
Amar yang tadi sudah mabuk berat, seketika rasa mabuk itu hilang begitu saja.
"Anna? Kamu?"
Amar melempar ponselnya itu dengan sangat keras. Sehingga, ponselnya yang tadi mengeluarkan cahaya pada layarnya, kali ini menghitam dan padam. Darma langsung memungut benda itu dan memeriksa kondisinya.
"Pak, hape Anda rusak?" seru Darma.
Amar melihat benda yang ada di tangan Darma. Lalu, memilih untuk bangkit dan pergi meninggalkan lokasi. Ia meninggalkan Darma melaju dengan sangat kencang.
Menyetir dalam keadaan mabuuk membuat pandangannya cukup buram. Jarum pada speedometer kendaraan itu terus bergerak naik dan terus bergerak ke kanan.
Pada perjalanannya yang gelap, tanpa sadar menginjak jalan berlubang yang cukup dalam, hingga membuat roda kendaraannya meletus. Mobil yang ia kendarai oleng dan tidak terkendali.
Amar menginjak rem dengan kuat, tetapi kendaraannya masih bergerak membentur tiang listrik.
Suara hantaman terdengar begitu hebat. Tubuh Amar terbanting ke bagian depan, lalu ia pingsan.
Praaaang
"Aaaaah ..." Nenek Andari yang baru saja mengambil gelas, terlepas begitu saja hingga membuat suasana malam sepi di rumah itu langsung menjadi meriah.
__ADS_1
Nenek Andari memegang dadanya yang berdegup dengan sangat kencang. Tubuhnya hampir ambruk tetapi bertopang pada meja dengan cepat.
"Nenek?" Anna langsung keluar dari kamarnya setelah mendengar suara gelas pecah. Anna membantu memapah Nenek Andari yang terlihat sangat kesakitan memegang dadanya.
"Nenek, sakit bagian mana?" Anna membantu Nenek Andari duduk di atas kursi di area makan itu.
"Tiba-tiba, napas Nenek terasa sangat sesak. Nenek kepikiran dengan Amar."
"Kenapa dengan Bang Amar, Nek?" Anna mengambilkan segelas air yang baru, lalu mengambil sapu, pengki, dan kain pel. Guna membersihkan pecahan gelas yang baru saja terlepas dari tangan Nenek.
Setelah minum beberapa teguk, perasaan Nenek menjadi sedikit lega. "Nenek tidak tahu, hanya saja ... Nenek merasa sesuatu buruk baru saja menimpa dia."
Akan tetapi, entah kenapa perasaannya malah menjadi seperti ini. Ia menatap bingkai foto yang memperlihatkan dirinya sedang dipeluk oleh cucu kesayangannya itu.
"Kalau begitu, Nenek istirahat aja yuk? Aku antarkan Nenek ke kamar." Anna merangkul lengan Nenek Andari yang sudah layu, dipenuhi keriput. Mereka semua beristirahat di kamar masing-masing.
Pada pukul tiga dini hari, sebuah mobil berdiri tepat di depan pagar rumah Nenek Andari. Pria paruh baya itu sudah mencoba menghubungi ibunya yang biasa dipanggil anaknya dengan Nenek.
Pagar tinggi itu terkunci dengan gembok besar dari arah dalam rumah. "Huh, terpaksa manjat pagar." Tanpa pikir panjang, pria paruh baya yang tak lain adalah ayah kandung Amar, memanjat pagar dengan ketinggian dua meter.
Setelah masuk di halaman, ia segera menuju pintu masuk dan menggedor rumah tersebut dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Mah? Maaaah? Maaaaaah?"
Tok
Tok
Tok
Nenek tidur dengan pulas, sehingga tidak mendengar panggilan yang cukup keras itu. Berbeda dengan Anna, ia langsung tersentak mendengar panggilan tersebut.
Namun, waktu yang belum terang membuat Anna sedikit was-was dan takut. Karena tidak ada orang yang bertamu pada dini hari seperti ini.
Ini pasti ada hal yang sangat penting. Tidak mungkin ada yang datang sepagi ini, bahkan melompati pagar yang terkunci.
Anna pun berjalan masih dengan langkah hati-hati menuju pintu masuk rumah tersebut.
"Maaah, ini aku Mah. Fajar ... Amar baru saja mengalami kecelakaan, Maa ... Buka pintunya, Maaaa!"
Anna bagai tertohok mendapat berita seperti itu. Ia membuka pintu dengan segera, tetapi ambruk pada tubuh ayah mertuanya.
"Loh? Kamu?"
__ADS_1