Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 26


__ADS_3

"Nenek? Emang sejak kapan aku jadi nenek-nenek?" tanya wanita berambut memutih itu.


"Ma?" Amar mengerutkan keningnya melirik wanita yang melahirkannya itu.


"Aku nggak mau dipanggil 'nenek!' Bagaimana kalau memanggilku dengan 'Oma?'


Suaminya terkekeh melirik istrinya sejenak dan menggelengkan kepala. Sementara itu, Anan melirik Amar merasa bingung dengan permintaan wanita tua itu. Amar memberikan senyuman dan anggukan kepala.


"Baik lah Oma," ucap Anan singkat.


"Panggil Opa-nya mana?" ucap pria tua di samping Oma.


"Opa ...." Anan mengeluarkan cengiran dan ia mendapat usapan kepala oleh pria tua yang dipanggil Opa.


*


*

__ADS_1


*


Malam hari, Anna baru saja keluar dari kamar yang disiapkan untuk mertuanya itu. Anna melirik ke belakang sejenak, melihat ibu mertuanya baru saja usai menatarnya meminta ini itu yang harus diganti dan merubah posisi sebelumnya.


Usai mengatakan selamat malam kepada kedua orang tua suaminya itu, Anna menuju kamarnya sendiri. Di sana Amar telah mondar mandir menunggu sang istri.


"Apa mama masih memarahimu?" sambut Amar merentangkan kedua tangannya ketika menyadari istrinya telah selesai. Amar memeluknya sembari mencoba memasang indera pendengaran bersiap mendengar keluh kesah sang istri.


"Ini untuk pertama kali kedua orang tuamu menginap." Anna menyandarkan kepala pada dada suaminya.


Anna terkekeh mendengar cerita sang suami dan melepaskan pelukannya. "Seketika aku teringat pada masa pelarianku ke pulau seberang. Panas banget. Tapi mau gimana lagi. Semua harus aku jalani."


Anna pun duduk di atas ranjang memandangi pantulan bayangannya di dalam cermin rias. Ia mengusap perutnya yang kali ini telah berisi janin berusia sama seperti hamil Anan dulu. Di masa ia merasa sendiri meskipun tinggal satu atap dengan Amar.


"Kamu beruntung, Sayang. Nasibmu lebih baik dibanding kakakmu, Anan."


Amar memperharikan gumaman sang istri yang terus mengusap perut yang berisi benih mereka berdua. Amar pun duduk di samping sang istri menundukan kepala mencium perut itu.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih telah menjadi pelengkap kebahagiaan antara Papa dan Mama. Kali ini Papa mau ada gadis kecil yang mengisi keceriaan rumah ini karena kami sudah memiliki putra yang sangat tampan."


Anna tersenyuk menatap suaminya. "Kenapa kamu tak ingin anak laki-laki lagi? Bukan kah para pria itu selalu berharap memiliki anak laki-laki sebagai penerusnya?"


Amar tampak tercengang dan tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Anna. "Masa kamu lupa? Aku sudah memiliki putra. Bagiku, Anan adalah d4rah dagingku. Itu berlaku hingga nanti. Di mana Amar hanya menjadi sebuah nama dalam ingatan orang lain."


Anna menggenggam tangan Amar. "Seandainya dia tidak meninggalkan dunia ini, mungkin hingga saat ini antara kita hanyalah orang asing."


"Apa maksudmu?"


"Seandainya Luna masih hidup, mungkin tak akan ada kisah di antara kita. Bahkan, mamamu tampak sangat menyayanginya. Aku tahu, aku hanyalah wanita hin4 yang merebut kekasih seorang yang di ujung usia—"


Cup


"Ah, mungkin aku—"


Amar tak memberi kesempatan Anna berbicara menyumpal mulut sang istri dengan kecupan bertubi-tubi. Beberapa waktu kemudian, Anna mendorong Amar.

__ADS_1


__ADS_2