
"Aaa ... Bukan itu maksudku. Kamu boleh memanggilku Papa. Tapi, itu semua cukup di antara kita berdua. Lagian, aku juga ingin belajar menjadi ayah dari anak yang langsung sebesar dirimu. Siapa tau, nanti istriku kembali, anaknya sudah sebesar kamu."
Anan menelengkan kepalanya. "Anak istri Om? Apa itu artinya Om benar-benar sudah memiliki anak?"
"Ya, anggap saja begitu. Katanya kamu mau memanggilku Papa? Coba panggil! Aku ingin tahu bagaimana rasa dipanggil demikian."
Anan mengerutkan kening, kali ini dia hanya melengos dan membuang muka. Tanpa pamit, Anan beranjak berjalan cepat meninggalkan Amar.
"Hei, Kamu?"
Akan tetapi, Anan tak mengubris panggilan Amar.
"Anan!"
Bocah itu masih terus melanjutkan perjalanan.
"Kalau kamu ikut, nanti tinggal sebut mau beli apa aja!"
Seketika Anan berhenti. Amar tersenyum tipis.
"Kayaknya es krim enak banget siang terik begini."
Anan mulai melirik ke arah belakang.
"Ditambah makam burger juga, wuuuiiih ...."
__ADS_1
Anan mengernyitkan keningnya kembali. Kali ini dia memutar tubuhnya.
"Ditambah bermain di wahana permainan pastiii ... Waaaaahh ...."
Anan berlari mendekati Amar. Tanpa permisi, bocah kelas tiga sekolah dasar itu menggenggam tangan Amar.
"Ayo, Om!"
*
*
*
Ia melirik waktu yang telah menunjukkan pukul tujuh belas. Ia baru memyadari bahwa putranya belum juga kembali dari sekolah. Biasanya, pukul tiga belas, Anan sudah sampai di rumahnya. Karena jarak yang dianggapnya tidak terlalu jauh, Anna menganggap Anan bisa pulang pergi ke sekolah sendiri tanpa perlu diantar dan dijemput.
Waktu terus bergulir menuju malam dan langit pun mulai gelap. Anna mulai merasa tidak tenang dan mondar mandir mulai memikirkan Anan.
"Bagaimana, Bu? Apa Anan belum juga kembali?" tanya Lasmi, sang kaki tangan Anna.
Anna menggelengkan kepala. Dari arah luar, pintu salon yang telah berlabel tutup, dibuka oleh seseorang.
"Hai," sapa orang itu yang tak lain adalah Dokter Yoga. Sejenak, jelas ia melihat raut kecemasan milik kekasihnya kini.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Anan, Mas ... Anan belum pulang," ucap Anna mulai gusar.
Dokter Yoga langsung melihat waktu pada jam tangannya. "Waah, ini sudah malam. Kenapa Anan belum pulang juga?"
Anna menggeleng cepat. Kali ini, wajahnya terlihat memohon. "Mas, ayo kita cari Anan. Aku takut dia sengaja pergi dariku."
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Soalnya semenjak semalam, dia tidak mau berbicara denganku. Ah, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku bukan tidak sayang, bahkan aku sangat menyayanginya. Hanya saja ...."
Anna tidak sanggup melankutkan rangkaian ucapannya kembali. Anna selalu merasa terluka saat melihat wajah Anan. Baginya, Anan adalah sumber masalah. Kisah hidupnya terasa kacau semenjak Anan tercipta di dalam rahimnya.
Dokter Yoga seakan memahami apa yang dirasakan oleh Anna. Ia mengganggam tangan Anna dengan hangat. "Ayo! Kita cari hingga ketemu!"
Anna mengernyitkan dahi melirik tangan pria itu. Bukan kenyamanan yang ia dapat akan perhatian yang diberikan Dokter Yoga. Yang ada, ia merasa canggung dan tidak nyaman.
Perlahan, Anna menggeliat, lalu lepas dari genggaman Dokter Yoga. Pria itu menyadari apa yang dilakukan oleh Anna.
'Mungkin Anna sedang sedih. Ya, bagaiamana pun ia dingin terhadap anaknya, tetap saja Anan adalah darah dagingnya. Oke Yoga ... Perlahan! Dia mengalami trauma pernikahan! Aku tidak boleh gegabah!'
"Kalau begitu kita cari Anan sekarang juga." Dokter Yoga menarik gagang pintu kaca usaha milik Anna ini.
Namun, di luar sana tampak bocah yang dicari tengah melambaikan tangan dengan wajah ceria.
"Dadah, Papa ... Esok jemput aku lagi, kita jalan-jalan lagi."
__ADS_1