
"Sssttt! Jangan mengkhawatirkan segalanya. Sekarang kamu istirahat aja. Aku tidak mau jika baby yang ada dalam kandunganmu kenapa-napa."
Amar mengajak Anna berbaring di atas ranjangnya kembali. Ia menyelimuti Anna dengan benda lembut hangat yang ada di atas ranjang. "Kamu istirahat saja dulu ya. Semua urusan, serahkan padaku! Nanti, masalah salonmu akan aku serahkan kepada Darma. Sementara itu, Anan biarkan aku yang mengurusnya." Amar mengecup kening sang istri.
Anna mengulas senyuman manis. Ia membalas kecupan Amar dan memeluknya. "Kamu jangan ke mana-mana," rengeknya.
Amar melongo mendengar rengekan barusan. Selama ia mengenal Anna, tak pernah ia mendapati istrinya bermanja ria padanya. Namun, kali ini sepertinya berbeda.
"Aku harus membantu anak sulung kita beres-beres dulu. Nanti mau mengantarnya ke sekolah juga. Jadi, kamu tunggu aku ya? Aku usahakan pulang kerja secepatnya."
Anna menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh menurunkan kaki. Ia bangkit dan bergelayut manja pada lengan Amar. "Aku ikut yah?" Anna menarik Amar keluar dari kamarnya.
Mereka berdua menuju kamar Anan dan mengetuk pintu sang putra. Tak lama, pintu langsung dibuka dan Anan ternyata telah siap dan rapi. Kamar putranya itu juga sudah tertata dengan rapi.
"Nah, kan? Anan itu tidak perlu dipusingkan. Dia sudah terbiasa mandiri," ucap Anna mengusap kepala Anan.
"Ma, apa Anan boleh peluk Mama?"
Anna melepaskan rangkulan manjanya pada sang suami. "Tentu, Nak." Anna beralih menunduk memeluk Anan.
__ADS_1
"Love you, anak Mama. Kamu rajin belajar ya? Biar pinter dan bisa meraih cita-cita."
Anan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Anna. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Sikap Anna semakin hari semakin lembut padanya. "Anan juga sayang sama Mama. Mama sehat-sehat ya?"
"Iya, Mama harus sehat. Demi kamu dan adikmu."
Anan melepaskan pelukannya. "Anan punya adik? Mana adik Anan, Ma?" Anan melirik kiri kanan sumringah mencari sesuatu.
"Di sini." Tangan Anan ditaruh di perutnya. "Adikmu masih sembunyi di sini."
Anan terlihat kebingungan. "Kenapa bisa sembunyi di sana, Ma? Jadi adik Anan kecil banget ya? Kok bisa ngumpet dalam perut, Mama? Bagaimana cara Anan bisa meluknya?"
Anan memutar bola mata menatap langit-langit kamarnya. "Adik cowok boleh juga. Jadi, Anan punya temen buat latihan." Anan kembali berpikir.
"Adik cewek juga boleh. Anan juga bisa latihan bareng dia kok. Kan Mama aja jagoan keren."
Amar merangkul Anna yang tersenyum melihat tanggapan anak sulungngya. "Syukur lah kalau kamu menyukai kehadiran adikmu. Tapi ingat, jangan maksa ya? Kalau adikmu tidak suka wushu, jangan dipaksa."
Anan mengangguk cepat. "Baik lah, nanti kalau adik Anan mengajak main boneka, Anan yang akan menemaninya."
__ADS_1
Tak lama kemudian, keluarga kecil itu mengantarkan Anan ke sekolah. Anna tal sedikit pun melepaskan pelukannya dari Amar. Sehingga semua siswa di sekolah Anan memandang hal tersebut, menjadi bahan ledekan baru buat Anan.
Namun, kali ini Anan tidak menanggapi ledekan kawan sekolahnya. Karena baginya, suasana seperti saat ini sungguh sangat indah.
Ketika pulang sekolah, Anan terkejut melihat siapa yang hadir. Ia memilih untuk mundur dan menolah kehadiran sepasang suami istri itu.
"Anan, Papa tahu kamu tidak menyukai Papa. Hanya saja, Papa ingin kamu tahu, bahwa Papa akan selalu menganggapmu sebagai anak Papa yang pertama. Papa juga ingin mengatakan sesuatu. Di dalam perut Mama Silvi, ada adikmu," ucap Zico dengan wajah bahagianya.
Anan melongo bergantian melihat Silvi dan Zico. "Benar kah?"
"Iya, kamu akan jadi seorang kakak. Jika kamu masih memilih tak menganggap kehadiran Papa, kami hanya ingin kamu tahu, bahwa kamu juga akan memiliki adik yang satu d4rah denganmu nanti."
Anan menatap perut Silvi. Matanya beberapa kali mengerjap. "Berarti, Anan langsung punya dua adik. Dalam perut Mama Anna juga ada adik."
Sikap Anan kali ini terlihat lebih lembut. Namun, ia merasa takut, jika Mama Anna tahu bahwa sebenarnya ia tahu, Amar bukan ayah kandungnya.
"Pa, sebentar lagi Papa Amar akan datang. Lebih baik Papa pergi."
Silvi mengerutkan wajahnya. Sontak ia merasa kesal mendengar Anan mengusir mereka. Namun, Zico menahan istrinya itu. "Wanita hamil nggak boleh marah-marah. Dia memang benar, lebih baik kita pergi saja."
__ADS_1