Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 2—Berhasil Mendapatkan Anna


__ADS_3

"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Wage, bergantian menatapnya dan Silvi.


"Saya hanya ingin memastikan sesuatu saja. Apakah benar anak yang dia besarkan itu adalah anak saya, atau suaminya?"


"Jika sudah kau temukan jawabannya? Lalu kau akan berbuat apa?" Wage terus mencecar Zico dengan rentetan pertanyaan yang akhirnya mengharapkan laki-laki itu bisa bersama Silvi kembali.


"Pa, sepertinya sudah cukup. Sepuluh tahun bukan lah waktu yang singkat dalam berumah tangga. Dari waktu itu, saya belajar, agar jangan pernah menyia-nyiakan dia yang tulus mencintai kita." Kepala Zico menunduk beberapa waktu.


Setelah itu, ia menatap ayah mertuanya, Silvi, dan ibu Silvi secara bergantian. "Baik lah, saya pergi."


Zico beranjak dan menarik kopernya kembali. Silvi sesegukan tiada henti menangis menatap punggung mantan suaminya itu yang terus menjauh.


Zico memasukan koper ke dalam kendaraannya. Ia segera mengendarai mobil tersebut menuju satu tempat di mana ia sering habiskan bersama Anna dulu. Ponselnya dibuka dan ia tiada henti membandingkan wajahnya masa kecil dengan wajah Anan. Dalam diam, ia menggenggam setir dan segera melanjutkan laju kendaraannya.


*


*

__ADS_1


*


"Kenapa kau menceraikan istrimu?" tangis sang ibu memukul-mukul lengan Zico.


"Bukan kah selama ini kau dan dia sudah bahagia?"


Zico memilih diam seribu bahasa. Kepalanya tiada henti berputar menatap keadaan rumahnya yang saat ini sudah jauh berbeda dibanding sebelum menikah dengan Silvi.


"Aku tidak bisa banyak bicara. Lebih baik Ibu istirahat, dan aku juga butuh istirahat."


"Ayolah, Beib! Buktikan bahwa kamu mencintai aku?" Zico mengecup bibir Anna tiada henti. Suara kecupan yang berdetak tak pernah berhenti sebagai pengganti musik romantis pada sebuah kamar hotel melati yang sengaja ia sewa, demi menjerat Anna, pacarnya yang kaya raya, putri pengusaha properti ternama di kota itu.


"Tapi, Yang? Kenapa harus begini? Apa tidak ada cara lain untuk menjadi bukti cinta di antara kita?" Anna terus mencoba menahan tubuh Zico yang terus mendekat semakin agresif.


"Ini lah bukti cinta yang sebenarnya, Beib." Zico kembali menekankan c1umannya yang tak sanggup lagi dilepaskan oleh Anna. Anna mulai semakin tenggelam dalam indahnya yang terus mem4anas, membuat Anna candu.


Satu tangan Zico mulai menempel pada dada Anna dan meraba bukit kembar indah dan kencang itu. Kelakuannya ini membuat Anna berdesis dan Anna mulai sadar. Ia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ayo lah, Beeiib ... Kali ini, saja?!"


Anna menggeleng dan mencoba bangkit dari ranjang yang membuatnya terus terjepit oleh tingkah Zico. Pria itu kembali menarik Anna dan menaikinyan ke atas pangkuan. Ia menyugar rambut bagian belakang yang menutupi t3ngkuk Anna.


"Mau ke mana, Sayang? Jangan tinggalkan aku?" Ia kembali liar mengecup l3her jenjang seputih susuu itu.


Anna tampak meringis, giginya menjempit bibir dan saat Zico menghisapnya entah kenapa membuat Anna menggila. "Aaah, apa yang kamu lakukan?"


Tanpa mengatakan apa-apa, Ziko menarik Anna ke atas tempat tidur dan terus melanjutkannya dan ketika semua selesai, waktu menunjukan pukul sepuluh malam.


Anna menangis di bawah selimut yang menutupi tubuh tanpa benang sehelai itu. Sementara itu, pria yang baru saja merampas mahkota berharga ia jaga selama ini, tidur membelakanginya.


...****************...


Mampir yuk kakak, karya baruku yang masih sueeepiii ... 😂😂😂


__ADS_1


__ADS_2