
Braaak
Terdengar suara pintu apartemen, dibanting dengan sangat keras. Menyisakan suara jantung Anna yang berdegup tak beraturan.
Anna terduduk kembali memegangi dadanya. "Dia kesambet set*n bar tadi malam kali ya?" Anna segera mengambil air minum dan menenggaknya hingga habis.
Melihat sarapana pagi yang bukan apa-apa tetapi tidak dihabiskan membuat darah Anna serasa naik hingga ke ubun-ubun. "Awas saja nanti!"
Keesokan harinya, Anna benar-benar tidak keluar sama sekali dari kamarnya saat Amar berada di rumah.
Amar bolak-balik di depan pintu kamar Anna. Tangannya telah siap untuk mengetok pintu kamar itu. Akan tetapi, ia membatalkan niatnya. Akhirnya memilih pergi dan sarapan di kantor seperti kemarin.
Setelah memastikan Amar pergi, Anna pun keluar dari kamarnya. Ia segera mencari makanan di dalam kulkas untuk mengisi perutnya yang kosong. Setelah itu ia kembali ke dalam kamar.
Amar mendengar dengan samar suara pintu ditutup dari di dalam apartemennya. "Shiiit ... Dia sengaja menungguku keluar dulu baru dia keluar dari kamarnya."
Amar pun membuka kembali pintu utama, tetapi pintu kamar Anna terdengar telah ditutup kembali saat ia menarik gagang pintu rumahnya.
Amar berlari menuju pintu kamar Anna bersiap untuk menggedor daun pintu tersebut dengan kedua tangan. Namun apa daya, dia merasa gengsi untuk memanggil wanita yang ada di dalam sana. Amar memukul angin karena kesal dan kali ini benar-benar segera meninggalkan rumahnya menuju kantor.
__ADS_1
Ketika sibuk bekerja di kantornya, Amar mendapat telepon dari seseorang yang ia bayar untuk mematai-matai Luna. Seorang perawat di rumah sakit tempat Luna dirawat memberitahukan bahwa kondisi Luna kembali menurun.
Amar segera menuju klinik tempat Luna dirawat mencoba menemuinya di ruang tempat ia dirawat. Tanpa ia sadari, langkah cepatnya telah dipantau oleh seseorang.
"Bukan kah dia ...."
Amar bertemu dengan keluarga Luna. "Bagaimana keadaan Luna, Tante?" tanya Amar kepada wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Luna.
"Kondisinya droup kembali. Dalam satu bulan ini entah berapa kali dia mengalami sesak hingga pingsan. Tante sudah tidak tahu harus bagaimana lagi."
Amar tertegun mendapati kenyataan yang selama ini tersimpan. Ia terduduk pasrah membenamkan diri menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya, frustrasi.
"Ibu Annasya Putri Cakradinata?" Perawat memanggil nama Anna membuatnya langsung berdiri menuju bagian kandungan tersebut.
"Mana suaminya, Bu?" tanya perawat yang memanggil namanya tadi.
"Suami saya sedang sibuk bekerja," ucapnya datar.
"Oh, kalau begitu silakan masuk, Bu."
__ADS_1
Anna mengangguk memasuki ruangan pemeriksaan kandungan tersebut. Di dalam sana, tampak wajah seorang dokter yang terlihat heran memandangi Anna.
"Silakan duduk, Bu." ucap dokter yang terlihat masih muda itu.
Anna melihat nama pada nametag sang dokter, yaitu : dr. Prayoga Aditama. S.PoG.
"Selamat siang, Bu. Apa ada keluhan yang ibu alami selama kehamilan?"
Anna hanya menjawab dengan anggukan.
"Ibu Annasya, umur 22 tahun, pengurus rumah tangga." Dokter Yoga membaca data Anna dengan seksama.
Anna hanya menjawab dengan anggukan kembali.
"Sebelumnya, mari kita cek dulu bagaimana kondisi kesehatan secara umum." Setelah Dokter Yoga mengatakan itu, perawat segera menyiapkan peralatan kesehatan yang dibutuhkan.
Dokter Yoga terus memperhatikan Anna yang selalu saja terlihat datar. "Suaminya mana, Bu?" Ia memasang tensimeter dengan hati-hati, pada lengan Anna yang menatap wajahnya datar.
"Kerja." ucapnya singkat.
__ADS_1
Dokter Yoga menjadi salah tingkah karena sikap Anna.