
Anna terlihat kecewa. Ia memilih beranjak dari sisi suaminya. Anna sendiri tidak mengerti alasan ia tidak mau jauh-jauh dari Amar.
Amar menatap punggung Anna dengan wajah heran. Ia menggaruk pelipisnya bingung dengan sikap sang istri yang berubah-ubah dalam waktu yang relatif singkat.
Anna langsung menuju kamarnya. Amar mengejar Anna, tetapi pintu kamar dihempaskan kassar oleh wanita yang ada di dalam.
Laki-laki itu menghela napas panjangnya. Ia menarik gagang pintu dan beruntuk tidak dikunci. Anna terlihat lelah menyandarkan diri pada kepala ranjang di kamar ini. Anna melihat Amar sejenak, laku membuang muka.
Amar melangkah berlutut di atas lantai. Ia menarik tangan istrinya yang tadi berpangku pada dada. "Sayang, dengar kan aku dulu. Aku tadi ngomong, bukan karena aku tidak suka. Tapi, sepertinya bayi kita yang membuat kamu bersikap seperti kucing ini kan?" ucap Amar mengusap perut Anna.
Anna tak menengok sama sekali ke arah Amar. Amar tersenyum kecut mendapati sikap istri yang dingin persis sama seperti dulu. Amar mengusap perut Anna dengan lembut.
"Sayang, mamanya jangan dibikin naik turun seperti naik roolercoaster gini dong? Kasihan papamu ini? Padahal, waktu hamil Kak Anan, mamamu nggak ngambekan kayak gini lho?" Amar mengecup rahim Anna, menbuat wajah Anna refleks berputar menunduk menatap suaminya itu.
cup
Amar tak menyiakan kesempatan mengecup bibir istrinya. "Maafkan aku, Sayang. Aku seneng kamu manja-manja sama aku. Setelah ini, aku nggak akan tanya-tanya lagi." Wajah Amar terlihat memelas.
"Jangan marah lagi ya? Please?" Amar memasang wajah seimut mungkin.
__ADS_1
"Papa, Mama ... Ayo makaaan. Bibi udah nyiapin makan buat kita," ucap Anan mengintip pada celah pintu.
*
*
*
Keesokan siang hari, Anna menunggu kepulangan Anan yang dijemput suaminya. Dari arah luar, terdengar suara kendaraan yang masuk. Anna merapikan meja makan yang telah disiapkan. Ia menyangka itu adalah suara mobil sang suami.
"Loh? Anna? Kamu ada di sini?"
Karena ia tahu, kedua mertuanya beberapa waktu terakhir melakukan perjalanan bisnisnya di luar negeri. Anna segera mendekat memasang senyuman paling ramah dari yang ia miliki.
"Mama dan Papa sudah pulang? Kapan sampainya?" tanya Anna dengan seramah yang ia mampu.
"Kenapa kamu berada di sini? Bukan kah kamu memilih untuk pergi dari putra kami?" Nada bicara sang ibu mertua benar-benar terdengar cukup menu5uk perasaan Anna.
"Kami sudah rujuk kembali, Ma," jawab Anna sendu dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Rujuk?" Sang ibu mertua tertawa terpaksa, wajahnya tampak tak percaya.
"Apa yang kau lakukan pada putra kami hingga membuatnya begitu susah lepas dari belenggu wanita tak berguna sepertimu?'
Tubuh Anna bergetar mendegar ucapan tajam dari mulut ibu mertuanya. Ia menundukan kepala menahan hati dan air mata. Anna teringat kembali pada sikap ibu mertuanya ini kala Amar baru saja menyelesaikan operasi pendengaran dulu.
"Ayo, Ma, silakan duduk," ucap Anna meskipun hatinya sudah tak kuasa untuk menyambut ibu dari suaminya ini.
"Makasi, Anna. Syukur lah kalau kamu kembali lagi kepada Amar, anak kami. Kami beberapa kali pulang setelah kamu menghilang dulu. Dia sungguh sedih." ucap ayah mertua.
"Iya, Pa. Maafkan aku yang waktu itu masih kekanakan."
"Kami saat kamu pergi itu, kamu sedang hamil kan? Apa kamu yakin, anak yang kamu hamil dulu itu adalah cucu kami?" ucap ibu mertua Anna.
"Ma-maksud Mama?" tanya Anna gugup.
"Yaa, barangkali aja itu bukan anak Amar. Karena kami tahu, Amar itu sangat mencintai Luna. Tak mungkin mau menyentuh kamu."
Anna mulai terisak mengusap perutnya.
__ADS_1