
Anna tersentak oleh pertanyaan yang terasa sedikit 'nyelekit.'
"Ah, yah ... aku pikir tidak apa. Ternyata, tidak boleh ya?" tanya Anna sedikit memelas.
Nenek Andari melihat ke arah Dokter Yoga. Pria yang datang ke rumah ini menganggukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada sang pemilik rumah. Nenek Andari menatap Anna dengan seksama.
"Siapa dia?"
"Oh, dia hanya seorang dokter yang menangani kehamilanku." Anna menjawab dengan tertunduk merasa malu kepada sang Nenek.
"Hmm, kenapa dia sampai mengajakmu ke keluar?"
"Oh, dia ... Selalu membuatku lebih rileks dari segala kemumetan hal yang menimpaku selama ini, Nek. Apalagi di saat ...."
Nenek Andari memperhatikan mata Anna yang mulai berkaca-kaca. "Aaah, sudah lah ... Nenek tidak tahan kalau air mata sudah ikut serta."
Anna menyeka air matanya segera. "Baik lah, Nek. Aku akan menolak permintaan Dokter Yoga. Mungkin aneh memang, jika aku istri orang lain, malah berduaan dengan pria lain." Anna pun bergerak ingin menolak ajakan Dokter Yoga.
__ADS_1
Nenek menahan langkah Anna. "Sepertinya dia adalah orang yang penting bagimu? Apa kamu kecewa jika batal jalan dengannya?"
"Biasa aja, Nek. Hanya saja, menurutku dia cukup lucu."
Nenek terdiam sejenak. "Apakah Amar kurang lucu saat bersamamu?"
Anna menghela napas. "Gimana ya, Nek? Kami sangat jarang duduk berdua dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, aku tidak tahu apa-apa tentangnya, tentang hal yang disukai atau tidak. Ya ... mungkin waktu untuk kami berdua, sangat lah sempit."
Nenek menghela napas. "Baik lah. Hari ini, kamu boleh pergi dengannya. Tapi, lain kali kalau dia mengajakmu lagi, kamu harus mengajak Nenek."
Anna mendadak merasa geli, tetapi ia menahan tawa sekedar menjadi senyuman. "Baik lah, kalau Nanek mau, bagaimana kalau Nenek ikut sekarang?"
"Iya, sekarang."
Nenek Andari langsung menoleh pada penampilannya saat ini. "Jika begini saja, apa tidak masalah?"
"Nggak masalah, Nek. Ayo ikut. Biar Nenek tahu, aku dan Dokter Yuga tidak ada hubungan apa-apa, selain pasien dan dokter."
__ADS_1
Nenek terdiam sejenak. "Ah, baik lah. Ayo kita jalan-jalan."
Beberapa waktu kemudian, sebuah kendaraan keluar dari gerbang rumah Nenek Andari, membawa tiga orang penumpang sekaligus pengemudi yang ingin menikmati waktu.
Akan tetapi, dari arah berlawanan masuk sebuah kendaraan terparkir di halaman rumah Nenek Andari. Pengemudinya tak serta merta turun begitu saja. Ia meringkuk menyembunyikan wajah di atas setir mobil itu.
Ia merasa stress saat pulang dari rumah mertuanya. "Apa yang harus aku katakan kepada Nenek? Apakah aku harus mengatakan bahwa Anna menghilang tak tahu di mana?"
Dengan berat hati, Amar membuka pintu kendaraannya. Pintu rumah Nenek terkunci rapat. Nenek Andari memang tak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Selain beliau memang telaten dalam bekerja, Nenek Andari itu terlalu teliti.
Nenek akan mereview semua hasil pekerjaan beberapa pekerja yang pernah bekerja di rumah itu. Hasil penilaian yang diberikan Nenek pun begitu teliti membuat para pekerja tidak betah.
Anak-anaknya juga sudah mengajak untuk tinggal bersama, tetapi beliau menolak. Karena, rumah yang ditempati ini, adalah peninggalan mendiang suami yang sangat dicintai.
Amar menatap pintu rumah itu tertutup dengan sangat rapat. "Nenek pergi ke mana?"
Ia mengeluarkan ponsel dan segera mencari kontak sang Nenek.
__ADS_1
Nenek Andari yang berada di kendaraan Dokter Yoga bersama Anna, tersentak merasakan getaran pada tasnya. Ia mengecek pada layar pipih tersebut, sang cucu ingin melakukan panggilan video dengannya.