
"Jadi tadi itu Dokter yang ngipas? Bukan asli angin yang sepoi-sepoinya?"
Dokter Yoga menahan tawanya saat melihat wanita di sampingnya ini telah sadar. "Tadi angin beneran kok, hanya anginnya udah selesai ... Aku menyambung memperoanjang anginnya aja." Lalu ia beralih mengipasi dirinya sendiri.
"Oh ya, aku tadi tu mau titip ini ke security yang kemarin itu biar dikirim ke rumah kamu. Eeh, orangnya nongol ... Ya udah, makan di sini sekalian." Dokter Yoga menyerahkan kota yang ia bawa tadi, yang ternyata berisi nasi bakar beserta ayam rica-rica.
Mencium aroma nasi bakar dan ayam rica-rica singgah di hidungnya, membuat Anna sangat ingin menikmatinya. Anna melirik kembali pada Dokter Yoga itu, nasi bakar ini hanya satu porsi.
"Buat Dokter aja. Cuma satu porsi kan?" Anna mendorong nasi bakar dalam kotak itu kembali ke Dokter Yoga.
"Aku sudah makan kok. Kamu tahu? Aku jadi terharu kamu jadi perhatian begini. Atau, sebenarnya kamu minta untuk disuapkan?" Dokter Yoga menarik box berisi makanan untuk Anna.
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, lalu memamerkannya kepada Anna. "Kamu jangan khawatir, aku selalu menjaga kebersihan kok." Ia membuka tutup jeli sanitizer itu lalu menyuruh Anna untuk membuka kedua telapak tangannya juga.
Mereka berdua mengusap kedua tangan dan Anna sedikit melirik Dokter Yoga, tersenyum. Kali ini dia merasa sangat terharu. "Terima kasih." Anna menarik kotak berisi makanan itu.
"Lho? Nggak jadi disuapin olehku?"
__ADS_1
Anna menggeleng langsung memasukan makanan yang unik ni ke dalam perutnya.
*
*
*
"Jika hingga minggu depan tatto-tatto itu belum kamu hapus, jangan salahkan Nenek nanti meminta orang lain untuk menghapusnya dengan paksa."
Amar yang sudah puas dicubit oleh sang Nenek, memeluk diri sendiri karena rasa perih yang ditinggalkan hampir di sepanjang tubuh bagian tengahnya itu.
"Kamu mau tahu alasan Anna pergi menjauh darimu?"
Amar kembali tersentak oleh ucapan Nenek. "Sudah, Nek. Aku tidak akan menghalangi kepergiannya. Setidaknya, dia tak lagi sibuk memikirkan mantannya si Zico itu."
"Oh, jadi kamu sudah merasa memiliki jasa yang besar terhadapnya?"
__ADS_1
Amar menundukan kepalanya lagi, tidak berani membantah ucapan Nenek.
"Lalu setelah ini bagaimana? Kalian memang benar-benar akan mengakhiri semua?"
Amar mulai tidak fokus dengan pertanyaan Nenek. Sebelum ini dia masih yakin akan mengakhiri semuanya. Namun, tadi ... Anna benar-benar berbeda dibanding biasanya.
"Kenapa kamu diam saja? Jadi kamu akan langsung menyerahkan Anna kepada orang tuanya?"
"Sudah, Nek. Jika nenek terus berbicara, aku tidak tahu harus bagaimana dengan Anna setelah ini." sela Amar cepat.
"Jadi, sampai kapan kamu akan berpikir? Sampai Anna melahirkan sendirian, dengan cecaran semua orang. Kamu pikir, Anna masih mau kembali padamu, setelah semua perlakuan yang kamu berikan?"
Nenek memutar tubuh menahan dadanya yang berdegup sangat kencang, karena ulah sang cucu. "Kalau kamu benar-benar yakin menceraikannya, baik lah. Tapi, ada satu hal yang membuat Nenek sanksi. Pengadilan mungkin tidak akan memproses perceraian kalian, jika tahu Anna hamil. Mereka akan menyangka Anna mengandung anakmu.
"Bagus lah ..." ucap Amar dengan tangan tergenggam.
...****************...
__ADS_1
Author lagi perjalanan panjang, jadi mungkin akan tersendat updatenya nanti. Sambil menunggu udah bisa update, kakak-kakak baca dulu ya, karya baruku yang baru menetas tanggal 2 Februari ini.