
"Nak, apa yang kamu mendengarkan pembicaraan kami berdua malam itu?" tanya Anna hati-hati.
"Mendengarkan apa?" tanya Anan. Namun, di dalam hati bocah tersebut, ia memahami arah pembicaraan sang ibu.
"Masalah Mama, Anan, dan Papa?" ucap Anna masih hati-hati.
"Anan mendengarkan Papa sangat sayang sama Anan. Anan pun sayang sama Papa Amar. Anan bersyukur, memiliki Papa seperti Papa Amar," ucap anak lelaki itu dengan wajah ceria.
Amar menghela napa panjang. Semenjak tadi, perasaannya berdebar sedikit khawatir jika Anan akan menanyakan sebuah kebenaran yang telah tertutup rapat selama ini.
"Jagoan, kamu mendengar obrolan kami yang lain? Kenapa kamu berteriak-teriak waktu itu mengunci pintu?" tanya Amar.
Anan sedikit tersentak. Sejenak, ia memikirkan alasan yang cocok. "Anan bermimpi. Anan mimpi buruk bahwa Papa Amar bukan Papa Anan. Perasaan Anan menjadi kacau. Anan pikir itu benar-benar terjadi. Syukur lah jika itu ternyata hanya sebuah mimpi."
__ADS_1
Amar dan Anna saling bertatapan. Anna ingin melanjutkan rencana untuk menjelaskan semua tentang masa lalu, tetapi suaminya memberi kode telunjuk di bibir dan menggelengkan kepalanya.
"Waduh, kamu sampai mimpi buruk seperti itu? Pasti lupa salat isyanya ya?"
Anan memutar bola mata jemari mengetuk bibir. "Aaah, iya. Anan waktu itu kelupaan salat isya. Udah keburu ketiduran," soraknya.
Amar mengusap rambut Anan. "Setelah ini, jangan lupa salat isya dulu. Terus, sebelum tidur, mesti berdoa dulu."
Anan menganggukan kepala mengacungkan jempolnya. Wajah kecil Anan terlihat begitu ceria. Hingga membuat kedua orang tuanya ini mempercayai kamuflase yang dibuat Anan dibalik senyuman.
Setelah kondisi Anan benar-benar sembuh, mereka mengajak Anan pulang. Bocah laki-laki itu digandeng oleh kedua orang tuanya di sisi kiri kanan tangannya.
Sementara itu, Zico yang mendapat kabar tentang kondisi Anan, berdiri pada sisi tak terlihat di klinik itu. Dalam diamnya, ia melihat ketiga orang tersebut tampak bahagia menyusuri lorong hendak pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
Zico bagai mendapat hantaman hebat tepat pada jantungnya. Wajah Anan tidak seperti itu ketika bersama dengannya. "Sepertinya, Tuhan memang sengaja menghukumku. Aku mengabaikan Anna yang ternyata tengah memgandung buah cinta kami. Pernikahanku dengan Silvi pun selalu diiringi percek-cokan yang tidak habis-habis, tanpa sempat merasakan indahnya menjadi orang tua."
"Hukuman bertubi-tubi darimu sungguh sangat menyakitkan, Tuhan. Apakah belum cukup semua yang telah terjadi padaku sebagai ganjaran akan semua perbuatanku selama ini?"
Tubuh Zico bergetar. Ia belum memakan satu apa pun ketika mencari Anan yang tak kunjung ditemukan kala lari dari kosan yang ia tempati. Makanan yang dibuang oleh Anan, adalah sisa mie instan terakhir yang ia miliki.
Zico bergerak keluar dari klinik. Ia meringis mengusap perutnya yang sudah sangat perih karena rasa lapar yang luar biasa.
"Ini!" Sebuah bungkusan diserahkan seseorang kepadanya.
Zico melihat bungkusan itu, tanpa pikir panjang ia langsung menerimanya. "Terima ka—"
Zico tersentak melihat siapa yang menyerahkan kantong berisi makanan tersebut. Wajah Zico menjadi cukup tegang ketika melihat sang pemilik tangan.
__ADS_1
"Maaas ..." rengek wanita itu. "Aku tahu betapa beratnya hari-harimu setelah itu?."