Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
41. Membuatnya Menyesal


__ADS_3

Namun, Anna mendorong Amar. "Aku ke sini bukan untuk mencarimu."


Tubuh Amar terdorong dengan tangan mengambang menyadari Anna tampak berbeda. Anna masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu dan menguncinya. Telinga Anna menempel pada daun pintu mendengarkan reaksi pria itu.


"Apa yang terjadi? Katamu Anna sedang tidur di sana? Kenapa dia malah dari luar?"


"A ... hmm ..." Amar menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal sama sekali.


"Anna ... Anna? Apa yang kamu lakukan di dalam sana?" Nenek memanggil dengan suara mendayu.


Anna mengangkut benda asal miliknya. Ia membuka kembali pintu tersebut dan keluar berdiri tepat di hadapan Nenek. "Aku mau mengambil benda kesayanganku ini, Nek."


Amar memandangi Anna dari ujung rambut hingga ujung kepala. 'Ah, apa yang aku pikirkan? Luna baru saja pergi, kau sudah begini!'


"Aku pergi dulu, Nek." Anna melewati Amar tanpa menoleh sedikit pun kepada Amar, seolah pria itu hanya lah sebuah benda transparan yang tidak terlihat.


Tangan Amar telah bergerak ingin menangkap dan menahan Anna. Nenek bergerak lebih cepat menahan tangan Amar.


"Katakan kepada Nenek! Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua? Sejak kapan dia pergi? Apa kamu tidak pernah berniat mencarinya?"


Amar menatap tangan Nenek yang menggenggamnya dengan erat. "Nek, nanti aku akan menceritakannya semuanya. Tapi, tunggu dulu ... Aku mau bicara dengan Anna dulu sejenak." Amar berusaha melepaskan genggaman tangan neneknya

__ADS_1


Nenek Andari tidak melepas genggaman tangan cucunya ini. "Kamu mau ke mana? Nenek mau bicara, kamu malah pergi. Nenek ingin tahu alasan dia pergi darimu. Apa yang kamu lakukan padanya?"


Amar menatap panjang pada pintu yang terbuka dengan sangat lebar. Ia tak bisa menolak bila Nenek sudah mulai meminta. Dia hanya menggelengkan kepala, lalu tertunduk.


"Apa maksudnya?! Kamu itu laki-laki! Harus tegas!"


"Entah lah, Nek. Aku juga tidak tahu penyebab dia akhir-akhir ini marah padaku." Ama mengusap wajah dengan kedua tangannya dengan kasar.


Sepintas, Nenek melihat bayangan aneh di sekitar pundak Amar. Nenek menarik kerah baju Amar dan Nenek tersentak tak percaya. Amar langsung mengambil posisi siap dengan apa yang akan dilakukan oleh ibu dari ayahnya ini.


"Siapa yang izinkan kamu men-tatto tubuhmu, hahh?" Nenek menarik telinga Amar dengan sejadinya.


Amar meringis kesakitan yang teramat luar biasa. "Ammpuun, Nek. Aampuuun," pekiknya.


"Apa tujuanmu coret-coret tubuh dengan tato mengerikan begini di tubuhmu?" Nenek masih menarik telinga Amar dengan sangat kuat.


"Kau pikir Anna akan tergila-gila melihat tato tubuhmu itu?"


*


*

__ADS_1


*


Sesuai rencana dengan Nenek, Anna langsung meninggalkan lokasi setelah akting mini yang diminta Nenek ini. Ia sedang mencari tumpangan untuk segera meninggalkan tempat ini, tetapi jaringan di ponselnya malah eror.


Sesekali Anna melirik ke belakang khawatir diikuti oleh Amar. "Duh, kenapa hapeku eror di saat genting begini?"


Tiiiiin


Suara klakson mobil mengejutkan Anna yang sedang panik. Pintu pengemudi mobil itu terbuka, muncul pria yang ia kenal. "Mau ke mana, Neng Cantik?" sapa pria yang tak lain Dokter Yoga.


Anna melirik kembali ke arah belakang. Tanpa pikir panjang dan permisi, Anna masuk begitu saja ke dalam kendaraan itu. Dokter Yoga hanya menggelengkan kepalanya merasa sifat Anna cukup lucu.


Dokter Yoga memperhatikan Anna, ia terlihat gelisah. Tanpa sadar, tangannya menggenggam tangan Anna. "Kamu jangan takut lagi, ada aku di sini."


...****************...



Ayo kakak semua ... Mampir pada karya sahabat Author lagi ya ... Siapa tau kakak-kakak baik menyukai ini.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2