
*YUHUUU ... SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN BUAT YANG MENJALANI YAAH ... SALAM SAYANG BUAT SAYANG-SAYANGKUH YANG UDAH MERAMAIKAN CERITA ANNA, AMAR, DAN ANAN. LOVE YOU ALL*
...****************...
Saat Zico bangun, ia tak lagi menemukan Anna di atas ranjang itu. Bias cahaya mentari telah masuk melewati ventilasi kamar hotel murah yang ia sewa itu.
"Wah, gawat? Dia ke mana? Tambang emas gue?" Zico buru-buru masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Ia segera mencari Anna ke rumahnya. Namun, sang ibu mengatakan Anna sudah menghilang semenjak pagi. "Kenapa Anna kamu biarkan pulang sendirian tengah malam?"
Zico hanya bisa menggaruk tengkuknya. Ia sendiri tidak tahu kapan Anna pergi dan menghilang. Tidurnya sungguh begitu pulas telah mencicipi keperawanan Anna yang membuatnya sungguh menggila.
"Hmm, maaf Tante. Saya juga kaget dia menghilang begitu saja."
Renata menatap Zico dengan wajah menyelidik. "Hubungan kalian baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"O-ooh ... kami baik-baik saja kok, Tan. Hanya tadi malam ada miscomunication di antara kami. Saya pun menyadarinya setelah Anna menghilang."
Renata masih belum memutuskan tatapan menyelidiknya. "Kau sungguh-sungguh mencintai anak kami kan? Jika kau hanya sekedar main-main, lebih baik kau menjauh sedari awal! Kami tidak akan membiarkan putri cantik kami terluka oleh siapa pun. Apalagi hanya karena seorang laki-laki.
"Ba-baik, Tan. Jangan khawatir. Saya sangat mencintai Anna dan akan berjanji akan selalu menjaganya dalam sebuah ikatan kesetiaan." Zico menjawab keraguan hati ibu dari gadis yang sengaja ia n0dai.
'Jika Anna sudah kunikmati, maka tak akan ada lagi yang mau dengannya, bukan? Anna tak akan berani mendekati laki-laki mana pun lagi. Dia sudah kuikat dengan penjara yang tak terlihat oleh siapa pun.'
Setelah diinterogasi oleh Mami Renata, Zico pamit dan mencari Anna ke suatu tempat. Tempat itu tak lain adalah sanggar wushu, tempat ia berlatih bela diri itu selama ini. Anna tampak memainkan pedang panjang dengan gerakan indah.
Beberapa waktu setelah Anna menghentikan latihannya, netra Anna tepat menyadari kehadiran Zico. Anna mengambil handuk kecil dan menyeka keringatnya berlalu dan meninggalkan ruangan luas hanggar itu.
Zico segera mengejar Anna. Setelah dekat, ia segera menangkap genggaman Anna, tetapi ditepis oleh gadis itu. Anna membelakangi Zico.
"Mau apa lagi kau?"
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu marah?" Nada suara Zico begitu rendah menghiba braharap meluluhkan hati Anna.
"Katakan padaku, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?" Anna tak memalingkan sedikit pun wajahnya.
Zico memeluknya dari belakang. "Aku mencintaimu, aku hanya ingin kau tahu betapa besar rasa cintaku ini padamu."
"Jika kau cinta, harusnya kau menikahiku! Bukan meniduriku sebelum ikrar suci kau keluarkan dari mulutmu itu." Anna masih dalam keadaan bertahan. Rasa malu dan jij1k pada diri sendiri, membuatnya tak bisa menatap kekasihnya itu dengan lurus.
"Anna, aku mencintaimu. Ayo kita menikah!" Zico masih memeluknya dari belakang.
Sementara itu, gadis yang baru saja dilamarnya tertegun beberapa waktu. Setelah hening menguasai keadaan sekian menit, Anna menghela napas panjang. "Jika kamu memang serius ingin menikah denganku, lamar aku di hadapan kedua orang tuaku. Bawalah keluargamu sebagai bukti keseriuasanmu!"
"Tentu, hari ini juga aku akan mengajak orang tuaku untuk bertemu keluargamu." Zico memutar tubuh Anna, sehingga dua pasang netra itu bertemu dalam satu kehangatan.
Raut wajah Anna yang kaku sedari tadi, kini berubah sendu dan penuh haru. Zico menarik dagu itu dan mengecup bibir Anna. "Tapi, kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Karena gajiku masih sangat kecil."
__ADS_1