Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
89. Cemburu


__ADS_3

"Kenapa kau tiba-tiba saja berubah menjadi laki-laki perhatian seperti ini? Oh, aku tahu! Istrimu tidak bisa memberimu keturunan? Lalu kau asal menebak anak kami ini adalah anakmu?" Anna menatap Zico dengan tajam melipat kedua tangannya.


"Kau salah!"


"Oh ya, apa tadi kau bilang? Kekentalan d*rah?" Anna tersenyum sinis dengan wajah dinginnya.


"Kental mana d*rah dari pada uang? Bukan kah hidupmu lebih menyukai harta, tahta, dan segala yang dimiliki istrimu? Silakan kau nikmati harta yang tak akan habis kau miliki! Jangan kau ganggu keluargaku dan enyah lah dari hadapanku!" Anna menjauh dengan gerakan cepatnya meninggalkan lokasi di mana Zico mematung mendapatkan apa yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Zico tertegun mendapati Anna yang baru saja mengeluarkan serapah dengan manis dari mulutnya. Ia tak menyangka, wanita yang dulunya begitu lembut dan patuh terhadapnya kini telah berubah 180 derajat. Seolah, ia tak lagi mengenal wanita ini yang dulunya selalu memberikan apa yang diminta. Bahkan, mahkotanya sekali pun.


"Anna, apa benar kamu adalah wanitaku yang dulu?"


Anna bergerak cepat meninggalkan bangunan restaurant tersebut menuju kendaraan suaminya yang membawa mereka ke tempat ini. Tanpa pikir panjang, Anna masuk ke dalam kendaraan tersebut.

__ADS_1


Anna mendapati suasana hening membisu tanpa satu sapaan sedikit pun. Ia mengambil posisi senyaman mungkin dan segera memasang sabuk pengaman. Amar melirik sejenak dan mulai menyalakan mesin kendaraannya.


"Siapa orang tadi, Ma? Kenapa dia selalu menyebut dirinya sebagai papa Anan? Bahkan, melihatnya saja baru kemarin," ucap Anan memecahkan suasana tegang dalam perjalanan hening itu.


"Tidak baik menguping pembicaraan orang lain! Sudah berapa kali Mama peringatkan?" Anna kembali memasang mata tajamnya kepada sang putra.


"Jangan begitu padanya! Kamu menakut-nakutinya!" ucap Amar yang hanya terfokus pada jalan.


Tatapannya beralih pada Amar. 'Untung saja Papa Anan masih hidup. Papa Anan baik banget. Jadi, Anan semakin sayang pada Papa,' batinnya. Setelah itu, tatapannya beralih pada pemandangan di luar jendela mobil. Ia menikmati suasana syahdu setengah mendung di kota ini.


Kali ini, mereka pulang ke rumah Amar yang telah sengaja disiapkannya jauh hari demi Anna dan anaknya. Tidak seperti sebelumnya yang hanya tinggal di apartemen, kali ini rumah luas yang mereka injak memiliki ukuran yang sangat luas. Saking luasnya, Anan berlari-lari ke sana kemari.


"Rumah Papa bagus banget, nggak kayak rumah di atas salon Mama." Anan tak berhenti menyburatkan cengiran di bibirnya.

__ADS_1


Amar memaksakan senyumnya. Hatinya, sungguh bercampur aduk di saat membiarkan Anna berbicara dengan Zico tadi. Tidak sama seperti ketika bersama Dokter Yoga, saat bersama Zico, hati Amar mulai merasakan ketakutan. Apalagi, Anan yang ia ketahui memang lah anak kandung Zico.


"Apa yang kamu pikir kan? Kenapa semenjak tadi kamu hanya diam saja?"


Pertanyaan Anna barusan, menyentakkannya dari lamunan panjang. Ia melirik Anna masih dengan wajah dingin dalam diam.


"Bicara lah! Apa yang kamu pikir kan? Apakah masih berkaitan dengan Zico tadi? Apa kamu cemburu?"


Amar menghela napasnya berat.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2