Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
19. Menghampiri Zico


__ADS_3

Kendaraan mewah bewarna biru metalik itu berjalan meliuk pada sisi jalan yang cukup ramai. "Ha ha ha serrruuu ... Mobil sultan memang beda!" Seringai pada bibir Zico tiada henti menghiasi wajahnya.


Tengah asik berjalan berkeliling kota, ponsel Zico bergetar. Layar pipih itu tertulis sebuah nama. "Oh my good! Silvi ketinggalan?"


Dengan cepat Zico membanting stir berputar arah, sehingga mengeluarkan suara decitan keras dari gesekan roda dengan aspal. Setelah itu, kakinya menginjak pedal gas cukup dalam hinggal mengeluarkan suara deru mesin kendaraan yang ia bawa kembali menuju showroom tadi.


Setelah sampai, Zico segera keluar dari kendaraan itu dan melihat sang istri memasang wajah cemberut. "Maaf, Sayang ... Saking semangatnya aku aku sampai kelupaan kamu ketinggalan di belakang." bujuk Zico memainkan pipi Silvi.


"Kamu mah gitu, Mas? Apa kamu lupa saat ini sudah memiliki istri? Masa aku ditinggal begitu aja? Kamu jahat sama aku ...' tangisnya.


Satu tangan Zico merangkul Silvi di bagian belakang. Satu tangan lagi, mengusap air mata istrinya itu. "Maaf ya? Aku tidak bermaksud melupakanmu, Sayang."


Silvi mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Zico. "Jangan tinggalkan aku lagi ya? Aku nggak jadi beli yang itu ah? Ini aja baru lihat mobil itu, kamu udah lupakan aku. Gimana nanti kalau bener-bener ada di rumah kita? Kamu bisa benar-benar melupakan aku." rengek istrinya Silvi.

__ADS_1


"Jangan gitu, Sayang? Katanya tadi kamu mau memberikan mobil kepadaku. Nah, aku sudah jatuh cinta sama yang itu." Zico mulai memasang bujukan rayuannya memasang wajah manis.


Silvi akhirnya luluh, tersenyum manis kepada suaminya itu. "Janji nggak akan lebih menyayangi mobil dibandingkan aku?"


"Iyah ... Aku janji." Zico memeluk Silvi, dan tanpa diletahui sang istri, Zico terulas senyum tipis dengan penuh arti.


Sementara itu, saat ini Amar dan Darma telah berada di bagian depan perusahaan produksi Cat, tempat kerja baru Zico. Perusahaan ini adalah milik ayah Silvi. Amar hanya memberi mode dengan gerakan kepala, membuat Darma mengangguk.


"Bagaimana? Kenapa cepat banget baliknya? Mana anak itu?" tanya Amar kepada asistennya itu.


"Katanya, Zico belum sampai di kantor."


Amar menyernyitkan wajah mencerna informasi yang baru saja didapatkannya dari Darma. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Begitu lah katanya, Pak. Orangnya belum sampai semenjak pagi."


Amar mematung dan sibuk dengan dengan pikirannya sendiri. "Itu anak benar-benar pintar memanfaat segala hal," gumamnya melirik jam tangan.


"Benar, Pak. Apalagi ia menikahi anak dari pemilik perusahaan ini. Mungkin ia akan sesuka hatinya saja bekerja di sini, atau pun tidak bekerja." tambah Darma.


Tak beberapa lama kemudian, sebuah kendaraan yang dengan plat bewarna putih memasuki area perkantoran. Setelah kendaraan diparkir, sepasang manusia keluar dari dalam kendaraan yang jelas tampak baru saja dibeli.


Yang perempuan merangkul lengan si pria, dan mereka langsung memasuki gedung perusahaan tersebut. Amar dan Darma terlihat saling menganggukkan kepala, lalu mereka keluar dari kendaraan itu.


Dengan percaya diri, kedua orang tersebut turut memasuki gedung segera melapor pada resepsionis. "Kami ingin bertemu dengan Zico," ucap Darma mewakilkan Amar.


Dua resepsionis itu saling berpandangan heran. "Zico? Siapa Zico?"

__ADS_1


__ADS_2