
Di bawah hujan Zico mematung menundukan kepalanya. Mendengar ucapan sang ibu, Zico terkekeh. Ia teringat pada masa di mana ia menceritakan kenyataan yang baru saja diumbar oleh Anna.
Di mana, Anna baru saja mengatakan bahwa ia hanyalah anak angkat dari saudagar kaya raya bernama Sugiono Cakradinata.
"Seandainya saja, aku memilih untuk bertahan dengan Anna, mungkin saat ini aku sudah bahagia dalam keluarga kecil, dan memiliki anak-anak yang lucu seperti Anan."
"Jika saja aku tak pernah mendengarkan kata mereka sedari dulu, mungkin semua ini tak mungkin terjadi." Tubuh Zico bergetar berteman hujan yang terus menjatuhinya bagai tertawa riang mendapati lelaki itu menderita di akhir cerita.
*
*
*
Beberapa waktu kemudian, Zico bangkit dari kasur tipis yang ia menjadi alas tempat tidurnya akhir-akhir ini. Semenjak terusisir dari rumah Silvi, nasib Zico sungguh terlunta-lunta. Ia hanya bisa menyewa satu kamar kecil, seharga kamar mahasiswa pada sebuah kosan sederhana. Zico melirik benda mewah yang masih melekat melingkari pergelangan tangannya.
"Jika ini dijual, aku bisa membeli rumah sederhana dengan kontan," gumamnya melepaskan benda itu.
__ADS_1
Ia kembali melirik waktu yang ditunjukan oleh jam tangan mewah itu. "Aku harus buru-buru ke sana." Zico membawa jam tangan mahal itu dan menuju suatu tempat. Sebuah sekolah dengan siswa yang menggunakan seragam putih di atas dan merah di bawahnya.
Zico memutar matanya memastikan sesuatu dari dalam mobilnya. Setelah yakin, tidak melihat salah satu dari orang yang ia hindari, Zico keluar dari kendaraannya itu.
Dengan menutup identitas, menggunakan topi dan masker, Zico tampak menunggu seorang anak yang menggunakan seragam yang sama persis dengan anak-anak lain di sekolah ini.
Cukup lama ia berdiri di sana. Setelah lelah dan hampir putus asa, akhirnya Anan muncul. Anan melambaikan tangan ke arah Zico, membuat tangannya refleks melambai juga. Anan berlari kecil lurus di hadapannya, membuat Zico refleks lagi merentangkan tangannya.
Anan melirik heran pada pria yang berpakaian persis badut tersebut. "Ma, Anan pengen lihat badut itu." Bocah itu menunjuk ke arah Zico yang sudah sangat tertatih dengan apa yang terpasang dalam tubuhnya saat ini.
"Sepertinya, aku terlalu bersemangat mencari informasi tentang anakku. Kalau ketahuan, mereka akan menendangku," gumam Zico.
"Anak h4ram, masih berani sekolah di sini kau?" tanya anak yang berbadan bongsor.
"Kata mama gue, papa dan mama lo keasikan bermesraan di sekolah. Ciiih, memalukan! Apa kedua orang tua lo tidak memiliki tempat lain untuk bermesraan?"
Anan yang memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi, melirik anggota yang mengerumuninya satu per satu. Tak sedikit pun terlukis rasa takut di raut wajah itu.
__ADS_1
"Kalian mau satu lawan satu atau mau keroyokan?" Anan mengucapkannya dengan muka datar.
Zico yang sedari tadi menyaksikan Anan, tergidik ngeri melihat sikap bocah itu yang cukup menakutkan di antara kawan sebayanya yang lain.
"Dia sungguh sangat mirip dengan Anna dan aku di masa kecil," gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Zico muncul bak pahlawan di antara bocah-bocah sok jagoan itu. "Menjauh lah kalian semua! Kalian jangan menyakiti anakku!"
Semua anak yang ada di sana terperangah mendengar pernyataan pria yang tak dikenal ini, termasuk Anan.
"Anan punya papa yang lain?" sorak salah satu dari anak kecil itu.
"Mama Anan emang p3L4cur!" tambah yang lain.
"Itu tandanya Anan memang anak h4r4m?!"
"Anak h4r4m!"
__ADS_1
"Anak h4ram!"
Sekelompok anak-anak nakal itu menyoraki Anan hingga semua mata memandangi sekelompok anak-anak itu.