Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
12. Maafkan aku


__ADS_3

Amar terpaku mendengarkan alasan yang tidak diketahuinya selama ini. Ia diam seribu bahasa, dan kepalanya turun melirik seseorang yang terbaring di atas brangkar.


"Kenapa diam? Kamu terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan?" Liani masih tidak berhenti dengan apa yang ia katakan.


"Ada apa ini?" Nenek menerobos dari luar.


"Kenapa semuanya mematung seperti ini?" Nenek memandangi seorang wanita muda yang memakai jas putih.


"Kenapa Anna belum juga diperiksa?" tanya Nenek yang menyadari Amar dan Anna hanya terdiam mematung.


Amar melepaskan genggamannya pada handle kursi roda, memilih beranjak tanpa suara. Suasana seketika menjadi hening disambut oleh tanda tanya besar dalam kepala Nenek.


Anna menyadari perubahan sikap Amar. Ia pun hanya sekedar menyimpulkan apa yang mungkin Amar pikirkan saat ini. 'Bang Amar pasti menyalahkanku.'


Nenek melihat punggung cucunya yang terus menjauh, bergantian pada Anna yang diam dalam ringisannya. "Kamu jangan khawatir Anna, biar kan Nenek yang menemani pemeriksaanmu."


Dokter Liani tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terpaksa menuruti perintah wanita tua yang menemani mereka. Liani melanjutkan pemeriksaan kondisi kandungan Anna.


"Pertumbuhan bayi yang ada di dalam rahim Anna telah sesuai dengan waktunya." ucap Liani.

__ADS_1


"Jadi, dia baik-baik saja?" lirih Anna. Raut wajahnya terlihat curiga.


Liani menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu mengharapkan sesuatu buruk terjadi kepada bayi yang ada di dalam rahimmu?" tanya Liani memasang muka masam.


Netra Anna hanya menengadah menatap langit-langit ruangan tersebut tanpa satu patah kata pun. Dalam benaknya teringat kembali rayuan-rayuan yang dilontarkan Zico untuk mendapatkan dirinya, hingga ia memutuskan berani mengandung anak pria tak bertanggung jawab itu.


Anna memutar kepala menatap monitor yang memperlihatkan sesuatu yang belum berbentuk. 'Maafkan aku ... Aku selalu menginginkan kematianmu. Maafkan aku,' tangisnya di dalam hati.


"Kenapa kamu menangis, Anna? Apa kamu memikirkan Amar yang tiba-tiba pergi meninggalkanmu? Kamu jangan takut, Nenek masih di sini menemanimu." Nenek Andari menggenggam tangan Anna.


Anna menangis sejadinya. Ia menyesali semua kebodohan yang masih mudah terjatuh pada kata-kata manis yang dikeluarkan oleh Zico. Tiba-tiba, ia merasakan sakit kembali pada bagian rahimnya. Wajahnya mengernyit dan ringisan di mulutnya tidak bisa diabaikan.


"Dokter, kenapa dengan Anna?" teriak Nenek kembali memanggil Liani yang telah menjauh saat aksi mengharukan tadi.


Ia bergerak cepat dibantu oleh beberapa perawat memeriksa keadaan Anna yang terus kesakitan.


"Sebaiknya Nenek menunggu di luar," pinta perawat.


Nenek Andari setuju dan memilih menunggu di luar. Tak ada satu pun yang ia lihat di sepanjang koridor. Nenek pun membuka ponsel mencari satu nama yang biasa dihubunginya. Akan tetapi, panggilan wanita dengan kerutan yang telah memenuhi wajahnya itu, tak kunjung dijawab oleh orang yang dituju.

__ADS_1


"Kamu ke mana?"


Pada sebuah tempat, dikelilingi oleh bunga-bunga, Amar terduduk merenung pada sebuah bangku di taman rumah sakit. Kedua tangannya mengepal menutupi mulut dan ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Luna, ternyata itu alasan yang kamu sembunyikan selama ini? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepadaku?"


Amar mengeluarkan ponsel yang terus saja bergetar. Pada layar pipih itu, terlihat nama kontak 'First Love.' Nama kontak yang ia berikan kepada wanita yang menyayangi dirinya semenjak lahir, melebihi kasih sayang sang ibu.


"Maafkan aku, Nek. Aku ingin menyendiri untuk sejenak."


Dalam ingatannya terus tergambar kolase bayangan indah saat bersama dengan Luna, wanita yang dicintainya. Setelah panggilan Nenek terhenti, Amar membuka kontak dengan nama 'My Love' yang sengaja ia berikan kepada Luna.


Setelah menekan tombol hijau, Amar menempelkan ponsel pipih itu di telinganya. Namun, tidak terdengar satu tanda panggilan masuk. Ia mencoba sekali lagi, tetapi tak kunjung nyambung juga.


"Apa kamu memblokir panggilanku?" Amar mengusap kepalanya, merasa putus asa. "Maafkan aku, maafkan aku yang tidak menunggu jawaban yang pasti darimu."


Pada suatu ruangan, terlihat seorang yang terlelap dengan peralatan yang memenuhi tubuhnya. Di sisi brangkar, terlihat monitor menggambarkan grafik naik turun keadaan jantung seseorang.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2