
"Ada Bibi yang memang bertugas untuk itu." Anna menarik tas kerja miliknya dan tersenyum tanpa d0sa menunggu suami yang termangu mendengar jawaban darinya.
"Tapi, aku ingin kamu menemani mereka juga. Nanti, aku akan berusaha pulang secepatnya sekaligus menjemput Anan."
Raut wajahnya yang tadi ceria, kini berubah menegang. "Aku? Apa kamu lupa dengan kejadian bagaimana kedua orang tuamu memperlakukan aku? Jangan deh. Lebih baik aku ke salon aja memantau pekerjaan mereka." Napas Anna terdengar sedikit memburu. Ia memilih berjalan mendahului sang suami keluar kamar tanpa menunggu lagi.
"Loh? Kamu mau ke mana?" Anna langsung disambut dengan cecaran wanita yang membuatnya memilih untuk menghindar. Sang ibu mertua tengah mengolesi beberapa keping roti yang ada di hadapannya dengan toping berbagai rasa.
Anan belum terlihat, sepertinya Anan masih belum selesai menyiapkan diri untuk ke sekolah.
"Aku mau pergi kerja, Ma." Anna pura-pura membuka tas nya, hingga membuat ia tidak menoleh sama sekali pada ibu suaminya itu.
"Bukannya, kamu lagi hamil muda? Kenapa tidak beristirahat di rumah saja?" tanya sang mertua.
"Iya, hamil kan tidak akan menghambat aktivitas kita kok, Ma." Anna memilih menuju ke arah kamar Anan.
__ADS_1
"Nan, kamu udah siap belum? Ayo sarapan sama-sama." Anna melirik sejenak pada mertua yang menatap panjang ke arahnya. Ia sengaja menghindar karena takut merasa canggung jika hanya berduaan dengan ibu dari suaminya ini.
Anan buru-buru memasukan peralatan sekolah ke dalam tas. "Iya, Ma. Anan nyiapin buku sesuai jadwal hari ini."
Anna kembali melirik sang mertua. Ternyata, ia tak memutuskan tatapannya memgawasi Anna membuat ia membuang muka pura-pura sibuk dengan Anan. Setelah selesai menyusun peralatan sekolah, Anna merebut tas milik anaknya.
"Sini, biar Mama yang bawa."
Anan merebutnya kembali. "Jangan, Anan bisa sendiri."
"Aah, Oma udah bangun?" Anan mendekat pada wanita itu.
Wanita yang dipanggil dengan sebutan Nenek itu menyambut kehadiran Anan. "Waaah, anak ganteng udah bersiap untuk ke sekolah yah?"
Anan mengangguk. "Anan kan harus sekolah, Oma. Oma jangan sedih ya? Saat pulang sekolah nanti, Anan akan langsung pulang buat main sama Oma."
__ADS_1
Wanita tua berambut putih itu terkekeh mengusap rambut Anan. "Iya, kamu harus rajin belajar ya? Biar pinter dan bisa menjadi orang yang hebat." Wanita itu menarik kursi yang ada di dekatnya dan meminta Anan untuk duduk di sana.
Anan melirik sang ibu yang sedari tadi menjadi penonton keakraban mereka. "Ma, duduk di sini yuuk?" Anan menepuk pelan kursi yang ada di sebelahnya.
"Mama di sini aja. Mama mau menyiapkan sarapan untuk papamu." Anna mengolehkan selai kacang kesukaan Amar, sebagai toping pilihan yang sudah dihapal oleh Anna.
"Dih, Anan? Lihat omamu ini? Saking sayangnya padamu, Opa ditinggal begitu saja olehnya," adu pria tua yang baru keluar dari kamarnya.
Anan turun dari bangkunya mengejar sang Opa yang merajuk. Ia segera menggenggam tangan Opa dan mengiringi langkahnya. "Nah, ayo Opa. Duduk di samping Oma."
Amar pun keluar dari kamar. Ia segera duduk pada bangku yang biasa ia tempati dan menarik sendiri roti yang belum diberi toping.
"Bang, ini sudah aku siapkan yang ada selai kesukaanmu."
Amar tidak mengubris dan memilih memakan roti tawar tanpa apa-apa sembari menyeruput kopi.
__ADS_1
"Anna, kamu baru melakukan kesalahan terhadap suamimu? Tapi, kamu ini istri yang sungguh tidak peka ternyata."