
Amar membuka pintu lemari itu dengan lebar. Buru-buru tanpa sempat membersihkan dia ia segera keluar dari apartemennya.
Ia turun ke lantai dasar berharap masih bisa bertemu dengan Anna. Namun, kenyataannya, tak seperti yang ia harapkan. Jangankan Anna, bayangan istrinya itu tak terlihat sama sekali. Ke mana ia harus mencari Anna?
*
*
*
Pada sebuah kafe, di mana Nenek dan Anna sedang berbicara, suasana sunyi pun terasa mendera hati Anna di antara bimbang dan teguh dengan rencana hatinya.
"Pokoknya kamu tidak boleh bercerai! Sekarang kamu tenangkan diri terlebih dahulu. Tinggal lah bersama Nenek."
Anna memandang Nenek beberapa waktu, lalu ia menggelengkan kepala. "Aku akan mencari tempat sendiri, Nek. Jangan khawatir."
Nenek menatap Anna dengan bersahaja. Beliau mengusap lembut tangan Anna dan tersenyum. "Kamu adalah tanggung jawab Nenek. Karena Nenek lah kamu menikah dengan Amar."
"Tapi Nek, aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Jika aku tinggal bersama Nenek, aku masih akan bertemu dengannya."
Nenek kembali tersenyum. Beliau mengerti dan menyadari isi hati Anna. "Nenek berjanji tidak akan mengatakan keberadaanmu. Ini akan menjadi rahasia kita."
Anna menegakkan pandangannya kembali. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia tersenyum dan menganggukkan kepala.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan hari, Amar dipanggil oleh Ibu Luna untuk menemaninya mengurus Luna di rumah sakit. Hatinya mulai mendua, sang istri tak bisa dihubungi dan benar-benar tak kembali.
Namun, kali ini akhirnya ia memilih untuk mengalah. Hadir untuk Luna, dan ia mendapat kejutan kondisi Luna terlihat mulai membaik.
"Kenapa kamu berada di sini?" tanya Luna dengan wajah datar.
"Ah, Mama yang meminta dia menemani Mama. Kamu jangan marah-marah begitu dong? Harusnya kamu seneng, dia mau menemanimu." ucap Ibu Luna.
Luna bergantian menatap sang ibu dan laki-laki yang baru saja hadir. "Apa dia tidak mengatakan bagaimana statusnya saat ini?"
Ibu Luna pun terlihat heran. "Apa maksudmu? Kamu tahu, beberapa hari terakhir di saat kamu tidak sadarkan diri, dia selalu menemani Mama dalam mengurusmu. Bahkan, dia tidak pulang ke rumahnya demi menunggumu sadar kembali."
Luna menatap cincin yang ada di jemari Amar. Cincin pernikahan antara wanita yang ia temui di klinik malam itu. Tadinya ia memang sangat marah dan cemburu, tetapi ... akhirnya ia memilih untuk sadar diri dan pergi. Karena umur tak merestui mereka untuk berjodoh.
"Apa alasanmu masih di sini? Bukan kah seharusnya kamu bersama istrimu. Dia pasti akan sangat kecewa jika kamu terus menghilang!?"
Ibu Luna tersentak dengan pertanyaan yang diberikan oleh sang anak kepada lelaki yang ia ketahui sebagia pria yang dicintai anaknya. "Apa maksudnya Luna? Bukankah, Amar ni pacarmu kan?"
Luna menatap sang ibu dan menggelengkan kepalanya. "Dia sudah menikah, Ma. Mama jangan terus membebani dia."
Mulut Ibu Luna menutup tidak percaya. "A-apa maksudmu Luna? Bahkan dia menemani Mama seharian hingga pagi menjelang."
__ADS_1
"Ma, tolong berhenti memintanya untuk hadir menemuiku di sini. Aku ini akan ...." Luna tidak sanggup melanjutkan semua ucapannya. Sesungguhnya, ia belum ingin. Akan tetapi, tubuhnya benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan.
"Kamu jangan begini! Bahagia kan lah dia sebelum kamu menyesal dan semua lepas begitu saja!" Ia menatap kembali Amar dengan wajah dingin.
"Luna, mungkin kamu salah paham. Aku memastikan hubungan kami tidak akan lama. Aku tahu kamu kecewa. Tapi, aku dengannya sama-sama tidak memiliki rasa. Jadi, kamu jangan mengkhawatirkan itu." ucap Amar menenangkan Luna.
"PERGI!" Suara Luna lebih tinggi dah tak lama kemudian Luna mengernyit memegangi dadanya.
"Luna? Luna?"
*
*
*
Keesokan hari, seorang pria berdiri di depan pusara yang sedang ditangisi oleh wanita paruh baya. Pria itu tertunduk semakin merasa bersalah.
Namun, ponselnya bergetar. Panggilan dari orang tua Anna sedang menunggu untuk dijawab. Amar yang tenggelam dalam kesedihan, tidak bisa merasakana panggilan tersebut.
...****************...
Hayuuu mampir yukk.. Karya sahabat Author kece pakai banget.
__ADS_1
Nama pena: Liana kiezia
Judul: Dijodohkan dengan Playboy Karatan