Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
7. Pembalasan tahap awal


__ADS_3

"Kau jangan takut padaku. Kita ini hanya pasangan di atas kertas. Kau pun harus tahu, kita di sini bukan lah pasangan yang sebenarnya! Aku tak tertarik denganmu, dan aku adalah orang yang akan membantumu untuk melancarkan pembalasan dendammu."


Dengan sedikit mengernyitkan wajah menahan rasa sakit di keningnya, Amar bangkit, berjalan sedikit sempoyongan menuju kamarnya. Anna menundukkan kepala segera berlari masuk ke kamarnya juga.


*


*


*


"Ayo Anna! Kau ini harus segera bangkit! Jangan terlena dengan kehidupan barumu ini!" Anna meracau sendirian sembari mengeringkan rambut dengan hair dryer.


Tok


Tok


Tok


Dari arah luar pintu, terdengar ketukan yang bisa dipastikan itu adalah Amar. Anna menghentikan kegiatan dalam mengeringkan rambutnya, segera membuka pintu kamar.


"Ah, sorry ... Aku akan segera menyiapkan sarapan pagi untukmu." Anna bergerak keluar dari pintu.


Akan tetapi, Amar menahan tubuh Anna. "Tidak usah! Aku sudah terlambat. Nanti aku sarapan di kantor saja."


Mata Anna menangkap memar yang masih cukup terlihat di kening Amar. Tangan kecilnya meraba bagian memar tersebut, tetapi Amar menahannya dan tidak memberikan kesempatan Anna untuk menyentuhnya.


"Aku pergi."


"Ehm, apa aku boleh ke tempat kerjamu?" Anna bertanya dengan ragu-ragu.


Tanpa memberikan jawaban, Amar hanya melirik Anna dengan sejenak lalu memilih berjalan menuju ke arah pintu. "Aku tahu tujuanmu, kau boleh datang saat jam istirahat siang. Kita makan siang bersama." Amar berlalu dan pergi.


Anna menggenggam tangannya yang tidak diterima oleh Amar tadi. Namun, ia memilih tidak terlalu memikirkannya dan segera menuju ke dapur. Perutnya terasa begitu lapar, seakan ada konser para cacing membuat nyanyian-nyanyian dari dalam sana tiada berhenti untuk terus mengalun.


"Hari ini, kita akan membalas si keparat itu. Kamu jangan membenciku karena aku berjanji akan membuat bajiiingan itu menyesali apa yang telah dilakukannya kepadaku." Anna mengusap perutnya, raut wajahnya dingin dan sudut matanya sedikit bergetar.

__ADS_1


Setelah memaksakan beberapa roti masuk ke dalam lambungnya, Anna memilih untuk memasak menu makan siang yang istimewa. Namun, ketika mengolah makanan tersebut, Anna banyak merenung, bahkan makanan tersebut tak dicicipinya sama sekali.


Usai semua makanan beres, ia kembali membersihkan diri. Setelah itu memakai pakaian terbaik yang ia miliki. Di atas meja rias, terlihat parfum kesayangannya yang selalu digunakannya setiap bepergian. Sebelumnya ia menyemprotkan sedikit parfum ke arah pergelangan tangan. Ini adalah kebiasaannya dan menghirupnya.


Namun, ada yang aneh pada indera pembauannya itu. Bukan menikmati aroma vanila kesukaannya, tetapi malah membuat perutnya mual. Ia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanan yang tadinya dipaksa masuk ke dalam perut.


"Aneh, sejak kapan parfumku menjadi busuk begitu?" ucapnya sembari mengusap mulut bekas muntahan yang keluar dari mulutnya tadi.


Tubuhnya menjadi sangat lemas, tetapi waktu pada jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. "Sebentar lagi akan masuk waktu makan siang. Aku makan di sana saja."


Anna membawa box makan siang istimewa yang dimasaknya tadi. Ia sampai di kantor Amar tepat saat semua karyawan di sana mulai bubar untuk beristirahat.


Ada sepasang mata yang menyadari kehadiran wanita itu. Sepasang mata dari pria yang beberapa waktu lalu masih menatap Anna dengan lembut. Sepasang mata yang kini terlihat berubah menjadi tajam dan ia bergerak cepat mendekati Anna lalu menarik pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ke mari? Hubungan kita sudah berakhir, dan aku sudah menikah dengan wanita lain!"


Anna melepaskan tangan Zico dengan kasar. "Kau pikir, aku akan terus mencarimu setelah kau mencampakkan aku? Kau salah!" Anna berlalu terus melangkah memasuki gedung kantor di mana Amar, suaminya yang memimpin perusahaan ini.


Namun, hari ini adalah kali pertamanya mendatangi kantor percetakan ini setelah menikah dengan Amar. Ia mulai ragu, tidak tahu ke mana langkah untuk mencari suami pura-puranya itu.


"Apa yang kau lakukan?" Zico kembali menarik pergelangan tangan Anna. Namun, dari arah belakang Zico menyadari ada jemari yang mencolek punggungnya.


"Pak?" Zico segera mengambil posisi hormat, tetapi tangannya masih memegang erat pergelangan tangan Anna.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak mengenal wanita gila ini. Tiba-tiba saja dia datang menyerobot masuk ke dalam gedung perusahaan. Saya berhasil menghalanginya untuk melangkah lebih jauh." Zico menarik Anna dan memaksa mantan kekasihnya itu untuk bersikap hormat kepada atasannya ini.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Suara bariton yang keluar dari mulut sang atasan membuat Zico tersentak dan semakin menundukkan kepala.


"Lepaskan tangannya!" bentak sang atasan membuat Zico refleks melepaskan genggamannya.


Sang atasan merangkul wanita yang tadi akan ia jadikan tumbal kemarahan sang atasan yang terkenal sangat galak. Mata Zico terbelalak melihat orang yang menggajinya merangkul mesra pinggang mantan kekasihnya itu.


"A-apa Anda mengenalnya, Pak?"


Orang yang dipanggil dengan 'Pak' itu memamerkan cincin pada jari manis mereka berdua. "Maaf saya tidak mengundang siapa pun di kantor ini. Saya dan Anna sudah menikah minggu lalu."

__ADS_1


"APA?" Zico keceplosan bergeriak di hadapan sang pimpinan perusahaan. "Bapak jangan bercanda? Minggu lalu itu adalah jadwal—" Zico segera membungkam bibirnya. Karena minggu lalu adalah hari di mana seharusnya ia mengikrarkan janji suci kepada Anna.


Aku pikir, ia akan membatalkan pernikahan. Namun, kenapa ia malah menikah dengan Pak Amar?


"Kenapa dengan minggu lalu?" Amar mengusap lengan Anna dengan mesra. Anna melirik tangan itu, di dalam hatinya merasa sangat risih mendapat perlakuan seperti itu. Akan tetapi, ia memilih bungkam dan menjalani misi balas dendam kepada pria yang telah meninggalkannya ini.


"Oh ... Eeeh ... Bu-bukan apa-apa, Pak." Zico melirik Anna yang menyandarkan diri merangkul tubuh Amar.


"Kau harus tahu, Anna adalah istri saya! Jadi, kau harus menghormatinya! Bila kau lakukan hal sekasar tadi kepada istri saya, siap-siap lah untuk dirumahkan!"


Zico menundukkan kepala dengan wajah gugupnya. Tanpa menunggu jawaban dari Zico, Amar menarik Anna yang masih berada dalam rangkulan tubuhnya yang tinggi. Zico menatap panjang pada dua insan itu.


"Anna? Jadi dia lah yang kau jadikan sebagai penggantiku? Kenapa harus dia?" Tangan Zico tergenggam erat dan beranjak dari posisinya.


Anna sejenak melirik ke belakang, setelah memastikan Zico sudah tidak ada lagi, ia segera melepaskan diri dari rangkulan Ammar. "Te-terima kasih sudah membantuku."


Ammar kembali memasang air muka dinginnya. Ia melihat apa yang ada dalam genggaman tangan Anna. "Kenapa kau repot-repot segala membawakanku bekal makan siang?" Amar menghempaskan dirinya duduk pada kursi kerjanya yang bisa diputar.


Anna menaruh box makanan tersebut di atas meja kerja Amar. "Makan lah! Berhubung aku sedang bersemangat memasak untukmu."


Anna membukakan box makan siang itu, lalu menyerahkan sendok kepada Amar. Sementara itu, Anna menyiapkan bekal untuk ia santap.


Mereka berdua sama-sama menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulut masing-masing.


*


*


*


Yuhuuuu ... Every body ... Yuuk mampir pada karya temen Author yang keceh ini juga yaaah ...



Nama pena: Santi Suki

__ADS_1


Judul karya: Bidadari yang Diabaikan


Jangan lupa di-subscribe, like, dan komentari ... Karya author CovieVy nya juga dikomentari doong ... Biar semangat update gitu


__ADS_2