ibu-ibu hamil seperti ini ya? Tahu aja bagaimana cara menenangkan wanita hamil."
Dokter Yoga tertawa. "Ya engga dong. Nggak mungkin aku mengajak semua ibu hamil datang ke sini. Yang ada suaminya malah mengamuk dan menghaj*rku."
__ADS_1
Anna menelengkan wajah hingga kali ini mereka saling bertatapan. "Lalu aku, emangnya aku bukan ibu hamil tanpa suami? Apa kamu tidak takut dengan suamiku?"
Dokter Yoga tersenyum tenang. "Apa yang kamu cari dengan cara berbohong seperti ini? Orang-orang akan memahamimu, jika suamimu itu hanyalah khayalan belaka."
Anna menundukan kepalanya. Dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Dokter Yoga. Akan kegagalannya menikah dengan Zico, di saat ia tengah mengandung buah cinta mereka. Hal demikian benar-benar hanyalah khayalan buruk belaka. Saat menikah pun, ia menikahi pria yang mencintai wanita lain.
"Aku merasa hanya menjadi wanita yang penuh dengan kesia—."
Anna tiba-tiba merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa dirinya. Ia kembali memejamkan mata menikmati aroma wangi tanah, rumput, dan oksigen yang dibagi oleh pohon itu.
'Sepertinya, healing-ku padamu sukses dengan baik.' Dokter mengipasi Anna dengan sebuah tutup kotak yang terbuat dari kertas. Anna terlihat tenang menutup matanya.
Semua orang yang lewat di depan mereka tak bisa menyembunyikan tawa. Aksi dokter ini seolah konyol, tetapi sang wanita di sampingnya bagai terhipnotis menikmati semua.
Kedamaian Anna telah buyar. Ia membuka mata menatap tutup kotak karton yang mungkin dibawa dokter, sedang bergerak mengipasi dirinya.
"Dokter?"
__ADS_1