
"Masa tidak kenal, Mbak? Yang baru saja masuk itu adalah Zico dan istrinya, bukan?" terang Darma.
Kedua resepsionis itu saling berpandangan dan mengangguk. "Oh iya, beliau baru saja masuk ke bekerja di sini hari ini. Ada urusan apa mencari beliau?" tanya salah satu resepsionis tersebut.
"Kami hanya ingin mengingatkan dia akan suatu hal Mbak. Jadi, tolong panggilkan dia sejenak ke sini! Karena dia meninggalkan masalah yang belum dituntaskannya di antara kami."
Salah satu resepsionis melihat pria yang berdiri diam di belakang pria yang tiada berhenti berceloteh itu. Setelah itu, ia menganggukkan kepala saling berpandangan dengan teman yang ada di sampingnya.
"Baik lah, mohon tunggu sejenak." salah satu dari resepsionis itu masuk ke dalam ruangan kerja Presiden Direktur.
Amar memberikan kode anggukan kepada Darma. Darma mengacungkan jempol dan tersenyum sumringah. Dia memahami pujian yang baru saja diberikan oleh atasannya tersebuut.
Tidak lama kemudian, seseorang keluar dari ruangan direktur utama, mengenakan setelan jas yang senada dengan celana yang ia kenakan.
"Maaf, Pak ... mereka ingin bertemu dengan menantu Anda, suami Mbak Silvi."
Pria paruh baya tersebut melihat Amar dengan seksama dari atas ke bawah, lalu naik kembali ke atas. "Ada kepentingan apa Saudara dengan Zico, menantu saya?"
Darma langsung menyalami Wage, sang pimpinan perusahaan ini. "Maafkan kami, Pak ... Kami datang dari perusahaan di mana Saudara Zico bekerja sebelumnya. Berhubung Saudara Zico tidak hadir ke perusahaan kami mengenai masalah pelanggaran kontrak yang baru saja dibuatnya, maka kami ingin mengajaknya kembali membicarakan masalah yang sama."
Wage menyimak ucapan Darma dengan seksama. Lalu memutar kepalanya memandang kepada pria muda berwibawa yang ada di belakang Darma. Darma menyadari tatapan pimpinan perusahaan ini langsung memperkenalkan diri mengulurkan tangannya.
"Saya Darma, asisten sekaligus sekretaris dari Bapak Amar." Darma memberi tempat sekaligus mempersilakan Amar untuk bersalaman.
__ADS_1
"Amar."
"Aah, ternyata Anda yang bernama Amar pimpinan penerbit tempat Zico bekerja sebelumnya?" sambut Wage.
"Benar sekali, Pak. Saya ke sini memang untuk mencarinya demi memperlurus masalah yang sudah ditinggalkan tanpa memberi kejelasan apa-apa."
Wage terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Amar barusan. "Bagaimana kalau Anda masuk dan duduk di ruang kerja saya? Kebetulan sekali saat ini menantu dan putri saya sudah berada di dalam sana." Wage membukakan pintu ruang kerjanya disambut wajah Zico yang menegang secara tiba-tiba melihat Amar dipersilakan masuk oleh mertuanya.
"Oh, tentu saja." Amar masuk dengan percaya diri.
Silvi berdiri menyambut kedatangan Amar dan Darma. Silvi menyambutnya dengan sangat akrab dan seakan mengenalnya. Namun, Amar seolah tidak terlalu memedulikan keramahan Silvi dan bersikap biasa.
Sementara itu, Zico terpaksa untuk turut berdiri dan menyalami Amar. "Kenapa Anda datang kesini? Ada urusan apa dengan mertua saya?" tanya Zico memasang wajah heran dan agak sedikit ketakutan.
"Silakan duduk, Saudara Amar," tawar Wage.
Zico yang tidak mendapat jawaban, merasa tidak nyaman dengan tatapan Amar sehingga membuatnya menjadi canggung dan salah tingkah.
"Wah, kamu itu Mas Amar kan? Pacar Luna?" serobot Silvi tiba-tiba.
Mendengar nama Luna disebut oleh Silvi, membuat Amar refleks beralih pandang menatap istri dari mantan bawahannya ini. Zico menangkap gelagat aneh dari suami Anna ini.
"Sepertinya begitu, kekasihnya dahulu kalau tidak salah bernama Luna. Nama itu sering sekali menjadi perbincangan di kantor." gumam Zico.
__ADS_1
"Lalu bagaiaman kabar Luna sekarang, Mas? Aku sudah lama banget nggak ketemu Luna," timpal Silvi kembali.
"Sepertinya Luna sakit karena ditinggal olehnya," sindir Zico.
Silvi tercengang dengan ucapan Zico barusan. "Kenapa begitu?"
"Karena, Saudara Amar ini—"
"Ekheeemm ... Maaf Saudara Zico," sela Darma. "Kami ke sini bukan untuk membicarakan masalah pribadi siapa pun. Kami di sini adalah untuk memastikan bahwa kamu menentukan waktu pembayaran penalti terhadap perusahaan karena sudah melanggar perjanjian kontrak!"
Wage, Silvi, dan Zico pun tercengang dengan serempak. Wage menatap Silvi menengadahkan kedua telapak tangan mengangkat bahu, dan mulut melongo. Wage memimta jawaban tanpa suara. Namun, sang putri hanya memberikan jawaban dengan kedikkan bahu.
"Jadi, urusan penting yang kalian katakan itu adalah denda yang harus dibayar oleh menantu saya?"
Amar menyandarkan diri lebih rileks dan menyilangkan kaki menantang Zico. "Saudara Darma, silakan serahkan surat tuntutan yang sudah kita siapkan kepadanya. Dia harus tahu, kesalahan yang sudah dilupakannya." titah Amar.
Darma menganggukan kepalanya. Ia segera membuka tas kerja yang sedari tadi dijinjingnya di tangan. Dari dalam tas tersebut, Darma mengeluarkan map dan menyerahkannya kepada Zico.
"Ini adalah salinan dari tuntutan besar kami. Jadi, bagaimana tanggapan, Saudara?" tanya Darma, mewakili Amar.
Zico mulai membuka map yang terletak di atas meja, menarik isinya, dan langsung membaca butir-butir yang tertulis. Keningnya terlihat mulai berkerut membaca isi tuntutan dalam surat tersebut. Semakin lama tangannya semakin erat menggenggam benda tersebut.
"Loh? Kenapa masalah istri Anda malah masuk ke dalam tuntutan ini? Toh, saya tidak melakukan apa-apa pada istri Anda."
__ADS_1
Amar mengeluarkan secarik kertas dan meletakkannya di atas meja.
"Setidaknya dengan ini kamu tahu, bahwa istri saya tidak baik-baik saja setelah apa yang kamu lakukan."