
Anna masih terpaku dalam pelukan Amar. Ia menundukkan wajah, merasa aneh pada dirinya. Anan menatap kedua orang itu dengan wajah heran.
"Papa kenapa memeluk mamaku?"
Amar menoleh ke bawah, melihat ke arah bocah yang memandang panjang ke arah mereka berdua. Anna mendorong Amar kasar hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
"Lihat! Bocah itu tidak mirip sama sekali dengan suaminya." Silvi menarik pakaian Zico. "Katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Dengan cepat Anna menarik Anan dengan paksa menuju tangga menuju bagian atas rumahnya. Silvi ingin mengikuti langkah tujuan Anna.
"Mau apa lagi kalian dengan keluarga saya?" Suara berat Amar membuat langkah Silvi terhenti.
Silvi menatap Amar nanar. "Bukan kah kalian sudah berpisah? Kenapa masih bersamanya?"
Amar tersenyum sinis berjalan menuju pintu masuk. Ia membuka pintu tersebut dan memberi kode agar kedua pelanggan itu keluar dari ruangan ini.
"Tapi, Mas ... Mereka belum membayar tindakan perawatan yang baru saja dilakukan," ucap Lasmi mencegah tindakan pria yang mengantarkan Anan tadi.
__ADS_1
"Biarkan saja! Biar saya yang membayar semua ganti ruginya. Yang penting mereka harus keluar dari tempat ini."
"Lancang sekali kau ya? Awas kau! Karena perlakuanmu ini, salon ini saya jamin akan hancur!" Silvi berjalan cepat mengambil tas jinjing mewahnya, dan menarik Zico.
Zico yang tidak bisa berkutik, hanya bisa mengikuti langkah Silvi. Namun, netranya masih menuju pada arah menghilangnya anak tadi. Anak yang tiba-tiba mengusik hatinya. Amar mengikuti dari belakang, setelah keduanya benar-benar keluar, pintu ditutupnya kembali.
Amar mengeluarkan dompet, dan memberi kode kepada Lasmi untuk segera mendekat. Ia menyerahkan kartu kredit miliknya. "Buat bayaran orang tadi. Aku tidak mau salon ini rugi gara-gara mereka. Dan, satu lagi, jangan biarkan mereka datang lagi ke sini! Mereka hanya lah pengacau."
Lasmi menerima kartu tersebut. "Baik, Mas. Lagian salon ini adalah milik Bu Anna. Beliau pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Anda lalukan."
"Ah, ya ... Maaf, Mas. Orang tidak berkepentingan dilarang naik ke area pribadi milik Bu Anna dan keluarganyam." Lasmi mencegah langkah Amar.
Amar kembali membuka dompetnya, ia mengeluarkan sebuah foto berukuran kecil memperlikatkan kepada kaki tangan Anna. Wajah Lasmi tampak terperangah. "Jadi, Anda ini ...."
Amar hanya menelengkan kepalanya sedikit dan ia beranjak menuju arah tangga. Satu per satu anak tangga itu dinaiki dan di sana ia melihat Anna duduk memeluk Anan.
"Kalau kamu lihat orang tadi, kamu harus menjauh ya?"
__ADS_1
Anan menikmati pelukan itu. Ia yang tak mengerti akan situasi, hanya menganggukkan kepala dengan senyuman yang sangat lebar.
Anan menyadari kehadiran seseorang. Ia memutar kepala dan menyaksikan siapa yang telah datang. Mulutnya membulat mengetahui pria yang memasuki tempat ia tinggal.
"Aku tak menyangka saat kamu mengatakan bahwa aku telah meninggal kepada anak kita."
Anna melirik Amar dengan wajah dingin. "Anan anakku! Kau jangan ikut-ikutan menyebutnya anakmu."
"Kamu sendiri yang menuliskan bahwa aku adalah ayahnya. Meskipun di sana kamu buat aku seolah sudah m4ti." Amar berjalan menuju sofa yang diduduki oleh ibu dan anak itu.
Anan menatap Amar dengan heran, lalu tatapannya berganti pada Anna yang terlihat tanpa ekspresi. Anan ingin beranjak mendekat kepada Amar, tetapi tangan Anan ditarik kembali oleh Anna.
Anan kembali masuk ke dalam dekapan sang ibu. "Kamu jangan mendekat padanya!"
...****************...
__ADS_1