
"Menurutmu bagaimana?"
Anna menatap Amar dengan dalam. "Tapi, aku tidak memiliki rasa apa pun lagi padanya, sejak ia meninggalkanku di saat aku berharap banyak padanya."
Amar menghempaskan diri duduk di atas sofa empuk miliknya. Anna berjalan canggung melangkah pelan. Rasa di hati, ingin membuat suaminya percaya akan cinta yang telah utuh untuknya semenjak dulu. Meskipun Amar tak pernah menganggapnya ada. Walaupun Amar selalu sibuk untuk seseorang itu. Ternyata, jauh di lubuk hatinya terus tumbuh rasa tanpa ia sadari hadir di tengah tangis akan kesendirian.
Namun, lidahnya kelu untuk mengungkapkan itu. Ia tak ingin, di saat benar-benar jatuh mencinta, pria yang telah bersemayam dalam lubuk hati dan jiwanya pergi meninggalkannya, lagi.
Sementara itu, Amar tiada henti memperhatikan istrinya ini. Beberapa waktu hening meskipun suara sorakan Anan menggema di seluruh penjuru rumah itu. "Aku, mencintaimu. Aku takut kamu berpaling dan memilih kembali padanya." Tatapan Amar beralih pada Anan yang terlihat bahagia.
"Apalagi, dia memiliki kunci m4ti yang tak bisa dihapus untuk selamanya."
Anna mengusap lengan kirinya merasa canggung dengan suasana ini. "Bagaimana pun juga, dalam akte kelahiran Anan, kamu lah ayahnya. Jadi, kunci itu tak akan pernah terbuka lagi untuk selamanya. Ka-mu lah suamiku. Kamu lah a-yah dari anak-anakku." Anna mengeluarkan segala keberaniannya untuk mengungkapkannya.
Amar menarik Anna yang masih berada dalam posisi yang cukup jauh. Ia merangkul tubuh itu dalam dekapan menempelkan pipinya pada pipi sang istri. "Kenapa kamu selalu begini? Kapan kekakuanmu bisa hilang? Bahkan, saat ini kita telah sama-sama saling memiliki. Tak ada lagi rahasia di antara kita." Amar mengecup pipi Anna.
Anna memutar kepala menatap syahdu wajah pria yang mendekapnya ini. Sejenak, ia membelai dagu Amar dengan lembut. "Aku juga mencintaimu. Semenjak dulu."
Terdengar deruan napas panjang Amar. Ia melihat laki-laki itu tersenyum, dan kali ini Anna memberanikan dirinya untuk mengecup pipi suaminya itu. Amar tampak semakin girang, atas kelakuan wanita pasif ini.
"Nah, gitu dong. Masa aku terus yang memperlihatkan rasa yang aku punya." Amar mendekap hangat istrinya. "Seandainya semenjak dulu kita seperti ini, mungkin saja Anan sudah memiliki adik sebanyak lima orang." Amar tersenyum jahil memberikan kode dengan alis bergerak naik turun.
Anna mencubit pipi Amar, lalu menyandarkan kepalanya kembali dalam dekapan sang suami.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan hari, Amar membantu mengeringkan rambut Anna sembari menyibak rambut mengecupi l*her sang istri. "Bisa nambah lagi nggak sih?"
Anna melirik ke arah belakang. "Anan udah bangun. Nanti dia teriak kejer kayak kemarin kan repot banget."
Amar masih menembakkan hair dryer, pada rambut panjang istrinya. "Yaa, nanti aku kasih pesan sama Bibi biar ngurusin Anan."
"Anan udah nggak perlu diurusin sih. Aku sudah melatihnya mandiri semenjak kecil." Anna menatap suaminya lewat pantulan cermin.
"Tapi, dia itu masih perlu dibantu. Kamu terlalu keras mendidiknya dalam usianya yang masih terlalu dini."
Tok
Tok
Tok
Amar tersentak mendengar suara anak mereka dari arah luar. Matanya langsung melirik pada jam dinding, masih satu jam lagi dari jadwal masuk kelasnya. Ia menatap Anna dengan wajah pasrah.
"Sudah aku bilang. Dia itu bukan lagi seperti bayi yang mesti diurusin keperluannya." Anna menarik alat pengering rambut lalu menaruhnya di atas meja rias. Ia memberi kode pada suami yang masih memasang kimono mandi sambil berpindah posisi menuju lemari pakaian.
"Sekarang pakai dulu baju kerjanya!"
__ADS_1
"Nanti malam lagi ya? Aku mau praktek bermacam gaya buat malam ini." ucap Amar dengan wajah memohon.
Anna hanya mengulum senyum menyerahkan kemeja putih suaminya. Setelah itu membantu memasangkan kancing. Di sela itu, Amar tak henti mengecup wajah istrinya ini.
"Papaaaa? Udah bangun beluum?" teriak Anan.
"Tunggu! Papa lagi pakai baju kerja."
"Kamu siih, jelas dia udah nunggu, masih aja main-main?" Gerakan tangan Anna menjadi menjadi semakin lincah menyelesaikan tugas mengancingi kemeja yang kini terpasang.
Setelah beberapa waktu, usai sarapan bersama, mereka semua telah berada di atas kendaraannya. Tujuan lokasi pertama ialah sekolah Anan. Setelah memastikan Anan masuk sekolah, Amar mengatarkan istrinya ke lokasi kerja yang tak jauh dari sekolah Anan.
Namun, di sana tampak Zico telah berdiri bersama istrinya dan seorang yang tak dikenal. Saat melihat kehadiran kedua orang ini, mereka langsung menyerang dengan sejumlah pertanyaan tanpa sempat dijawab oleh Anna.
"Jangan ganggu istri dan anak saya lagi! Kalau kalian masih mengusik mereka, jangan salahkan saya jika surat panggilan dari polisi melayang di kantor kalian, atas tindakan tidak menyenangkan!"
Silvi bersidekap dada memandangi Amar dan Anna. "Jangan coba-coba menghindar! Saya membawa pengacara, atas permintaan tes DNA untuk anakmu!"
Anna berjalan dengan wajah dinginnya. "Kenapa tiba-tiba kalian begitu tertarik dengan anakku?"
Silvi tersenyum tipis, melirik suaminya yang memasang muka datar. "Saya ingin membuktikan bahwa anakmu, Anan, adalah anak suamiku juga."
"Lalu, apa keuntungannya bagi kalian?" sentak Anna dengan nada meninggi.
"Kami menginginkannya menjadi anak kami!" ucap Silvi.
__ADS_1
****************