Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
58. Beri Aku Waktu


__ADS_3

"Apa maksudmu Dok?"


Dokter Yoga turun dari posisinya. Ia duduk berlutut tepat di hadapan Anna. "Kamu tahu, Alasan aku belum menikah? Itu karena tak menemukan orang yang sama seperti kamu."


Dokter Yoga menggenggam tangan Anna. "Aku, suka kamu semenjak dulu. Aku hampir gila saat kamu tak pernah lagi muncul dan bisa dihubungi. Saat aku mendatangi rumah nenekmu, rumah itu selalu kosong. Saat aku cari ke apartemen kamu tinggal dulu, juga kosong."


"Hingga hari ini, aku terombang ambing tak menemukan wanita seperti kamu. Aku tahu, bagaimana rasanya menjadi kamu. Karena aku pernah merasakan sakitnya diabaikan. Hal ini lah yang membuatku terlalu sulit mencari pasangan yang baru. Namun, saat bersama kamu, aku yakin bahwa kamu lah jawaban dari segala kisah ini."


Anna menarik tangannya. "Maaf, Dok. Aku rasa kamu terlalu cepat mengambil keputusan. Karena aku, tak ingin lagi mencinta. Cukup lah aku membesarkan Anan sendirian hingga sukses. Aku kembali ke sini karena aku ingin memperlihatkan bahwa aku dan anakku baik-baik saja kepada Papi dan Mami."


Dokter Yoga tersenyum kecut. "Tapi, aku yakin kita bisa untuk bersama."


"Jangan, Dok—"


"Jangan tolak aku. Berikan lah kesempatan kepadaku agar aku bisa melihat senyuman di bibirmu kembali." Dokter Yoga kembali menarik tangan Anna dan menggenggamnya.


Anna menatap Dokter Yoga dengan wajah datar. Pria itu menarik bibir sisi kiri dan kanan Anna. "Nah, begini lebih baik."


"Kamu lihat sendiri aku ini sudah memiliki Anan." Anna kembali memasang wajah datarnya


"Aku akan menyayangi dia layaknya anak kandungku sendiri." Dokter Yoga kembali menarik bibir Anna, hingga terlihat senyuman di bibirnya.


"Kamu cantik sekali saat kamu tersenyum."


"Tapi, aku belum—"

__ADS_1


"Ssstttt!" Telunjuk Dokter Yoga berada di bibir Anna. "Beri waktu aku dalam satu bulan ke depan untuk mengobati luka di hatimu itu."


"Satu bulan?"


"Ya ... Satu bulan. Jika dalam satu bulan itu aku masih belum mampu membuatmu tersenyum, maka aku akan pergi menjauh dan menerima perjodohan yang ditunjuk oleh orang tuaku."


*


*


*


Keesokan hari, Amar yang memiliki perawakan lebih matang dibanding dulu, tengah sibuk dengan rancangan pekerjaan mengenai buku cerita anak. Di atas meja kerja, tampak foto pernikahannya dengan Anna.


Tok


Tok


Tok


Dari arah luar muncul Darma dengan tingkat wibawa yang lebih matang juga. "Pak, semua sudah siap. Kita akan menuju ke SD Nusa Bakti, untuk membagikan buku cerita kepada anak-anak di sana secara gratis."


Amar bangkit dan merapikan pakaiannya. Sejenak, ia mengangkat bingkai foto yang sudah terpajang semenjak sepuluh tahun terakhir. Ia menatap panjang foto itu tanpa berkata apa-apa, lalu meletakkannya kembali.


Setelah itu, mereka semua pergi menuju sebuah sekolah, di mana penerbit yang ia pimpin ingin memberikan buku cerita yang baik untuk anak-anak.

__ADS_1


Setelah sampai ke ruang kepala sekolah, tampak pimpinan sekolah menyambut niat baik ini dengan sangat terbuka.


"Terima kasih atas partisipasi Bapak membagikan buku-buku cerita kepada siswa-siswi di sekolah kami. Semoga saja animo membaca calon penerus masa depan ini semakin baik ke depannya."


Setelah pertemuan dan sambutan dari kepala sekolah, Amar memilih menjadi orang yang duduk di belakang panggung. Menyerahkan semua acara di bawah tanggung jawab Darma.


Sementara itu, Amar memandangi wajah-wajah siswa sekolah dasar itu.


'Jika kita masih bersama, anakmu mungkin telah sebesar mereka. Anna ... Kamu di mana?'


"Anak baru, gue denger lu diberikan kesempatan turnamen wushu anak tingkat nasional sama pelatih?"


Amar mendengar suara yang cukup keras dari arah pojok sekolah.


"Iya, pelatih memintaku untuk ikut. Lalu masalahmu apa?" terdengar suara anak laki-laki lain dengan lantang.


Amar merasa aneh dengan obrolan keras ini. Ia pun memilih untuk menuju sumber suara.


"Lu kan anak baru! Kenapa elu yang disuruh pelatih?"


"Aku memang baru di kota ini. Tapi aku sudah berlatih wushu semenjak kecil. Mamaku dulunya atlet wushu."


Terdengar suara tawa sekelompok anak. Membuat Amar semakin yakin dengan dugaan tentang sebuah pembulian.


"Lu pikir kami percaya? Mana ada tukang salon pandai bela diri? Kata mama gue, tukang salon itu kerjanya menggoda laki orang! Berarti mama lu kerjanya menggoda laki orang juga!"

__ADS_1


"Apa katamu? Kau menuduh mamaku tukang goda?"


__ADS_2