
"Tapi, Mi ... Aku takut dia terus seperti itu? Aku tak ingin dia berubah."
Renata terkekeh melihat kecemasan yang nyata digambarkan oleh raut Anna. "Tidak apa, Sayang! Ini hanya sementara dan tidak lama. Jika dia lebih sensitif begini, jadi kamu harus lebih perhatian lagi terjadapnya."
Renata memberikan wejangan beberapa tips berumah tangga, sesuai dengan pengalaman yang ia rasakan bersama suaminya, Sugioni. Anna menganggukan kepala pertanda nasihat dari sang ibu, benar-benar akan dilakukannya nanti di saat bertemu dengan pria, yang kali ini benar-benar ia cinta.
*
*
*
Pada sore hari, seperti yang direncanakan tadi pagi, Anan telah berada di rumah orang tua angkat Anna. Namun, Anna tidak langsung ke rumah itu ketika ia mengusaikan pekerjaan di salon.
Ia memilih menuju ke kantor sang suami dan disambut oleh Darma, sang asisten yang selalu setia menemani suaminya.
"Waah, Nyonya Besar? Tumben sekali datang ke sini?"
Wajah Anna seketika merah mendengar candaan Darma barusan. "Jangan memanggilku begitu. Aku merasa tua jika kamu memanggilku demikian. Panggil Anna saja!"
Darma menggeleng cepat. "Nanti big boss akan marah kepada saya jika memanggilmu dengan tidak sopan. Bisa jadi keesokan harinya saya langsung dipecat oleh Pak Amar."
__ADS_1
Anna kembali terkekeh mendengar penjelasan dari Darma. "Suami saya belum pulang kan? Saya ingin pulang bersamanya."
Darma memasang wajah kikuk menggaruk kepala bagian belakang. "Iya, dia ada di dalam."
"Baik lah, saya akan masuk ke dalam." Anna langsung menyelonong membuka pintu ruang direktur tersebut.
Dan ia tampak sangat terkejut, melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. "Sayang?"
Anna mempercepat langkahnya dan segera mendekat, memandangi mulut sang suami yang penuh oleh potongan buah yang bercampur bumbu kacang.
"Aaah, ka-kamu? Kenapa tidak bilang-bilang akan datang ke sini?" Amar mempercepat mengunyah rujak itu.
"Bang, kamu makan rujak tidak ngajak-ngajak aku?" gumam Anna menatap Amar tak percaya.
Anna menarik box yang tepat berada di hadapan Amar. Namun, hal yang tak disangka dilakukan oleh suaminya. Amar dengan tega merebut rujak tersebut dari tangan sang istri.
"Bang, aku juga mau?" gumam Anna lagi mengerutkan wajahnya, sedikit merajuk.
"Jangan yang ini! Aku belum puas menikmatinya!" Amar menarik box berisi rujak itu menyendoki buah-buah yang tadi dengan cepat ke dalam mulutnya.
"Bang, aku juga maaauu!" Anna merengek dan wajahnya mulai merah.
__ADS_1
Melihat hal itu, Amar menekan tombol yang menghubungkan mejanya dengan Darma. Tak lama kemudian, terdengar suara ketuka pintu.
"Bapak memanggil saya?"
"Kamu belikan rujak yang kayak gini lagi untuk istri saya! Cepat!" titah Amar
"Tapi, aku maunya yang itu ...." Anna kembali merengek melihat rujak tersebut.
"Pak, Nyonya maunya yang ada di tangan Anda, bukan yang baru. Jadi, kasih aja? Kasihan baby yang ada di dalam rahimnya?"
Amar mendengkus melirik Darma yang ternyata membela istrinya. "Yang gaji kamu di sini sebenarnya siapa? Dia atau aku?"
*
*
*
Beberapa waktu kemudian Amar dan Anna telah berada di atas kendaraan. Saat ini mereka tak berbicara satu patah kata pun. Yang terdengar hanya suara deru halus kendaraan yang mereka tumpangi. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Anna untuk menjemput Anan untuk pulang.
Anna masih merasa kesal karena suaminya sama sekali tidak memberikan rujak tadi kepadanya. Sehingga, membuat Anna merasa sedih sekaligus dongkol karena suaminya tak mau mengalah untuk dirinya.
__ADS_1
"Naaah, kebetulan sekali Mami baru saja memasak menu kesukaan Anna. Ayo makan dulu sebelum pulang."
Namun, Amar yang memiliki kaki yang panjang melangkah duluan duduk di salah satu kursi di meja makan keluarga Candradinata itu membuat semua yang memandang tak berkedip.