Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
73. Maafkan Aku, Anna


__ADS_3

"Mas? Kenapa ada di sini?" Anna memasang wajah herannya. Ia gelagapan melepas genggaman tangan Amar, berjalan mendekat pada pria yang ia tahu brprofesi sebagai dokter tersebut.


Amar memandang dengan wajah heran. Ia menatap Anna yang berjalan mendekati pria itu. Anan menyadari perubahan raut wajah Amar dan menggenggam tangannya.


"Papa jangan sedih, di sini ada Anan. Papa nggak sendirian, kok."


Amar memandang bocah yang mengira dirinya lah sang ayah kandung. Ia berjongkok memegang kedua pundah Anan. "Terima kasih. Terima kasih kamu sudah menemani Papa."


Anan tersenyum sumringah. "Pa, apa Anan boleh memeluk Papa?"


Amar tercenung beberapa saat lalu tersenyum. Ia memeluk Anan terlebih dahulu. "Maaf ... maafkan Papa ... maafkan sikap Papa yang selama ini membuat kalian berdua menderita. Maafkan waktu yang telah hilang selama ini." Amar mengusap kepala bagian belakang Anan.


Bocah itu melongo dan akhirnya membalas pelukan Amar. Ia mengangguk. "Anan senang kita telah berkumpul kembali."


Di balik itu, ia melihat perbincangan serius antara ibunya dan Om Dokter. "Tapi, Anan nggak suka jika Om Dokter terus memegang tangan Mama. Meskipun ia selalu baik, tapi Anan ga suka Om Dokter dekat-dekat sama Mama."

__ADS_1


"Tapi, kalau Papa yang memegang tangan Mama, Anan suka. Anan tahu, Mama pasti juga senang kalau Papa berkumpul bersama kami."


Sementara itu, Dokter Yoga menatap Anna dengan menuh makna. Ada sesuatu yang mengganjal baginya ketika melihat kedekatan antara dua orang itu.


"Sepertinya, dia telah mengusik hatimu kembali. Apakah kamu lebih memilihnya dibanding aku?"


"Aah, Mas ... aku rasa, pembicaraan ini tidak bisa dilakukan di tempat ini. Apa kata orang, aku dekat dengan pria lain, sementara suamiku berada di sisiku. Aku rasa, kita harus cari waktu untuk berbicara setelah semua jelas."


Dokter Yoga melirik orang-orang sekitar yang menatap panjang kepada mereka. Dokter Yoga mengangguk dan menghela napas panjangnya.


"Baik lah ... kapan kita bicaranya?"


Tangannya ingin mengusap lembut kepala Anna, tetapi Anna telah beranjak menjemput Anan yang terlihat dipeluk oleh pria yang ia tahu adalah suami Anna.


Tangan Dokter Yoga yang masih mengambang kaku di antara udara yang tak berbentuk. Tangan itu akhirnya tergenggam dan ia berpaling memutar badan menuju kendaraan yang terpakir tak terlalu jauh dari tempatnya bersdiri.

__ADS_1


Setelah duduk di bangku pengemudi, Dokter Yoga memandangi bocah yang terlihat sangat bahagia berada di antara mereka berdua. Sungguh sangat berbeda ketika pertama kali melihat Anan dulu.


'Dia pasti sangat bahagia setelah bertemu dengan ayahnya. Bagaimana dengan Anna? Apakah dia bahagia? Apakah dia masih mencintainya?'


Dokter Yoga melaju diiringi tatapan panjang Anna dan Amar. Anna merasa bingung menghela napas panjang memejamkan mata. Amar menyadari ada yang aneh pada wanita yang menjadi istrinya itu. Ia bangkit dan mengusap kepala Anan.


"Sepertinya, kalian memiliki kedekatan khusus."


Anna membuang muka. "Jangan usik aku! Urus saja urusanmu!"


"Ma, jangan marah-marah terus sama Papa. Anan sayang juga sama Papa."


Anna menatap dingin padanya. Bibirnya seakan ingin berteriak kepada putra itu bahwa Amar bukan lah ayahnya. Dalam diamnya, Anna menatap dingin Amar.


"Apakah hatimu tidak lagi tetap untukku?"

__ADS_1


Anna tersenyum sinis membuang mukanya membelakangi Amar. "Kenapa kamu menanyakan hatiku? Lalu selama ini aku ini bagaimana? Kenapa sedari dulu tak pernah kau tanyakan?"


Tanpa ia sadari, Amar memeluk tubuhnya dari belakang. "Aku tahu aku salah. Aku telah mengabaikanmu di masa beratmu dan malah memilih dia dibanding kamu yang juga membutuhkanku."


__ADS_2