Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 24


__ADS_3

Anan melongo mendapat pertanyaan seperti itu. Ia melirik sang ibu yang terlihat sedih. Tanpa pikir panjang Anan menggelengkan kepala.


"Mama tidak jah4t. Mama itu baik. Selalu ada untuk Anan. Mama mengajarkan banyak hal kepada Anan."


Ibu Amar memperhatikan raut wajah Anan yang jelas memperlihatkan rasa sayangnya kepada Anna. Bocah itu melanjutkan pekerjaannya membersihkan pecahan kaca. Tak lama kemudian, Bibi muncul setelah dijemput oleh Amar.


Sang asisten rumah tangga merebut pengki dan sapu yang ada di tangan Anan. "Biar Bibi, Den."


"Anan bisa kok, Bi."


"Jangan, biarkan Bibi. Ini pekerjaan Bibi." ucap sang asisten.


"Anan, nanti kamu bisa terluka kalau membersihkan pecahan kaca itu." Kali ini Amar yang mencegah Anan.

__ADS_1


Beberapa saat Anan menatap Papa Amarnya itu. Pria dewasa itu menganggukan kepala dan Anan akhirnya pasrah.


"Baik laaahh," ucapnya membiarkan Bibi membereskan semuanya.


Anna mencoba menepis rasa sakit di dalam dada. Ia kembali merapikan meja makan berusaha tegar dan menyunggingkan senyuman.


"Ma, Pa, pasti capek ya? Ayo makan siang sama-sama dulu," ajaknya dengan seramah mungkin.


Anan menatap dalam sang ibu. Ia seakan membaca sesuatu yang orang lain tak bisa menangkapnya. Anan menarik salah satu kursi di meja makan.


Wanita yang dipanggil dengan Nenek itu melirik pria tua yang ada di sampingnya. Pria tua itu mengangguk, dan ia terpaksa untuk berjalan ke kursi yang disiapkan oleh Anan. Tangannya mengambang ingin mengusap kepala Anan, tetapi segera ia urungkan dan duduk di kursi tersebut membuang mukanya. Anan melebarkan senyuman dan merasa usahanya kali ini cukup membuahkan hasil.


Setelah itu, Anan menarik kursi yang ada di sampingnya. "Kakek, sekarang kakek di sini, di sebelah Nenek."

__ADS_1


Pria tua itu mengangguk dan tertawa lebar. Ia pun mengusap kepala Anan dan terlihat cukup kagum kepada cucunya itu. "Waaah, Anan anak pinter yaa? Nanti kalau udah besar ikut kerja sama Oppa aja. Jangan sama Papa kamu. Kamu temenin Oppa keliling dunia yaa?" Pria tua itu duduk pada kursi yang disiapkan oleh cucunya itu.


"Anna, maafkan mamamu, ya? Harap maklum aja. Di usia kami yang semakin senja ini, ada saja yang membuat pikiran bekerja dengan berat. Ini semua karena ia sangat menyayangi putra kami satu-satunya."


"Ekhemmm." Amar berdehem merasa tidak nyaman. "Aku ini bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan lagi. Aku ini pria dewasa yang mulai menua juga, sama seperti kalian. Dan aku ini, sudah menjadi kepala keluarga dalam rumah tangga ini. Mama dan Papa juga harus menerima mereka yang selama ini telah mengisi hidupku."


Anna menatap suaminya dengan penuh haru. Akan tetapi, dalam hati kecilnya memaklumi semua kelakuan sang mertua. Semenjak dulu, ia merasa orang tua Amar memang tak pernah menerima keberadaannya yang tiba-tiba saja menikah dengan Amar.


Suasana pun hening setelah Amar berkata demikian. Anna seakan kehilangan selera makan, tak menyentuh sama sekali semua makanan yang ada di hadapannya. Amar yang duduk di sampingnya, menyendokan makanan lalu menyodorkan tepat di bibir Anna.


"Ayo makan, Sayang. Anak kita bisa kelaparan jika kamu tidak makan satu apa pun."


Anna melirik sendok itu. Namun, perasaan sungkan menyelimuti hatinya di antara mertuanya itu.

__ADS_1


"Ayo, jangan malu. Mereka akan maklum kok." Amar melirik sang ibu yang tampak menikmati makanan dengan lahap. "Benar kan, Ma?"


"Uhuk uhuk uhuk." Wanita itu tersedak karena pertanyaan yang tiba-tiba.


__ADS_2