Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
56. Menemukan Anna


__ADS_3

Dokter Yoga mencoba berpikir kembali. Ia menggelengkan kepala.


Banyak orang yang memiliki nama yang sama. Bisa jadi dia adalah Anna yang lain.


"Setelah ini, apa kamu tahu jalan pulang?"


Anan menggelengkan kepalanya. "Aku baru beberapa bulan di kota ini, Om. Perjalananku ya sekitar rumah aja."


Dokter Yoga mengusap dagunya. "Apa kamu nama jalan tempat rumah orang tuamu tinggal?"


Mata bocah bernama Anan itu memutih menatap langit-langit ruangan. "Aah, apa ya? Jalan Jati apa ya?" Anan menggaruk kepala bagian belakang dengan tangan yang tidak sakit.


"Ah, Jalan Kayu Jati, Om." Wajah Anan berubah cerah saat berhasil mengingat nama wilayah tempat ia dan ibunya tinggal.


Dokter Yoga segera membereskan peralatan yang tadinya digunakan untuk menjahit luka yang didapat oleh Anan. "Setelah ini akan Om antarkan kamu pulang yah?"


*


*


*


Dokter Yoga dan Anan kali ini tepat berdiri pada sebuah ruko. Di sana terlihat berlalu lalang beberapa wanita yang keluar dengan percaya diri.


"Kamu tinggal di sini?"

__ADS_1


Anan menunjuk ke bagian atas bangunan tersebut. "Aku dan mama tinggal di sana."


"Kalau itu, tempat mama bekerja." Ia menunjuk bagian bawah yang ditutup full dengan kaca yang ditutup full oleh stiker. Di sana, tampak label yang sangat besar bertuliskan, Beauty Salon and Spa.


"Jadi, mamamu owner salon ini?"


Anan tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya membuka pintu salon tersebut.


"Waaah, Anan? Sudah pulang latihan?" sapa salah satu wanita muda berseragam hitam. Di dada kiri pakaiannya tertulis Beauty Salon and Spa, persis sama bentuk dengan bagian kaca depan.


Mata wanita itu menangkap tangan Anan yang diperban rapi. Wajahnya terlihat sangat terkejut. "Tanganmu kenapa Anan?"


"Maaf, Bu ... Anak ibu terluka karena menolong saya." Dokter Yoga muncul dan langsung memjawab pertanyaan Dokter Yoga. Dokter Yoga mengulurkan tangan kepada wanita yang dikira ibu, Anan.


"Nama saya Yoga, Bu."


"Lalu, Mama ada di mana?" sela Anan, yang telah liar melirik ke sekeliling.


"Oh, biasa ... Lagi ada customer rewel. Maunya sama mamamu aja." terang Lasmi.


"Wah, ternyata mama kamu lagi sibuk ya?" Dokter Yoga tiba-tiba tergelitik oleh getaran dari ponsel yang ada di kantong celananya.


Ia segera menarik benda itu dan terlihat enggan menjawab saat melihat nama yang tertulis dalam ponselnya. Namun, ia segera menjawab panggilan tersebut.


".... "

__ADS_1


"Iya, Ma ... Masih di jalan."


" .... "


"Bukan, aku hanya mengantarkan pasien pulang.


" .... "


"Iya, aku tahu aku sudah 38 tahun. Tapi, Mama jangan sembarangan menjodohkan aku dengan wanita random be—"


"Maaf, Lasmi bilang Anda ...."


Dokter Yoga menghentikan obrolan di telepon, terpana melihat sosok yang baru saja mencul dari arah belakangnya. "Dokter?" tanya wanita itu.


"Ma, nanti aku telepon lagi." Dokter Yoga kembali menatap sosok itu.


"Ma, ini Om Dokter yang membawa aku ke rumah sakitnya." Anan berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari posisinya.


Dokter Yoga mengerutkan keningnya melirik Anan dan Anna secara bergantian. "Loh? Kok di situ? Ayo, ke sini!"


Anan menggeleng cepat. "Aku mau naik dan mandi."


"Tapi, tangan kamu tidak boleh kena air!" ucap Dokter Yoga kembali.


Anna melirik ke arah tubuh Anan yang menghilang. Tak sedikit pun terlihat senyuman pada wajahnya. Berbeda dengan Dokter Yoga, senyumannya terlihat sangat lebar.

__ADS_1


*


*


__ADS_2