
"Sudah lah! Aku lagi gak mood." Anna menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya membiarkan Amar tercenung akan tingkahnya.
Amar merangkak ke sisi ranjang yang kosong, menyelimuti dirinya sendiri dan menutup seluruh tubuhnya membelakangi Anna.
*
*
*
Keesokan pagi, di saat Anna bangun, ia tak lagi menemukan keberadaan suaminya. Ia mencoba fokus mendenfarkan dari arah kamar mandi, tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam sana.
"Bang Amar pergi ke mana? Apa dia marah karena semalam?" Anna menekan dadanya bangkit mengintip ke luar kamarnya.
Dari luar sana, terdengar suara Anan yang sudah berkicau memanggil dan ngobrol dengan seseorang yang dipanggil dengan Papa. Anna menghela napasnya menyusuri asal suara yang tak lain dari arah dapur.
"Papa ... ini mau diapain?"
"Taruh dulu! Biar Papa yang lakukan."
Semakin mendekati dapur, semakin jelas kemeriahan suasana area memasak tersebut. Anna berjalan mendekat dan mengintip apa yang dilakukuan oleh dua pria dalam hidupnya ini.
Tampak Amar sedang asik di depan kompor tak tahu sedang memasak apa.
__ADS_1
"Ekhem ...."
Anna tersentak mendengar deheman dari seorang wanita yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Anna mengernyitkan wajah, menebak apa lagi yang akan dicecarkan kepadanya.
"Kenapa Amar bisa manis seperti ini kepadamu?" tanya ibu mertuanya itu.
"Manis? Apa maksud Mama? Bukan kah dia memang begitu kepada semua wanita?"
Terdengar tarikan napas berat dari sang Ibu mertua. "Hmmm, entah lah. Aku juga kurang tahu bagaimana dia dengan almarhum Luna dulu. Tapi, aku baru menyadari saat ini dia telah banyak berubah."
Anna mencoba memahami ucapan mertuanya ini. Namun, tak mendapat jawaban sedikit pun.
"Bagaimana, Ma? Apakah Mama merasa nyaman menginap di sini? Atau masih ada kendala yang kurang berkenan di hati Mama?"
"Kalau boleh tahu, apakah gerangan?" tanya Anna penasaran.
"Kamu!" ucap mertuanya itu.
Anna tersentak mendapat cecaran demikian. "A-aku?" tanyanya gugup.
"Ya, kamu!"
"Tapi kenapa denganku, Ma? Apa salahku?" Nada suara Anna mulai lebih tinggi.
__ADS_1
"Ya, kamu! Kenapa kamu menikah dengan anak kami?"
Anna terhenyak oleh pertanyaan mertuanya ini. Ia teringat pada peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Amar dan Nenek datang menyelamatkan, dan perjanjian pernikahan terjadi begitu saja demi menyelamatkan nama Anna dari sebuah aiib yang ia lakulan bersama pria yang meninggalkannya dalam keadaan hamil.
Anna memperhatikan kembali wanita yang ada di hadapannya. "Ia, maaf. Maafkan aku telah menikah dengan Bang Amar, anak Mama. Sebenarnya aku sudah meminta dia untuk mence—"
"Wah, Omaaaaaaaa ...." Aziel berlari kecil mengejar keberadaan wanita itu.
Perhatian kedua wanita ini langsung buyar beralih pada Anan yang langsung memeluk sang nenek.
"Waah, Mama dan Oma udah bangun. Anan sama Papa lagi menyiapkan sarapan untuk kita semua. Tadi Anan mau bangunkan Mama, tapi dilarang oleh Papa. Papa bilang, Mama lagi capek. Makanya Anan tidak jadi bangunin Mama."
Kedua wanita ini langsung memperhatikan celotehan Anan. Tanpa disadari, sebuah senyuman terulas pada bibir Oma.
"Kamu ini ceriwis sekali ya? Mirip aku ketika masih muda dulu." Sang Oma mengusap kepala Anan.
Anan memeluk wanita tua tersebut membuat pandangan mata Anna tak putus memperhatikan mereka berdua. Bahkan, Anan terlihat sangt luwes tanpa canggung sedikit pun.
"Oh, Mama dan Anan ngobrol aja dulu ya. Aku mau bantu suamiku dulu."
Anna beralih tempat menuju dapur. "Selamat pagi, Suamiku," sapa Anna sedikit ceria. Meskipun sempat mendapat cecaran, setidaknya Anan mampu mengalihkan itu semua dengan kepolosannya.
"Lagi bikin apa pagi-pagi gini?"
__ADS_1
Namun, ternyata Amar tak memutar kepalanya sedikit pun, meski ia tahu Anna telah hadir di sisinya.