Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
JODOH DARI LAHIR


__ADS_3

Yuhuuu.. Ayo kakak-kakak tersayang ... Mampir juga pada karya Author berjudul jodoh dari lahir yuuukk ...


Romansa Pernikahan Rahasia anak SMA



"Tunggu! Dari mana lo yakin bahwa itu Bunda yang nyari. Inikan udah pukul dua pagi." Cegat Juno membuat Jenie tidak jadi membuka pintu.


“E-emang iya sih, siapa ya? Apa ada hantu lagi rame-rame di bawah?” Jenie menggigit jemarinya duduk di atas ranjang kekutan.


“Elo nya sih tidur kayak sapi! Udah gue bangunin tapi gak mau bangun juga. Tapi, Mami nyuruh gue buat ngabari kalau lo tidur di sini. Ya, nggak mungkin kan kalau emak lu yang ada di bawah?” ujar Juno lagi.


“Gara-gara elo gue terpaksa tidur dibawah. Gimana lagi, rumah ini emang masih punya dua kamar kosong, tapi belum dibersihkan. Jadinya gue terpaksa tidur dibawah kan?" Juno menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan sembari melirik ke arah Jenie.


"Tapi untung permadani yang menutup kamar ini bahannya cukup tebel. Kapan-kapan, kalau lo mau tidur di sini, bilang-bilang ke gue dulu! Biar Mami gue menyiapkan kamar buat lo. Kapok gue tidur di bawah, tubuh gue jadi sakit tau?”


“Kalo gitu gue harus tidur disini sampai pagi dong?” tanyanya keberatan.


“Terserah rah lo kalo mau pulang, gue gak mau ngantarin lo, ntar acara tidur gue terganggu lagi!” Juno merebahkan tubuhnya kembali di lantai.


Jenie kembali pun duduk di samping Juno memandangi laki-laki yang menjadi temannya semenjak kecil. “Jun ....” Ia kembali memanggil Juno.


Braaaak


Terlihat pintu dibuka dengan kasar. Hal ini sontak membuat dua remaja tadi melongo melihat siapa yang melakukan hal yang terasa tidak sopan itu. Ada wajah beberapa orang yang bukan keluarga terlihat marah.


"Kenapa ada sepasang remaja bukan saudara berada dalam satu kamar malam-malam gini? Jadi, Jenie ini yang teriak-teriak tadi?" ucap pria dewasa berkumis.


Juno melirik ke arah Jenie dengan wajah datar. "Ini gara-gara elo nih! Kenapa malah teriak-teriak segala? Warga jadi pada datang kan?"


"Oh, i-ini bukan seperti yang kalian duga!" ucap Papi Juno. "Mereka kan memang sudah dekat semenjak kecil."


"Tapi, mereka ini bukan anak kecil lagi! Mereka berdua sudah sama-sama baliq. Bahkan mereka sudah bisa membuat anak kecil!" ucap pria berkumis yang kebetulan sedang melakukan ronda keliling kompleks.

__ADS_1


Mendengar cecaran itu, membuat Jenie beringsut sembunyi di belakang Juno. Ia ketakutan, tetapi ketakutannya ini dalam situasi yang tidak tepat.


"Cepat tarik mereka!" ucap pria berkumis itu kepada beberapa pria dewasa lain. Juno diseret dan Jenie juga ditarik.


"Bundaaaa ...." tangis Jenie dalam ketakutan yang luar biasa.


Mereka berdua disidang di ruang tamu rumah itu. Keduanya dalam keadaan tertunduk, apalagi Jenie. Gadis itu merasa sangat bersalah karena dia lah Juno ikut terseret dalam masalah seperti ini. Orang tua kedua belah pihak telah berada di sana. Bunda Jenie sesegukan mendapati putri sulungnya yang masih sangat muda ini menjadi pesakitan gara-gara salah sangka. Di sana, juga sudah berada Pak RT sebagai penengah suasana yang panas ini.


"Karena kedua anak kalian melakukan hal yang tidak senonoh, kami akan melamporkan pada pihak yang berwajib." ucap pria berkumis tadi.


"Jangan! Anak kami tidak melakukan kesalahan apa-apa! Mereka terlalu muda untuk mendapat perlakuan seperti ini." tangis Mami Juno dan Bunda Jenie.


"Kalau begitu, mereka harus kalian nikahkan! Kalau mereka menikah, kami tidak akan merasa masalah jika mereka saling menginap di rumah kalian!" ucap Pak RT.


"Tapi, mereka baru tujuh belas tahun, Pak. Mereka harus sekolah dulu." Bunda Jenie sesegukan memandangi wajah Jenie yang masih segitu polosnya untuk menikah.


"Kalau tidak mau, berarti kami akan melaporkan kepada pihak yang berwajib dengan kasus asusila!" ucap pria berkumis.


"Biar saya menikah dengan Jenie!" ucap Juno dengan lantang.


Orang tua kedua belah pihak melongo. Mereka memang sudah dijodohkan semenjak lahir, tetapi tak terbayangkan jika mereka harus menikah secepat ini.


"Apa kamu yakin?" tanya Pak RT.


"Ya! Saya yakin!" ucap Juno, melirik Jenie yang duduk tertunduk di sampingnya.


Beberapa waktu kemudian, telah duduk pria paruh baya yang memang bekerja di KUA, sekaligus pengurus mesjid di kompleks tempat mereka tinggal. Setelah mendengar penjelasan dari warga, ia bersedia menilahkan dua remaja ini. Kesepakatan pun telah diucapkan, meski mereka telah menikah, mereka tidak tinggal dalam satu atap yang sama karena masih sekolah. Mereka yang ada di rumah ini, berjanji akan merahasiakan pernikahan calon pengantin, baik dengan yang lain, maupun dengan keluarga mereka sendiri.


"Bagaimana Juno? Kamu siap?" tanya Pak Sultan, yang akan menjadi penghulu pernikahan.


"Siap!" ucapnya dengan mantap.


Jenie hanya membisu dengan air mata yang tiada henti terjatuh menyesali kebodohan yang telah ia lakukan. Tak terbesit sama sekali di dalam kepalanya bahwa akan menikah dalam usia sedini ini. Tangan ayah Jenie, telah menggenggam tangan Juno dengan perasaan pilu. Namun, demi keselamatan mereka berdua, hal ini terpaksa mereka lakukan.

__ADS_1


“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan puteriku Jenie Permata dengan mahar satu juta rupiah dibayar tunai!" ucap Ayah Jenie dengan air mata menetes satu per satu. Kekalutan melanda hatinya yang belum rela putri sulungnya dilepaskan pada pemuda ini.


“Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar satu juta rupiah dibayar tunai.” Juno melafaskan Qobul dengan sangat lancar. Hal ini membuat Jenie ternganga tak percaya musuhnya ini sudah menjadi suaminya.


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


"Sah!"


Lalu, doa pun dilantunkan. Hampir seluruh orang yang ada di sana meneteskan air mata mereka. Namun, apa boleh dibuat. Mungkin ini jalan Tuhan membuat mereka menyatu lebih cepat.


*


*


*


Keesokan di pagi hari, suasana rumah Jenie terasa begitu hening. Jenie dengan wajah sayu hanya menatap roti yang ada di atas piringnya. Meskipun ini adalah pernikahan rahasia, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Juno.


"Makan lah roti itu!" ucap Bunda.


"Aku tidak lapar!" ucap Jenie menarik tas dan mencium tangan kedua oranh tuanya.


Kali ini, ia memilih untuk berjalan menyusuri trotoar menuju sekolah. Tanpa ia sadari, seseorang mengikuti langkahnya di belakang.


Pria muda yang mengikutinya itu, berjalan menjepitkan kedua tangan di kantong seragamnya. Ia sama bingungnya dengan gadis yang berjalan di hadapannya. Dalam satu malam, mereka telah menjadi pasangan suami istri. Namun, matanya terbelalak melihat Eki dan Anton memberondong Jenie di kedua sisi istrinya.


Ia hampir saja membuka sepatu dan melempar kedua orang itu. Juno membatalkan niat dan menghela napas menahan diri. Ia teringat akan pesan kedua orang tuanya. Pernikahan mereka berdua, tidak boleh diketahui siapa pun, supaya pihak sekolah tidak mengeluarkan mereka.


"Junooo!" Seseorang dari belakangnya berlari menyejajarkan langkah berjalan di samping Juno. Gadis itu sengaja merapatkan posisi sehingga pundaknya terus bersenggolan dengan tangan siswa dengan ketinggian hampir 180 senti meter itu.


Jenie yang sensitif dengan nama itu memutar kepalanya. Matanya terbelalak melihat siapa yang ada di sana. "Juno? Yovie? Apa kaliah pacaran?"

__ADS_1


__ADS_2