
Anan merasa tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu. Dengan kemampuan wushunya, Anan memberikan serangan dengan siku membuat Zico kaget mundur beberapa langkah, lalu memegang bagian yang terkena pukulan tadi.
"JANGAN JAHAT SAMA MAMAKU!" teriak Anan memasang muka masam berdiri tepat di hadapan sang ibu.
Anna sangat terkejut melihat reaksi Anan seperti ini. Tangannya ingin bergerak menarik sang anak yang berdiri bagai perisai penjaga. Namun, tangan itu tak jadi menyentuh pundah sang putra.
Zico masih meringis karena hantaman siku dari Anan sungguh sangat menyakitkan. Wajahnya mengernyit memandang wajah bocah laki-laki yang menatapnya dengan tajam.
Zico memperhatikan pakaian Anna yang menggunakan label salon tempat istrinya ini melakukan perawatan. Istrinya memaksa datang ke salon ini, karena mendapat kabar bahwa kualitas pelayanannya sangat memuaskan.
"Jadi, setelah dibuang suamimu ... Kamu bekerja di sini?"
Zico memandang kembali bocah yang terus menantang matanya. Entah kenapa ia merasakan sedikit desiran halus ketika melihat wajah anak pemberani itu.
__ADS_1
"Heh, kamu. Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Saya ini adalah pelanggan. Kau sudah semena-mena dengan pelanggan, dan bersiaplah untuk saya laporkan kepada orang yang memperkerjakan ibumu!"
Anna menarik Anan dan merangkul Anan agar Zico tidak terus memperhatikan bocah lelaki yang membuatnya penasaran itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya seorang wanita yang baru saja menyelesaikan perawatan keratin pada rambutnya.
Saat melihat wajah Anna sudah berada di sana, ia mengerutkan wajah dengan seketika. "Kau? Wanita itu?"
Ia masih begitu mengingat kejadian memalukan yang dilakukan Anna pada pernikahannya. Tidak hanya itu, ia masih mengingat bahwa suaminya diporotin oleh Amar, yang saat itu menjadi suami Anna.
"Ternyata, hidupmu penuh derita. Kau ini terlalu kurus, hahaha ... Pria benama Amar itu pasti meninggalkanmu bukan? Kenapa? Orang kerempeng kayak lidi sepertimu itu tidak subur! Tidak akan pernah bisa memberikannya anak!"
Zico mengerutkan keningnya kembali. "Itu, dia sudah memiliki anak. Kamu tuh, yang kelewat subur."
__ADS_1
Silvi tersentak mendengar bentakan suaminya. "Jadi, sekarang kamu sudah berani ya?" Silvi meletakkan kedua tangan pada pinggannya.
Zico melengos dan memilih beranjak mengusap dadanya yang tadi terasa sakit. Ia melirik Silvi istrinya yang memang semakin hari tampak semakin berisi itu, membuat dirinya cukup terintimidasi. Hingg hari ini, mereka belum dikaruniai anak seorang pun.
Zico kembali melirik pada bocah yang masih menggunakan seragam itu. "Jika saja dulu tetap menikah dengan Anna, mungkin anakku sudah sebesar anak itu."
Silvi terlihat sangat tertarik dengan Anna yang terus menyembunyikan anaknya. Dengan sekali tarikan, Anna tertarik dengan kasar dan bocah laki-laki yang merasa tenang dalam pelukan Anna, kini mulai terlihat.
Silvi menilik dengan seksama wajah anak itu. Tak beberapa lama, Silvi melirik ke arah suaminya Zico. Dengan kasar Silvi menarik dagu Anan dan ia bergantian melihat rupa kedua orang tersebut.
"Lepaskan anak saya!" Anna menepis tangan Silvi.
Silvi mengerutkan keningnya marah hendak menjambak rambut Anna dengan tangan-tangan yang terlihat kasar. Anan menepis itu sebelum tangan Silvi berhasil menjambak rambut Anna.
__ADS_1
"Tante jangan jahat-jahat pada Mama! Aku di sini tidak takut dan bisa saja melawan Tante. Karena aku adalah pelindung Mama."