Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
18. Si Serakah


__ADS_3

"Mulai hari ini kamu bekerja denhan papa kan, Mas?" Silvi mengantarkan Zico menuju mobil yang dipakai oleh suaminya itu.


Ia menyerahkan semua surat berharga yang masih atas namanya. "Nanti, aku akan menemanimu untuk menukar nama kepemilikan mobil itu."


"Lalu, kamu tidak memiliki mobil lagi dong?" tanya Zico.


"Kamu jangan khawatir, Papaku akan membelikan mobil yang baru untukku. Jadi, yang lama itu untukmu aja," ucap Silvi, istrinya.


Zico menyerahkan kembali kunci dan surat berharga mobil tersebut. "Aku tidak enak memakai benda milikmu."


Silvi menyerahkan kunci itu kembali padanya. "Ambil lah! Semua milikku, juga menjadi milikmu."


"Jangan ...." tolak Zico mendorong benda-benda itu lagi.


"Beneran nggak mau?" tanya Silvi kembali.


"Iya, nggak apa. Aku pakai motor saja seperti biasa."


Silvi menghela napas panjang. "Aku tidak tega suamiku yang tampan ini pergi bekerja pakai motor doang. Ayo, kita minta izin dulu sama Papa. Kita langsung ke showroom buat membeli mobil baru untukmu."


Tangan Zico mengepal di belakang pinggang Silvi. "Tidak usah, aku pakai motor saja. Aku ingin memulai semua dari bawah."


"Ayo lah! Kita ke showroom sekarang juga. Kamu mau mobil seperti apa?"


'Yes!' batin Zico. 'Enak aja memberiku mobil bekas miliknya. Sudah menahan malu menikahi dia, masa aku cuma dapat benda bekas? Percuma dong, tinggalin Anna yang cantik meskipun anak pungut keluarga terpandang demi dia yang gendut dan jelek ini?'

__ADS_1


*


*


*


"Bagaimana? Sudah dapat kabar tentang dia?" tanya Amar di ruang kerjanya.


"Sepertinya dia akan bekerja di kantor mertuanya. Mertuanya merupakan produsen industri pembuatan cat. Sehingga sering melaksanakan kerja sama dengan mertu Anda, Pak." jelas Darma, tangan kanannya.


"Lah? Bukan kah itu di luar bidangnya? Dia berkuliah bidang linguistik? Apa dia mampu bekerja di luar studinya?"


Darma mengedikkan bahu. "Saya rasa itu lah manfaat menjadi menantu orang berkuasa. Anda juga bisa melakukan hal yang sama, Pak. Mertua Anda orang hebat juga."


Amar tersentak tertawa atas ucapan Darma. "Jadi, menurutmu orang tuaku kurang hebat?"


Amar memasang wajah datarnya teringat apa yang telah diperbuatnya kepada Anna. Apalagi, Anna mengalami kontraksi dini karena ulahnya. Zico memberhentikan mobil mendadak, membuat Anna jatuh terhempas, dan kesakitan.


"Maaf, Pak. Apa yang harus kita lakukan padanya setelah ini?"


"Pertama, kita keluarkan surat kontraknya dulu, menuntut denda atas pelanggaran kontrak yang telah disepakati."


"Kedua ... Menuntutnya karena sudah menyakiti istri saya. Gara-gara dia dia, istri saya kesakitan hingga saat ini."


"Ketiga, ini masalah pribadi. Biarkan saya yang melakukannya sendiri."

__ADS_1


Darma mencatat semua yang disampaikan oleh Amar. "Lalu, kapan kita memulai semua?"


"Hari ini juga! Panggil dia, dan minta dia datang ke sini!"


Pada lokasi peragaan mobil-mobil terbaru, tampak seorag wanita yang cukup berisi sedang merangkul pria yang lumayan tampan. "Kalau yang ini gimana, Mas? Suka nggak?"


Sang suami melirik sejenak hanya menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan berkeliling mencari sesuatu yang cocok menurut suaminya Zico.


"Kebetulan sekali showroom kita baru masuk keluaran terbaru tahun ini." ucap sales promotion girl yang memiliki tubuh indah.


Zico tak berkedip memandangi kemolekan tubuh para gadis berkulit seputih susu itu. Ia segera melepaskan tangannya dari rangkulan Silvi istrinya.


"Loh? Kenapa?" tanya Silvi heran.


"Panas ..." ucap Zico mengusap kerahnya beberapa kali. Lalu mengikuti para gadis cantik itu.


Silvi memasang wajah cemberut. Ia menyentakkan kaki beberapa kali lalu mengikuti Zico yang dibawa untuk mengetes mobil terbaru yang dimaksud.


"Ini mobilnya sporti tetapi elegan. Jadi, Mas bisa menggunakannya ke mana pun baik situasi formal, atas sekedar bersantai jalan.


Silvi hendak masuk ingin mengecek mobil tersebut, tetapi ... Zico menarik Silvi. "Ini kan mau dibelikan buat aku ya? Harusnya aku yang mencobanya langsung."


Silvi merenung sejenak dan akhirnya mengangguk setuju. Ia menyilakan suaminya untuk duduk di bangku kemudi berencana untuk masuk duduk pada pintu sebelahnya.


Zico sumringah memasuki kendaraan tersebut. "Lihat Amar ... Kendaraanku pun tak kalah hebat dengan yang kamu miliki," gumamnya menyeringai menyalakan mesin.

__ADS_1


Silvi masih mengintari mobil itu ingin duduk di samping sang suami. Namun, deru halus suara mesin mobil, terdengar jelas. Kendaraan itu bergerak sebelum Silvi masuk menemaninya.


"Mas ... Kamu?"


__ADS_2