
Anan bangkit dari tempat tidurnya mengganti pakaian. Karena tidak ada lagi suara, Anan mengira kedua orang tuanya itu telah masuk ke dalam kamar. Anan memakai pakaian lengkap, bersiap dengan peralatan yang ia rasa sangat berguna jika dibawa.
Diam-diam, Anan berencana ingin membuka pintu kamarnya itu. Akan tetapi, ia mematung sejenak. "Kalau lewat pintu depan, nanti ada yang lihat."
Anan berjalan berjinjit menuju jendela kamarnya. Kunci kunci yang ada di jendela itu ia tarik dan Anan melirik.ke arah kiri dan kanan memastikan para security sedang tidak berkeliling untuk berjaga.
Anan pun bergerak perlahan supaya tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Anan berjinjit berjalan sepelan mungkin dan melirik sisi kiri dan kanan kembali.
Saat ini ia telah berada di depan pagar rumah ini yang kokoh berdiri cukup tinggi. "Anan mau cari Om tadi, jika dia memang papaku, aku harus tinggal bersamanya." Anan melirik ke arah rumah yang sangat luas itu.
"Papa Amar bukan lah Papa Anan."
Perlahan Anan mulai memanjat pagar itu dengan sangat hati-hati. Security yang bertugas tengah lelap dalam tidurnya karena rasa lelah berjaga. Hingga mereka tak menyadari, ada bagian CCTV yang menyorot prosea Anan melompat, tetapi tak terlihat oleh mata mereka.
"Hap!" Anan telah berhasil melompat keluar dari pagar.
Suara gonggongan anjing pun mengiringi setiap langkah Anan. Akan tetapi, bocah itu tak merasa takut sama sekali. Ia terus menelusuri jalan meskipun tak tahu arah.
"Apa Anan ke sekolah aja? Om itu kan tahu, Anan sekolah di mana. Tapi, kalau dari sini, sekolaha Anan kan jauh." Anan menggaruk rambutnya bingung.
__ADS_1
Tiba-tiba, ada seseorang bersepeda motor lewat. Anan melambaikan tangan dan meminta pengemudi motor itu berhenti. Pria berkumis itu menyeringai ketika melihat anak kecil berkeliaran tengah malam.
"Pak, Pak, boleh minta tolong antarkan Anan ke sekolah Anan?" tanyanya dengan polos.
Mata pria berkumis itu menajam dan ia memperhatikan dengan seksama bocah yang ada di hadapannya ini dari atas hingga ke bawah. "Oh, tentu! Mau ke mana, Dik?"
"Ke sekolah."
"Bukannya sekolah belum buka?"
"Tapi Anan mau menunggu papa di sana."
Dengan semangat, Anan menaiki kendaraan itu berbonceng pada posisi belakang. Pria itu segera melaju dan mengira Anan hanya anak bodoh yang tidak tahu jalan. Namun, Anan mengernyitkan dahinya.
"Pak, jalan ke sekolah Anan di sana, bukan ke sini!"
Pria itu tak bergeming melaju semakin kencang. Anan yang mengerti situasi yang ia alami tidak sesuai harapan, segera menginjak kaki kanan pria tadi sehingga motor itu bergerak semakin pelan.
"Apa yang kau lakukan bocah t0lol?"
__ADS_1
Anan memastikan kendaraan semakin pelan dan ia melompat terguling di atas aspal. "Aaagghh!" Tubuhnya sungguh terasa sakit dan lecet di beberapa bagian. Namun, Anan segera bangkit dan berlari menuju arah sekolahnya.
Sementara itu, pria berkumis tadi memutar kendaraannya mengejar Anan. Anan menyadari perilaku aneh pria tadi berlari sekencang mungkin meskipun kakinya terasa cukup sakit dan terpincang. Kebetulan sekali ia menemukan sebuah balok yang ada di pinggir trotoar.
Balok itu dipungutnya dan ia segera melemparnya ke arah roda motor yang melaju kencang semakin mendekat.
Braaak
Motor itu oleng dan Anan tidak memedulikannya. Ia terus berlari dan berlari.
*
*
*
Pagi pun datang, Anna tersentak dan ia menyadari tubuhnya cukup kedinginan karena tidur dalam keadaan bersandar dalam dekapan Amar.
Ia melirik pintu, masih dalam keadaan tertutup.
__ADS_1