Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
23. Alergi


__ADS_3

Semua bagian tubuh Amar terlihat kemerahan dan sedikit bengkak. Amar tak berhenti menggarut semua bagian pada tubuhnya.


"Hentikan! Jangan digaruk terus!" ucap Anna memandang bagian-bagian merah pada wajah Amar.


"Gatel banget." Amar terus menggaruk tanpa henti.


"Apa kamu alergi terhadap makanan tertentu?" Anna menggenggam dan menahan tangan Amar yang tiada berhenti menggaruk tubuhnya.


Amar pun terlihat heran dengan tingkah Anna yang menahan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Amar yang belum menjawab pertanyaan Anna.


Anna baru menyadari posisi mereka terlalu dekat dan melepaskan tubuh lelaki yang menjadi suaminya itu. "Maaf, aku hanya menahahanmu biar gak menggaruk terus menerus."


Anna beranjak mencari ponselnya. Ia segera mencari informasi pengobatan alergi. Setelah menemukan merk obat yang bisa mengobati alergi tersebut Anna menaruh kembali ponselnya.


Anna memperhatikan kembali keadaan Amar tidak berhenti mengucek beberapa bagian tertentu termasuk mata. "Udah, jangan digaruk lagi! Aku akan ke apotek mencari obat dulu. Kamu tunggu di sini ya?"


"Mau ke mana? Udah malam!" cegat Amar kembali.


"Biar nggak menggaruk terus. Nanti malam sakit yang lain kalau tidak diobati." Anna terus memaksa membuka pintu apartemen yang mereka tempati.


"Jangan! Aku nggak biasa beli obat-obat luar. Aku ke klinik langganan keluargaku aja." Amar segera menganmbil kunci kendaraannya berjalan sendirian tanpa menunggu Anna.


"Tunggu ... Kenapa aku ditinggal?" Anna mempercepat langkahnya dan membuat keram yang ia rasakan kembali terasa.


Langkah Anna terhenti meringis menekan bagian rahimnya yang terasa sakit. Amar yang menyadari ada yang tertinggal memilih untuk kembali. Sepanjang langkah, Amar tak berhenti menggaruk tubuhnya yang sudah memerah karena serangan alergi.


"Loh? Anna?" Amar berlari mengejar Anna yang tersandar pada dinding dengan wajah meringis.


"Kamu kenapa?"


Anna menggelengkan kepalanya. "Pelan-pelan dong jalannya?"


Amar terdiam sejenak. "Kalau gitu kamu di rumah saja! Aku bisa sendiri."


Anna menggelengkan kepalanya kembali. "Aku akan menemanimu."

__ADS_1


Amar menatap Anna dengan wajah heran kembali. "Kamu saja kayak gini, gimana cara menemaniku?"


Anna mempertegar dirinya. "Ayo!"


Amar membiarkan Anna berjalan duluan di depannya. Anna masih terlihat meringis di setiap langkahnya membuat Amar mengawasi dari belakang memasang wajah khawatir.


"Yakin mau ikut?" tanya Amar yang mengikuti di belakang.


Anna mengangguk kan kepalanya dengan percaya diri. Ia melanjutkan langkah menuju lift, dan turun hingga ke basedmen.


"Kamu tunggu di sini saja! Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu."


Anna masih meringis meski saat ini terasa tidak sesakit ketika melangkah. "Ayo lah Anna? Sebenarnya kamu tidak baik-baik saja! Kenapa memaksakan diri?" gumamnya menunggu jemputan.


"Maaf, Mbak ... Apa kamu baik-baik saja?" tanya seseorang mendekati Anna.


Anna melirik pria asing tersebut. Ia terlihat menggunakan seragam parkir di sini. Anna menganggukkan kepalanya. "Saya baik-baik saja, Mas. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."


"Kenapa sendirian di basedmen ini Mba?" tanya pria itu.


"Kamu jangan bohong! Masa sih udah menikah? Kamu hanya sekedar beralasan kan?" ucap pria itu terdengar sedikit keras.


"Kamu hanya nggak mau kenalan sama aku gara-gara pakai seragam parkir aja kan?" cetusnya.


Tak lama terdengar decitan rem. Sebuah mobil mewah berhenti dekat dengan mereka.


"Kenapa ini?" tanya seseorang yang baru hadir.


Seorang yang berseragam parkir itu melihat ke arah Amar. "Oh, ini Pak. Saya hanya ingin sekedar berkenalan dengan ni cewek, eh dianya sombong banget."


"Apa alasan kamu mengatakan dia sombong?" tanya Amar. Anna membuang muka sengaja mengelak dari tatapan Amar.


"Dia ngakunya udah punya suami, Mas."


"Terus kamu tidak percaya?"

__ADS_1


"Percaya tak percaya sih?" ucap sang juru parkir basedmen di apartemen tersebut.


Amar merangkul pundak Anna. "Jika begini, baru kamu percaya dia udah bersuami?"


Anna tersentak tiba-tiba mendapat rangkulan tersebut. Hal ini membuatnya menjadi canggung.


"Jadi, dia ini istrimu, Mas?" Sang juru parkir menangkupkan tangannya di hadapan Anna. "Maaf ya Mbak? Saya sudah lancang dan menakut-nakutinya."


Anna mengangguk tetapi terlihat kaku oleh rangkulan Amar.


"Ayo, naik!" ajak Amar kembali berjalan duluan membukakan pintu kendaraan.


Mereka melaju menuju klinik langganan keluarga Amar. Di sana telah berdiri kendaraan-kendaraan mewah yang tidak sembarangan. Anna turut serta untuk turun dari kendaraan.


Meskipun hari telah semakin larut, tetapi klinik itu masih tetap ramai. Saat sampai di sana, semua pegawai yang mengenakan seragam bewarna putih menyambut Anna yang terlihat lemah.


"Maaf, Mbak. Yang berobat ke sini bukan saya." tolak Anna.


"Loh? Siapa dong?" tanya mereka serempak.


Anna menunjuk sosok pria yang kini berdiri di belakang mereka, masih sibuk menggaruk tubuhnya. Anna tersenyum kikuk dan memilih duduk di atas bangku yang tersusun di lorong tersebut.


"Waah, Mas Amar? Udah lama sekali tidak ke sini?" sambut mereka.


Perawat-perawat itu langsung memandu Amar masuk ke sebuah ruang perawatan tanpa perlu mendaftar terlebih dahulu. Perawat yang lain segera ke pusat data mencari rekam medis Amar yang menjadi pasien tetap di klinik ini.


Anna merasa lelah tertatih melanjutkan langkahnya menuju ruang tempat Amar diperiksa. Namun, karena oleng, Anna mengenai perawat yang mendorong pasien dengan kursi roda.


"Maaf?" Anna menangkupkan tangannya kepada perawat tersebut.


Perawat itu mengangguk ramah. "Mbak hati-hati ya? Kalau lagi pusing, jangan sendirian."


"Oh ... Ada suami saya di dalam." Anna melirik pasien perempuan yang duduk pada kursi roda itu. Meskipun wajahnya terlihat pucat, tetapi kecantikannya terpancar laksana sinar rembulan.


"Anna kenapa la—?" Amar mengintip dari ruang pemeriksaannya. Netranya seketika beralih pada wanita cantik berwajah pucat yang duduk di kursi roda tadi.

__ADS_1


Amar berjalan cepat mendekati wanita itu. "Luna, akhirnya aku menemukanmu kembali. Kamu ke mana saja menghilang tanpa kabar setelah kamu menolak lamaranku?"


__ADS_2