Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
70. Mengejar Cinta Istri


__ADS_3

"Ah, cerai?" Anna tergugu mengulang kata tersebut.


"Bukan kah dia tidak pernah menafkahi kalian berdua selama bertahun-tahun? Dia hanya membuatmu menangis. Bahkan, di saat kamu hamil pun, dia memilih untuk menemani yang lain." Dokter Yoga mengulang kembali kenangan buruk itu.


Anna melepaskan genggaman tangan Dokter Yoga, menangkupkan kedua tangan itu pada wajahnya. Ia menggelengkan kepala terisak mengingat masa menyakitkan itu. "Jangan ulangi lagi, aku sudah tahu semuanya, Mas."


Dokter Yoga menatap panjang pada Anna. Beberapa waktu suasana di antara mereka, terasa hening. "Baik lah, sepertinya aku datang pada waktu yang tidak tepat."


Anna mengusap wajahnya. Rona merah pada hidung dan mata, tak perlu membuat Dokter Yoga bertanya mengenai apa yang dirasakannya. Dokter Yoga mengusap sisa bulir bening yang masih membekas pada pipi Anna.


"Aku pulang. Berikan aku kabar jika perasaanmu telah membaik." Dokter Yoga bangkit dan beranjak menjauh.


Anna menatap punggung yang terus menghilang menuruni tangga. Ia memejamkan mata, merana sendiri mengingat masa-masa yang telah berusaha dilupakannya selama pergi menjauh.


*


*


*

__ADS_1


Keesokan siang hari, Amar memastikan dirinya terlihat tampan dan rapi. Dengan penuh semangat, ia meninggalkan ruang kerjanya membuat semua karyawan yang bekerja di bawah pimpinannya terheran.


"Pak Boss kenapa, Pak Darma? Sejak tadi pagi dia terlihat sangat ceria. Tidak seperti biasa, selalu murung dan tidak pernah keluar dari ruangannya saat berada di kantor. Hari ini, Pak Boss malah memesankan nasi kotak untuk kita semua." tanya salah satu editor in house yang bekerja di sana.


Darma tersenyum. "Mungkin sebentar lagi Pak Amar akan memberikan berita bagus kepada kita semua. Tolong doakan saja, agar beliau bisa mendapatkan apa yang ia cari selama ini."


Semua anggota yang berada di sana menganggukan kepala. Lalu menikmati santapan gratis yang tiba-tiba dikirimkan untuk makan siang hari ini.


Sementara itu, pada salon yang dirintis oleh Anna, ia terlihat gusar dan kebingungan. Sudah berkali-kali Anna memandang pintu masuk dan jam secara bergantian. Semenjak tadi, tak satu pun pelanggan yang datang ke salon yang ia rintis ini.


"Ibu sabar ya? Mungkin saja memang belum ada yang membutuhkan kita. Bagaimana kalau Ibu menjemput Anan? Oh ya, bagaimana dengan lomba wushu itu, Bu? Apa Anda mengizinkannya ke ibu kota?"


"Jika dia diberikan kesempatan, bukan kah ini sebagai bukti bahwa Anan memiliki bakat? Seharusnya Ibu bangga karena Anan telah berprestasi meskipun usianya masih sangat dini." ucap Lasmi lagi.


Anna masih menggelengkan kepalanya. "Jangan! Dia masih terlalu kecil. Lagian, kamu lihat sendiri kan? Aku sibuk mengurus salon, dan aku tak ada waktu mengantarkannya pergi ke sana." Anna melirik jam pada tangannya.


Memang benar seperti apa yang dikatakan Lasmi. Suasana sepi seperti ini, mungkin bisa menjadi kesempatan baginya untuk keluar sekedar menjemput Anan di sekolah.


"Aku ke sekolah Anan dulu." Anna mengambil kunci motornya.

__ADS_1


"Lebih baik jalan kaki, Bu! Biar lama berjalan berdua dengan Anan. Dia pasti seneng."


"Aaa, gitu ya? Anna menaruh kembali kunci motornya, dan segera menyusuri trotoar.


Sepanjang perjalanan, Anna merasa aneh pada tatapan orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa orang yang mengenalnya, tampak berbisik ketika berpas-pasan dengannya. Anna yang merasa canggung, menyemburkan senyum kikuk dan mempercepat langkah.


Anna sampai di sekolah, di saat bel pulang belum berbunyi. Banyak kaum ibu yang saling berbisik melirik Anna. Anna pun menjadi bingung dibuatnya. Ingin mendekat, tetapi tatapan mereka tidak bersahabat.


Tak lama kemudian, sebuah kendaraan mewah berhenti di pinggir jalan. Pada bagian bangku belakang kemudi, telah terdapat satu buket mawar bewarna merah. Ia berencana menyerahkan bunga itu saat mengantarkan Anan langsung ke tangan Anna.


Namun, hal tak terduga malah didapatkannya. Orang yang ingin ditemui malah berada di depan sekolah Anan. Namun, wajah Anna terlihat murung dan sedih.


Amar menarik satu buket mawar merah itu. "Bantu aku ya? Bantu aku untuk mendapatkan cinta istriku!"


Amar keluar dari kendaraannya membawa satu buket bunga, disambut dengan tatapan kagum kaum ibu yang menunggu kepulangan anak.


Namun, tatapan kagum tadi, terlihat mulai mengerut saat Amar mendekat pada Anna, yang sedang hangat jadi bahan perbincangan. Amar menyerahkan buket mawar merah indah itu langsung ke hadapan Anna.


Anna mematung, melihat tangan yang menyerahkan tanaman cantik itu.

__ADS_1


__ADS_2