Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
16. Petuah Papi


__ADS_3

"Ayo Anna ... Kamu ikut Papi dan Mami saja." Sugiono mencoba menarik tangan putrinya dengan kasar.


"Aaaggh, Pih?" ringisnya merasakan sakit yang luar biasa masih belum reda juga.


"Papi, Anna itu masih sakit? Papi jangan tarik-tarik Anna dong?" Renata menghalangi tingkah sang suami.


Nenek menepuk lengan Amar gemas. "Kamu sih? Membuat orang tua Anna marah? Kamu harus pandai menjaga perasaan mertuamu dong?" bisik Nenek Andari gemas.


"Tapi, Nek? Aku kan tidak mengada-ada."


Nenek menepuk kembali lengan Amar memberikan kode pada bibirnya.


"Maaf, Pak Sugiono. Kami pulang bersama Amar saja, tidak apa-apa kok. Dia memang sibuk, tetapi dia bertanggung jawab."


Anna melepaskan tangan sang ayah memasang wajah memohon. "Gak apa Papi, kami ini baik-baik saja. Papi dan Mami jangan khawatir terlalu berlebihan gitu?" Anna mengusap perutnya yang terasa kejang kembali karena tarikan Sugiono.

__ADS_1


"Amar, katakan kepada Saya apa yang sedang kalian mainkan ini?!"


Ketegasan Sugiono barusan membuat Amar tersentak. "Kami sedang tidak memainkan apa-apa, Pi. Kenapa Papi merasa seperti itu?"


"Sudah lah, Papi hanya tidak mau kalian mempermainkan pernikahan ini. Kamu tahu makna ijab kabul yang kamu ucapkan kepada Anna?"


Amar tertunduk mendengar cecara sang ayah mertua. Bagaimana pun juga, dalam kepalanya sedang dipenuhi oleh Luna. Luna yang menghilang tanpa kabar setelah ia ditolak, ternyata dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Amar? Sepertinya kamu memang memiliki masalah yang berat." Sugiono kembali mendapati Amar merenung entah memikirkan apa.


"Jika kami bercerai karena sudah merasa tidak saling cocok, gimana Pi?" Anna menyela ucapan ayah angkatnya itu.


"Sebenarnya, cocok dan tidak cocok iti tergantung kepada diri masing-masing. Jika kalian memang sudah menginginkan pisah semenjak awal, kalian sudah memikirkan berbagai alasan di atas ketidakcocokan itu." Sugiono melirik Anna kembali dengan sendu.


"Anna, meskipun kamu bukan darah daging kami, kami itu tidak pernah membedakanmu dengan Bagas. Kamu adalah anak kami. Anak yang pertama kali mengisi hari-hari kami yang peetama kali menjadi orang tua."

__ADS_1


"Papi memang sering marah kepadamu, tetapi Papi itu sangat menyayangimu. Papi tidak suka ada yang mempermainkanmu. Kamu lihat sendiri bukan? Betapa marahnya Papi dengan kelakuan Zico? Papi sampai melepaskan kerja sama dengan mertua Zico karena Papi ikut sakit saat melihat kamu menderita."


Semua ucapan Sugiono, membuat Anna terisak menangis tersedu karena rasa bersalah. "Maafkan Anna, Pi. Anna hanya menjadi beban bagi kalian. Anna sudah menjadi anak yang tidak tahu diri hanya bisa membuat malu keluarga." tangisnya mengusap perutnya yang terasa kencang.


Sugiono masuk sejenak masuk ke dalam mobil duduk di sebelah posisi Anna. Ia memeluk Anna dengan rasa kasih sayang yang sama seperti yang ia rasakan selama ini. Setelah itu, ia kembali berdiri di hadapan Amar.


"Jadi, jika kamu bermain-main dengan putri kami, maka ... Bersiaplah untuk mendapat sanksi dari saya sebagai orang tua yang sudah mendidik dan merawatnya."


Amar tertunduk diam seribu bahasa. Dalam kepalanya masih berkelumit dengan bayangan-bayangan menakutkan yang menimpa Luna.


"Bagaimana Amar? Apa kamu memahami apa yang baru saja Papi sampaikan?"


Amar masih mencerna apa yang dimaksud oleh Sugiono. Hal ini membuat ayah dari Anna itu bergemeletuk geram.


"Sudah lah!"

__ADS_1


__ADS_2