
"Jadi begitu caramu membicarakan mertuamu?"
Anna menatap nanar pada suaminya. Akhirnya memilih menundukan kepalanya kembali. "Temani lah mereka! Kamu bisa mengabaikanku," ucap Anna setengah berbisik.
Amar memutar kepala melirik sang ibu yang terus melemparkan cecaran kepada istrinya. "Ma, sudah ya? Jangan membuat Anna terus terpojok seperti ini. Dia ini sedang mengandung anakku. Aku mohon jangan membuatnya stress seperti ini."
Sang ibu terdengar sedikit mendengkus. Lalu melangkah pergi dari tempatnya mengintip tadi.
Sementara itu, Amar menarik Anna untuk bangkit. "Ayo lah, kita makan sama-sama. Kasihan anak kita yang ada di dalam sana."
Dengan perasaan berat, Anna mencoba untuk bangkit, tetapi akhirnya melepaskan genggaman Amar setelah ia berhasil dalam posisi tegak. "Kamu duluan saja." Anna berjalan menuju lemari berisi peralatan makan.
Namun, Amar tak bergerak sedikit pun sengaja menunggu sang istri. Anna melirik dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Sudah berapa kali ku katakan? Pergi lah! Temani mereka." Anna merasa takut jika ibu mertuanya malah semakin berprasangka buruk terhadapnya.
"Aku tidak akan pergi satu langkah pun tanpa kamu." Ia merebut benda-benda yang dikeluarkan oleh Anna. "Biar aku yang membawakannya untukmu."
Amar memberikan kode agar Anna juga melangkahkan kakinya menuju bagian ruang makan. Anna berjalan terlebih dahulu, memperhatikan apa yang dilakukan oleh ibu mertua. Ia menilik makanan yang ada di atas meja.
"Ini semua masakanmu?"
Anna menyadari sang ibu terlihat tidak senang saat putra kesayangannya melakukan segala. Anna segera merebut peralatan tersebut, dengan maksud agar dia sendiri yang melakukannya. Namun, Amar mengelak membuat gelas terguling dan ... Praaaang ...
Gelas kaca jatuh membuat sang ibu mertua terbelalak dan semakin emosi. "Sebenarnya dalam rumah tangga kalian ini, guna pembantu kalian sewa itu apa? Kenapa malah kamu yang dijadikan pembantu oleh istrimu?"
Kreeek
__ADS_1
Terdengar suara pintu dibuka dari arah kamar Anan. Seorang lelaki muda berjalan cepat mendekat ke arah mereka. "Anan mendengar ada yang pecah? Mama, Papa, dan Nenek tidak terluka kan?" Anan bergantian melirik pecahan gelas yang ada di lantai dengan tiga orang yang berada di dekat pecahan benda itu.
Meskipun tidak mendapat jawabab, bocah itu berlari kecil menuju arah dapur. Tak lama kemudian, kedua tangan Anan telah memegang benda yang berbeda fungsi. Sisi kiri memegang pengki, dan sisi kanan memegang sapu.
"Maaf ya Nek, Anan minta izin untuk membersihkan pecahan ini. Nenek jangan deket-deket ya? Nanti Nenek terluka." Anan memberi kode pada wanita yang ada di dekat sana untuk sedikit menjauh.
"Biar Mama saja yang membersihkan semua." Anna mencoba merebut dua benda yang akan digunakan oleh Anan.
Namun, bocah itu menggeleng cepat. "Biar Anan aja, Ma. Anan kan udah biasa bantu-bantu Mama. Apalagi Mama lagi ada dedek di dalam perut Mama. Mama pasti capek kan? Udah masak buat kami, melakukan segala buat kami, masa ini juga Mama yang urus? Kan kasihan Mama."
Anan menatap dengan mata berkaca. Tak kalah seperti apa yang dirasakan oleh mertua Anna. Ia melihat anak sekecil ini saja sudah biasa membantu orang tuanya.
"Kamu sini! Apakah ibumu memang sekej4m itu menyuruh-nyuruh kaum pria bekerja?"
__ADS_1