Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 31—Perubahan Hormonal


__ADS_3

Amar menyadari sang ibu mulai menggali-gali masalah yang terjadi di antara mereka. Ia segera merangkul Anna memasang senyuman menatap ibunda.


"Mama bilang apa sih? Kami berdua baik-baik saja tanpa masalah."


Anna melirik suaminya sejenak. "Ah iya, Ma. Kami baik-baik saja."


Drrtt


Drrrtt


Semua mata menatap arah ponsel yang bergetar. Itu adalah milik ayah Amar yang sedari tadi asik memperhatikan keributan yang terjadi di rumah ini.


"Ah, ini telepon dari Sam, di Amerika." Ia bangkit dan menuju tempat yang lebih tenang untuk menjawab panggilan tersebut.


Anna melirik suaminya yang mungkin memang sedang marah karena obrolannya tadi tentang orang tuanya. Lalu, Anna berusaha memasang senyuman di bibir menggenggam tangan Amar. Akan tetapi, Amar hanya menanggapi dengan dingin kembali menyuapi roti tawar tanpa toping tadi. Anna tersenyum kecut dan menyadari ibu mertuanya diam-diam memperhatikan mereka.


"Amar, kalian sedang bermain drama?"


Amar menyeruput kopi dan menyeka bekas kopi tadi. Ia mengecup kening Anna dan bangkit menarik tas kerja. "Kami baik-baik saja."


Anan yang menyadari sang papa sudah berdiri, ia pub menyelesaikan sarapannya. Anan menyalami tangam Oma dan sang ibu yang masih duduk sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Kami berangkat—"


"Tunggu!" cegat pria tua yang baru saja menyelesaikan panggilan. "Sepertinya Papa akan membawa mamamu pergi kembali."


Wajah sang istri mengerut mendengar ucapan suaminya. "Jadi, Sam memanggilmu untuk bekerja lagi? Secepat itu?"


"Ya begitu lah. Mereka kebingungan saat kita tak berada di tempat." Pria tua itu melirik Anan.


"Cepat lah besar, Boy! Biar kamu saja yang menggantikan Opa. Opa mau beristirahat saja di rumah menikmati hari tua."


Anan melirik Amar yang terlihat menggelengkan kepalanya. "Kenapa buka Papa saja Opa? Papa kan udah besar."

__ADS_1


"Opa dan Oma sudah meminta papamu itu sedari dulu. Namun, dia selalu saja memiliki alasan yang intinya tidak mau mengikuti permintaan kami. Oleh karena itu, kamu harus cepat besar. Biar semuanya bisa diteruskan kepadamu."


Amar menghela napas panjang. "Dia masih terlalu kecil, Pa. Biarkan ia memilih sendiri jalan masa depannya nanti."


Pria tua tadi kembali ke meja makan. "Sayang, ayo habiskan sarapanmu. Pemerbangan kita tinggal satu jam kemudian."


"Apa? Kenapa buru-buru begini sih?"


*


*


*


Pada malam hari, suasana rumah tanpa ibu Amar terasa tenang kembali.


"Bang, apa kamu marah karena aku tidak bisa menemani orang tuamu?"


Anna menundukan wajah. "Maafkan aku. Hanya saja aku—"


"Aku tahu Mamaku orangnya emang sedikit diktator. Tapi, aku tahu sebenarnya mamaku sudah menyanyangimu. Buktinya, dia tak henti memperhatikan kamu? Hal itu tak lain menandakan mama menyayangimu."


Hati Anna bergejolak menolak logika yang diberikan Amar tadi. Dia lebih memilih diam dan merebahkan diri di atas ranjang. Amar yang merasa tak dianggap pun memunggungi Anna sedikit kesal.


*


*


*


Keesokan hari, Sugiono dan Renata, dan Bagas mengunjungi rumah mereka sesaat semua orang di rumah ini akan berangkat menuju aktivitas masing-masing.


"Jangan pergi? Lalu sia-sia dong kami ke sini?" gumam sang ibu.

__ADS_1


Anna dan Amar tampak kaku, tak seperti terakhir yang mereka lihat. Renata mulai menebak ada masalah di antara mereka.


"Maaf, Mi. Bagaimana kalau hari ini Mami, Papi, dan Bagas menemaniku di salon saja?"


"Kenapa harus di salon? Bukan kah lebih nyaman jika kita bicara di sini?" ucap Renata lagi.


"Om ... Om ... Masih punya mainan buat Anan?" tanya Anan menarik-narik tangan Bagas manja.


"Iya, nanti Om carikan di rumah ya? Pulang sekolah kamu jam berapa? Nanti Om yang jemput dan main ke rumah. Kakek dan Nenekmu kesepian butuh suara cucu mereka biar lebih meriah lagi."


Anan melirik Anna, "Ma? Boleh ya?" pintanya. Anna langsung mengangguk.


"Ekhem ...." Amar berdehem membuat suasana tiba-tiba menjadi canggung.


"Coba tanya sama papamu?" ucap Anna lagi.


Anan melirik Amar. Raut wajah papanya itu terlihat sedikit gusar. "Papa, boleh ya Anan ke rumah kakek dan nenek?"


"Nanti papa yang jemput dan mengantarmu ke sana." Amar melambaikan tangan memanggil Anan untuk mendekat. Bocah berseragam putih merah itu mengangguk mendekat.


"Ayo, pamit dulu pada semua. Kita akan berangkat," titah Amar.


"Mama, Kakek, Nenek, dan Om Bagas, Anan berangkat sekolah dulu." Ia melambaokan tangan dengam wajah cerianya dibalas dengan lambaian tangan kembali.


Setelah mereka menjauh, Renata menarik Anna untuk berbicara. "Apa yang terjadi dengan kalian? Kalian sedang bertengkar?"


Anna kembali menundukan kepala. "Aku juga tidak tahu, Mi. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif. Padahal, biasanya dia tidak begitu."


"Kamu lagi hamil?" tebak sang ibu.


"Dari mana Mami tahu? Aku kan belum mengatakan apa-apa?"


Lalu sang ibu terkekeh dan menggelengkan kepala. "Sepertinya, dia yang mengalami perubahan hormonal di saat kehamilanmu ini. Harusnya, kamu yang lebih sensitif. Tapi, ini kasus terbalik, dia yang berubah."

__ADS_1


__ADS_2