
Ini tulisanku di rumah sebelah ya Kakak semua. Mari ramaikan juga, romansa, aksi, dan thriller. Ada bucin akutnya juga. Ayoo bantu diramaikan ya ðð
Ini bagiannya banyak yang dipotong. Selengkapnya ada di sana. (yg dpanya F)
"Sudah siap, Sayang?"
Seorang wanita berpakaian pengantin dengan gaun warna merah, riasan pada wajahnya masih penuh memperkuat keanggunan dan kecantikan wanita yang diajak bicara. Senyuman di bibir menyemburatkan rona kebahagiaan karena ia telah dipersunting oleh pria yang ia cintai.
Akel Harryendra, rela melintas pulau demi mencari kekasih yang ia kenal secara online. Gadis cantik yang saat ini menjadi istrinya itu ditarik ke sebuah hotel demi menikmati malam pengantin tanpa gangguan.
Akel, memeluk Yuki, dan membisikkan kata manis tepat di telinga sang istri. "Bagaimana, Sayang? Akhirnya kita bisa bersama setelah perjuangan panjang ini."
Dengan malu-malu, Yuki mengangguk menyandarkan diri dalam dekapan suaminya. "Ini adalah kebahagiaan yang tak terhingga, Aa ... aku mencintaimu."
Perlahan, Akel menarik risleting gaun pernikahan yang sedang dikenakan istrinya. Wajah Yuki mulai menegang karena hal ini. "Aa ...."
"Jangan takut, Sayang. Kita ini sudah menikah, aku akan melakukannya dengan baik."
Yuki menggenggam kemeja merah yang masih terpasang pada pakaian Akel. Perasaannya sungguh campur aduk, tiba-tiba malam ini mereka telah duduk di atas ranjang yang sama. Pria yang baru dijumpai seminggu lalu, setelah sekian lama menjalani cinta secara online, kini telah menjadi suaminya.
"Kamu bantu membukakan kancing kemejaku ya? Aku akan membuka gaun indahmu ini."
Dengan perasaan ragu, Yuki membuka kancing itu satu per satu. Sementara Akel, terus menurunkan gaun itu secara perlahan, dari pundak hingga turun terus ke bawah.
Mata pria berusia dua puluh lima tahun itu, terbelalak memandangi semua yang tertutup rapat selama ini. Perlahan ia mengecup pundak Yuki. Yuki tersentak, karena ini adalah yang pertama baginya.
"Tenang lah, Sayang. Jangan takut," ucapnya lembut sembari memeluk sang istri.
"Cantik, seperti wajahmu." Ia mulai menarik istrinya dengan mesra. Baginya, malam ini juga yang pertama. Namun, ia telah mempelajari segalanya lewat video pemersatu bangsa yang membuatnya benar-benar tak tahan untuk mempraktikkannya.
Yuki meringis dengan apa yang dilakukan suaminya pada dua benda kembarnya itu.
"Enak, Yang?"
Yuki menggigit bibirnya dan mengangguk memeluk suaminya itu.
Akel melucuti gaun yang masih melekat pada tubuh sang istri dan kali ini membuat benar-benar terpampang nyata di wajahnya. Ia segera melepaskan kemeja dan melepaskan pengait celana dan zipper yang membuat sesuatu yang tersembunyi memberontak karena sesak.
Akel segera melanjutkan ...
"Kamu sudah siap, Sayang? Kamu boleh menggigit apa pun yang ada pada diriku, agar aku juga turut merasakan bagaimana sakit yang kamu rasakan."
Yuki mengangguk masih belum bisa membayangkan apa yang dimaksud oleh suaminya. Akel mulai merambah bagian yang telah basah oleh pelumas dan memasukkannya perlahan.
"Agh ..." Yuki menggenggam kuat kedua lengan suaminya.
"Tenang, Sayang. Sakitnya nggak akan lama kok." Dia kembali mencoba dan kali ini langsung didorong dengan kuat membuat Yuki meronta menggigit pundak Akel.
"Gimana, Sayang? Enak?" goda suaminya.
"Sakit, Aa ... perih banget," ringis Yuki sayu.
"Gak apa sayang, itu tandanya aku adalah orang pertama bagimu. Kamu pun pertama bagiku."
__ADS_1
Yuki memeluk suaminya bersandar pada dada bidang itu. "Jangan pernah tinggalkan aku. Aku milikmu seutuhnya."
*
*
*
"Bu, Yah ... aku akan ikut dengan suamiku ke kota Bandung." Yuki berpamitan dengan uraian air mata yang tiada henti.
Sang ibu memeluk putri bungsunya itu sesegukan merelekan anak yang tidak pernah meninggalkan mereka, kini pergi mengikuti kota asal sang suami.
"Nak, Akel ... jagalah putri Ibu dengan baik. Dia mungkin kekanakan, dia mungkin ceroboh, tapi Ibu minta kamu menyayanginya layaknya kami kepadanya."
"Baginya, ini adalah kali pertama untuk jauh dari kami berdua. Jadi, jangan biarkan ia merasa sendiri berada di sana."
"Ibu jangan khawatir, aku berjanji tidak akan membuatnya kesepian di sana. Ayah dan Ibu jangan khawatir. Aku akan sering mengakaknya pulang ke sini."
Mertuanya itu sesegukan dan menganggukkan kepala. Sementara, ayah mertu tak banyak berkata. Hanya menepuk lengan Akel beberapa kali dan menganggukkan kepala.
"Hati-hati berkendaraan! Jika kamu capek, istirahat dulu!" nasihat sang ayah mertua.
"Baik, Yah. Jangan khawatir."
Lalu mereka masuk pada mobil mewah yang sengaja dibawa Akel dari kota asalnya untuk menjemput sang istri. Awalnya ia datang bersama rombongan keluarga. Namun, urusan pekerjaan membuat kedua orang tua dan adiknya yang masih sekolah harus pulang lewat jalur udara.
"Bismillahirrahmannirrahim." Akel menggenggam tangan Yuki dan tersenyum bahagia.
Sementara istrinya masih melambaikan tangan kepada keluarga yang akan ditinggalkan. Di dalam kendaraan luxury-MPV itu telah penuh terisi oleh benda-benda milik Yuki yang akan dibawa ke kota asal Akel.
Akel Harryendra, adalah seorang jaksa yang baru saja lolos dalam jalur PNS. Namun, ia memiliki ayah yang kaya raya bekerja di dalam bisnis poperti.
Namun, setelah ia memiliki penghasilan sendiri, dengan berani ia datang mengajak orang tuanya melamar sang gadis dan langsung menikah dalam acara sederhana. Semua hanya berselang waktu satu minggu, dan mereka sah menjadi suami istri.
Kendaraan itu akhirnya melaju, menerabas kelamnya hutan dan kebun membelah jalur tengah Pulau Sumatra. Siang malam mereka lalui, dan beristirahat di sebuah hotel yang mereka temui di saat lelah melanda.
Hingga akhirnya mereka sampai di ujung selatan pulau ini. Mereka telah sampai di pelabuhan bersiap untuk menyeberang menuju kota kelahiran Akel.
"Aa, aku takut." Yuki menggenggam tangan suaminya sedikit gemetar melihat kapal penyeberangan yang akan mereka tumpangi terlihat rapuh.
"Kamu tenang saja, Sayang. Insya Allah aman. Aku juga menaiki ini saat mengejarmu sampai ke kota bengkoang sana." Akel membelai lembut kepala Yuki yang mengucurkan peluh dingin.
"Apa perlu kita tunggu kapal yang lain saja?"
Akel melirik jam pada tangannya. "Aku akan tanyakan dulu ya?" Akel turun dan berjalan menuju pusat informasi penyeberangan pada pelabuhan tersebut.
"Hah? Enam jam lagi? Bukannya kapal berangkat tiap dua jam?" tanya Akel sedikit terkejut dengan informasi yang baru ia dapat.
"Beberapa kapal sedang melakulan pengecekan dan perbaikan. Jadi, yang ready perjalanan berikutnya adalah kapal yang menyeberang enam jam lagi."
Mendengar informasi tersebut, Akel menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal. "Terima kasih, Pak, atas informasinya."
Yuki memperhatikan raut wajah suaminya yang terlihat kusut melangkah pada kendaraan mereka. Ia menyambut kedatangan suami yang terlihat kusut itu dengan serentetan pertanyaan.
"Kenapa, Aa?"
__ADS_1
"Sepertinya kita harus menunggu enam jam lagi jika kita tidak menaiki kapal ini."
Yuki bisa mendengar dengan jelas semburat rasa khawatir yang keluar dari bibir suaminya. "Apa Aa mau menunggu hingga enam jam lagi?"
"Ya, terserah kamu sih. Tapi kalau enam jam lagi itu, kita sudah sampai di rumah dan beristirahat di sana. Tapi, terserah kamu saja."
Yukita akhirnya merasa luluh mendengar penjelasan sang suami. Akel terlihat sangat lelah. Esok ia harus masuk bekerja kembali karena cuti yang ia minta, jatahnya telah habis.
"Ayo kita naik saja." Yuki menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya itu.
"Tapi, kamu kan takut. Aku tidak mau membuatmu trauma dengan perjalanan ini."
"Tidak apa, aku akan merasa tenang jika bersamamu."
Wajah tampan Akel melirik istri cantiknya itu. Dengan sedikit merasa gemas, ia mencubit dagu sang istri.
"Duh, istriku udah pinter menggombal." Ia menarik dagu Yuki dan mengecup bibirnya.
Mobil mewah yang dikendadai Akel akhirnya bergerak menyeberangi jembatan yang disediakan untuk naik ke atas kapal. Suasana sore dengan angin laut yang cukup kencang membuat Akel memasangkan jaket yang cukup tebal untuk istrinya.
Setelah itu ia menarik istrinya menuju ke atas DEK melihat pemandangan laut yang lepas. Namun, Yuki yang teringat nahasnya kisah film lama yang ia tonton, membuatnya tiada henti melepakan rangkulannya pada lengan Akel.
"Kamu jangan takut! Makanya, jangan nonton film kapal tenggelam terus! Kamu jadi parnoan kayak gini kan?"
tuuuut
tuuuuut
tuuuut
Terdengar kode bahwa kapal akan segera bergerak meninggalkan pelabuhan. Yukita Marsya, menggenggam lengan Akel dengan semakin erat. Akel terlihat gemas akan tingkah istrinya yang berumur 22 tahun itu.
"Masa kamu kalah sama anak kecil itu, Yang." Akel menunjuk anak kecil yang berlari-larian senang berlari karena kapal ini mulai bergerak.
Yuki menutup matanya. Ia merasa takut dan pusing. Hal ini membuat Akel mengajak sang istri duduk di dalam bagian kapal.
"Tenang, Sayang. Sabar ya? Penyeberangan ini hanya membutuhkan waktu selama satu setengah jam saja. Sebentar kok."
Yuki mengangguk mendengar penjelasan suaminya ini. Ia tak melepaskan lengan Akel sedikit pun, hingga menarik perhatian semua penumpang kapal menganggap tingkah Yuki terlalu berlebihan.
bruuuukkk
Semua orang yang berlalu lalang terjatuh, dan Yuki yang sedari tadi menggenggam tangan Akel membuka mata lebar-lebar melirik ke kiri dan ke kanan.
"Apa yang terjadi?"
"Nggak apa kok, ini sudah biasa kok," ucap Akel menenangkan.
Yuki melirik ke kiri dan ke kanan. Jantungnya berdetak semakin cepat. Hal ini terjadi tentunya memiliki alasan. Alasan yang tidak mereka ketahui.
Kapal yang mereka tumpangi mengalami kelebihan muatan. Hal ini membuat nakhoda tidak dapat mengendalikan kapal dengan baik. Kapal terus semakin turun dan menabrak material yang ada di dalam lautan.
"Apa yang barusan kita tabrak?" tanya sang kapten yang mengendalikan kapal tersebut.
Di dalam layar komputer, operator mengecek apa yang terjadi. Mereka berada tepat pada titik pertumbuhan Terumbu Gosal yang selalu tumbuh membesar.
__ADS_1
Lubang yang tadinya kecil, terus mendapat tekanan tinggi karena bobot kapal yang sangat berat kelebihan muatan. Hal ini membuat air yang tadinya masuk tidak terlalu banyak, masuk semakin deras.
Hanya dalam hitungan detik, lambung kapal dipenuhi air hingga setinggi lutut, tanpa para awak sadari