
"Tau apa kamu mengenai anak? Bahkan selama aku hamil pun kau tak pernah peduli!"
Amar tertegun sejenak mendapat tamparan nyata ini. Ia menggeleng cepat dan kembali memeluk istrinya. "Iya, maafkan atas kebodohanku itu. Setelah ini, aku tidak akan melakukan kebodohan itu lagi." Amar mengusap rambut Anna dengan lembut.
Beberapa waktu, posisi mereka seperti itu. Napas Anna sudah tidak bergerak cepat lagi. Ia tampaknya sudah mulai tenang.
"Bagaimana kalau kita ajak anak kita makan dulu? Dia sudah sangat lapar." Amar melirik salon ini yang sepi tanpa pengunjung.
"Sepertinya, untuk hari ini ditutup aja salonnya sekalian? Karyawan yang bekerja dipulangkan saja."
Anna mendongak memandangi wajag suaminya itu. "Apa maksudmu? Lalu, jika ada pelanggan yang membutuhkan jasa kami bagaimana?"
cup
"Kamu?" Anna memgernyitkan dahi mendapat kecupan dari pria yang baru saja utuh menjadi suaminya ini.
cup
"Masih?"
__ADS_1
cup
"Hmmmfff!"
"Semakin marah kamu, akan semakin banyak mendapat c*uman dariku." Amar memberikan serangan kecupan pada istrinya ini.
Anna yang tadinya terlihat kesal, kali ini tak bisa lagi berkata-kata. Kedua tangannya akhirnya bergelantung di leher suaminya ini dan tersenyum. "Apa kamu mau mengajarkanku menjadi ibu yang baik bagi Anan?"
"Oh, tentu saja. Ini juga berlaku bagi semua anak kita nanti." Amar menarik tangan Anna dan memberi kode kepada istrinya itu untuk membubarkan semua karyawan yang bekerj di salon ini.
Beberapa karyawan ternyata malah tampak tidak setuju. Lasmi sebagai kaki tangan Anna pun mulai angkat bicara. "Jika kami pulang, kami tidak bekerja. Kemarin jug tidak satu pun konsumen yang datang. Apakah kami akan dipecat jika hal ini terus berlangsung?"
Semua karyawan tampak saling pandang. Pria tinggi dan tampan ini adalah suami owner salon yang memberi mereka pekerjaan. Selama bekerja di sini, baru kali ini lah Anna tampak terbuka.
Anna seakan menyadari arti tatapan itu dan mulai merasa bahwa dirinya telah salah berbicara. "Ya, selama ini kami memang terpisah. Mulai kemarin, kami memutuskan untuk bersama kembali."
Bibir para karyawan itu tampak membulat lalu kepala mereka mengangguk mengerti. Secara perlahan mereka saling memberi kode dan mengangguk.
"Baik lah, sepertinya Bu Anna mau Quality Time dulu dengan keluarga yang sudah lama terpisah. Kalau begitu, kami pamit dulu." Mereka semua menangkupkan kedua tangan mohon diri mengambil peralatan masing-masing, lalu pulang.
__ADS_1
Amar merangkul pundak istrinya dan Anna menyandarkan tubuhnya. Mereka menatapi semua karyawan pulang lebih cepat dan Anna terpaksa harus merelakan hal itu.
Setelah semua anggota pulang, Amar menarik istrinya naik ke lantai atas. Anna menahan dirinya, lalu Amar melirik sikap Anna yang terlihat aneh.
"Gendoong?" ucapnya manja.
Amar terkekeh, melirik anak tangga yang akan ia naiki. "Gimana kalau gendong monyet? Sepertinya pingganku nggak kuat jika mengulang seperti yang tadi malam." Amar membelakangi Anna dan berjongkok menunggu penumpang yang akan menaiki punggungnya.
Anna segera memeluk leher suaminya itu dan Amar segera bangkit mulai menapaki anak tangga satu per satu.
"Harusnya dia dibiarkan aja untuk berkembang kan? Apalagi jika sudah memiliki bakat. Siapa tau dia bisa jadi atlet wushu nanti—"
"Nggak boleg! Masa depan atlet itu gak seharum namanya. Seperti aku, yang ujung-ujungnya tidak lagi dikenang siapa pun." sanggah Anna dengan cepat.
"Mungkin kamu kurang viral kali? Sibuk pacaran dan tidak konsisten? Makanya orang males ngajakin kamu buat bertanding."
Anna hening tak bergeming hingga sampai di lantai atas. Ia segera melepaskan rangkulan pada leher suaminya itu. Ia melirik Amar, kali ini memasang wajah jengkel.
...****************...
__ADS_1