Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
8. Membalas dengan cara yang elite


__ADS_3

Mereka berdua sama-sama menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulut masing-masing. Amar yang mulai mengunyah perlahan menghentikan kunyahannya. Ia menatap wajah sang koki yang menegang menghentikan kunyahan di mulutnya.


Ia segera beranjak menuju toilet yang ada di dalam ruang kerja dengan ukuran luas itu. Sementara itu, Amar segera mengeluarkan makanan tersebut dari mulutnya, dan meminum air dengan jumlah yang sangat banyak.


"Huweeek ... Huwweekkk!" Anna tak berhenti mengeluarkan semua makanan tersebut. Amar yang tak tahan mendengar suara aneh khas orang muntah tersebut turut merasakan hal aneh dari dalam perutnya. Ia pun beranjak keluar dari ruang kerja hingga memastikan tidak lagi mendengar suara aneh yang membuatnya turut merasa mual.


Anna merasa, seluruh energinya terkuras habis. Ia membisu mendapati kursi yang tadinya diduduki oleh Amar, kini telah kosong. Ia mengambil beberapa lembar tisu dan segera membersihkan diri.


Sejenak, ia melihat pada makanan-makanan yang kini diam mendingin tak berdaya. "Ini semua gara-gara si sialan itu!"


Dengan gusar ia segera memindahkan isi makanan yang ia masak tadi ke dalam kresek dan membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di ruangan tersebut.


Gemuruh dan getaran dari suara lambungnya menyisakan rasa perih di ulu hati Anna. "Haaaghh, aku benar-benar lapar," rintihnya.


Setelah itu matanya liar melihat ke segela arah. "Ah, kenapa aku kesal ya? Dia benar-benar tidak menghargai masakanku!"


"Tapi, makanan kali ini memang tidak enak sama sekali," sungutnya.


Semua peralatan makan siang yang gagal itu sudah masuk kembali ke dalam kantong makanan saat ia membawa semuanya. Ia merasa sedikit kecewa, Amar benar-benar menghilang tanpa jejak. Ia beranjak keluar dari ruang kerja Amar dan semua mata memandanginya.


Beberapa karyawan perempuan yang sedang beristirahat mengonsumsi bekalnya, melihat ke arah Anna dengan wajah bingung. Lalu, beberapa lagi yang telah melihat drama dengan Zico tadi menundukkan kepala dengan hormat.


'Oh, oke ... Bagaimana pun juga, aku bukan lah siapa-siapa. Bahkan, tak semua yang karyawannya mengenalku. Anna ... Ini hanya sekedar drama! Kamu harus kuat, cukup satu tahun saja! Setelah pria brengsek itu benar-benar hancur, maka semua akan berakhir!'


Pada bagian lobi depan gedung perkantoran tersebut, ia melihat Amar sedang berdiri mematung. Ia kembali teringat akan kejadian tadi. Rasa kecewa dan kesalnya berkumpul menjadi satu. Sehingga membuatnya memilih beranjak tanpa bicara juga.


"Kau mau ke mana?"


Langkah Anna pun terhenti. Tanpa kemutar tubuh, dia meniupkan poni yang ada di keningnya. "Apa masih perlu kau tanya?"


Wajah Anna yang tadinya kesal, kini terlihat melongo karena mendapati kehadiran seorang yang ia rutuki setiap waktu. Amar pun menyadari kehadiran bawahannya itu dan segera bergerak merangkul pinggang Anna.


Anna tersentak kaget karena perlakuan yang tiba-tiba itu. Namun, melihat Zico yang berjalan semakin mendekat, membuat Anna pun berlaku sama, merangkul tubuh bagian belakang Amar dan menyadarkan kepalanya pada kepala Amar.


"Ayo kita makan dulu, Sayang." ucap Amar membelai kepala Anna.


Anna melirik sejenak menahan hati. Lalu pura-pura tersenyum kembali dan Zico sudah berada di hadapan mereka.


"Tapi, ke mana? Aku tidak tahu tempat makan siang paling enak di sekitar sini."


"Ekheem, Zico."


Pria itu segera menganggukkan kepalanya. "Ada apa, Pak?"


"Apa kamu tahu tempat makan siang terbaik di sekitar sini?"


Mata Zico melirik bungkusan yang ada di tangan Anna. "Bukan kah Bapak dan istri sudah makan siang di dalam?"

__ADS_1


"Hmmm, makanan tersebut tak sengaja tertumpah olehku. Jadi, saat ini kami belum makan satu apa pun."


Zico menganggukkan kepalanya lagi. "Kalau Anda mau, bagaimana kalau Bapak makan di Resto Araya? Makanan-makanan di sana tidak perlu Bapak ragukan lagi rasanya."


Anna melirik Zico dengan wajah datarnya. Lokasi yang diucapkan Zico barusan adalah tempat langganan mereka saat bersama dulu. Di mana, setiak kali menikmati makanan mahal di sana, Anna lah yang selalu membayar semuanya.


"Di mana itu?" Amar cukup tertarik dengan tawaran Zico.


Zico melirik Anna, berharap Anna saja yang menjawabnya. Namun, Anna membuang muka dan merangkul lengan Amar.


"Antar kan kami ke sana!" Amar selalu menyetir kendaraannya sendiri. Ia tidak pernah menggunakan jasa supir saat pergi ke mana pun.


"Sayang, bagaimana kalau kita jemput Nenek juga?" tawar Anna.


"Ah, benar juga." Amar segera mengeluarkan ponselnya menghubungi sang nenek. Setelah selesai ia mengeluarkan kunci mobil dan melemparkan kepada Zico.


"Kamu yang antar kami ke sana, tetapi kita jemput nenek dulu ke rumah orang tua saya." Tidak hanya itu, kantong yang berisi box kosong di tangan Anna, diserahkan kepada Zico.


"Bawakan ini sekalian!"


Zico terpana memandangi kunci dan kantong box kosong yang kini telah berada di tangannya. Tanpa memedulikan ekspresi Zico yang terlihat keberatan, Amar menggandeng Anna berjalan mendahului pria yang telah mengkhianati Anna.


Namun, dengan pasrah Zico melangkahkan kakinya menuju kendaraan mewah milik Amar. Ia tatapi kendaraan super mewah yang kini tepat berada di depan matanya. BMW X7 yang hanya bisa menjadi mimpi, entah kapan bisa ia miliki, kini ia akan mengedarainya, sebagai seorang supir.


Setelah Zico menekan tombol pada remot mobil yang melekat pada kuncinya, kendaraan roda empat berwarna putih itu mengeluarkan bunyi mirip dengan suara siulan. Amar membukakan pintu untuk Anna dan menyilakan untuk masuk dengan cara yang mesra.


Namun, Zico memilih membuang muka. Setelah menutup pintu mobil, Amar memberi kode gerakan mata kepada Zico. Akan tetapi, Zico tidak paham dan masih berdiri pada posisinya.


"Zico, apa kamu pura-pura tidak paham?" bentak Amar.


"Ah, apa saya salah lagi, Pak?" tanya Zico gelagapan.


"Cepat buka kan pintu sebelah sana!" bentak Amar dengan nada yang cukup tinggi.


"Ba-baik, Pak." ucap Zico berlari kecil membukakan pintu di sisi lain kendaraan tersebut.


Anna tersenyum tipis melihat Zico mendapat perlakuan seperti itu oleh Amar. "Kita lihat saja, sampai kapan kau akan bertahan?" gumamnya dengan suara rendah.


Amar masuk ke dalam kendaraan dengan wajah dingin. Anna pun membuang muka duduk melihat sisi lain di luar jendela. Saat Zico telah masuk dan duduk di kursi kemudi, Amar menarik Anna dan merangkul kembali tubuh Anna yang masih ramping itu.


"Kamu sabar ya? Setelah menjemput Nenek, kita akan makan bersama."


Zico memperhatikan kedua insan yang berada di belakang lewat spion depan. Tangannya menggenggam erat kemudi, gerahamnya sedikit bergetar.


"Apa lagi? Ayo jalan!" titah Amar kembali dengan suara tegasnya.


Saat sampai di depan rumah Amar yang sangat besar dan luas, mata Zico terbelalak tak percaya. Amar dan Anna turun dan masuk ke rumah. Akhirnya ia memiliki kesempatan untuk meluapkan rasa kesal yang besar di dadanya.

__ADS_1


Ziko memukul-mukul jok pada bangku kosong di sebelah bagian kemudi. "Sial! Sial! Kenapa dia harus menikah dengannya?" Ziko tiada hanti memukulkan kepalannya hingga ia merasa puas. Akhirnya, ia membenamkan wajah pada gagang setir sembari menunggu mereka kembali.


Di dalam rumah, Anna terlihat mengintip ke arah mobil tersebut. Walau ia tidak bisa melihat apa yang dilakulan oleh Zico, melihat mobil yang sedang terparkir bergunang hebat, membuat Anna tersenyum.


"Anna, apa yang membuatmu senang?" Nenek muncul bersama Amar.


"Waag, Nenek terlihat cantik sekali?" Anna langsung memeluk Nenek Andari.


"Kamu juga sangat cantik, Sayaang. Nenek senang akhirnya Amar mau menikah denganmu."


Anna dan Amar saling bertatapan. Lalu Anna merangkul lengan Nenek Andari mengajaknya keluar menuju kendaraan sambil membisikkan sesuatu.


"Nek, di dalam mobil itu ada si keparat Zico."


Kerutan yang sudah memenuhi wajah Nenek Andari semakin bertambah. "Kenapa dia ada di dalam mobil?"


"Karena Amar sedang membantuku untuk membalas bajingan itu secara elite. Biar dia tahu rasanya dihina dan melebihi hinanya diriku yang ditinggal dalam keadaan hamil anak si keparat itu."


Nenek Andari menatap wajah Anna cukup panjang. Tanpa disangka, Nenek Andari menarik telinga Anna.


*


*


*


Kuuiiy, karya berikutnya yang wajib kakak semua baca adalah yang berikut ini!



Nama pena: Momoy Dandelion


Judul Karya: Menikahi Mafia Arogan


Blurb:


Mendapati seluruh keluarganya mati dibantai membuat Cheryl sangat terpukul. Apalagi mengetahui mengetahui pelakunya adalah Janu, anak dari sahabat baik ayahnya.


“Kenapa kalian masih diam di sini? Cepat cari dokumen-dokumen berharga yang masih tersisa!” perintah Janu kepada para pengawalnya sembari menahan tangan Cheryl yang terus menyerangnya.


Para pengawal berpencar ke setiap sudut rumah untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.


“Kamu mau apa dari rumah ini? Kalau ingin merampok, kenapa harus membunuh mereka semua, hah!” ucap Cheryl.


Janu terkesan tidak mau menanggapi semua ucapan Cheryl. Ia hanya berusaha bersabar agar tidak terpancing emosi dengan kelakuan Wanita itu.


“Dasar pembunuh! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang! Aku bersumpah akan membunuhmu, Janu!” teriak Cheryl.

__ADS_1


Jangan lupa di sunscribe, tekan like, dan beri komentar yaaa...


__ADS_2