
"Tidak! Tidak mau! Anan tidak mau!" Ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Braaaak
Anna dan Amar terlonjak karena terkejut mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Keduanya saling berpandangan beberapa detik, lalu buru-buru bangkit mengenakan pakaian masing-masing.
Amar menemukan pintu dalam keadaan renggang. "Sepertinya dia mendengar obrolan kita." Amar segera menuju kamar Anan dan menarik gagang pintu tersebut.
Akan tetapi, pintu dalam keadaan terkunci. "Boy ... Boy! Buka pintunya!"
"TIDAK MAU! ANAN TIDAK MAU!"
"Anan! Apa yang kamu dengar? Ayo sini bicara sama Papa!" Amar terus mengetuk pintu kamar Anan.
"TIDAK MAU! ANAN TIDAK MAU PAPA LAGI! ANAN JUGA TIDAK MAU SAMA MAMA! SEMUANYA JAHAT!"
Anna yang berada di belakang Amar, meneteskan air mata meskipun raur wajahnya masih saja kaku. Air mata itu jatuh, tetapi tubuhnya tak mau diajak bergerak.
__ADS_1
"Anan, kamu kenapa? Ayo sini bicara sama Mama Papa!" Amar masih membujuk putranya itu.
"PAPA BUKAN PAPA ANAN! ANAN BENCI KALIAN!"
Amar tersentak mendengar teriakan Anan. Tubuhnya kaku tersandar pada pintu. Amar memutar tubuhnya yang masih bersandar pada benda yang terkunci itu. Ia baru menyadari Anna mematung dalam tangisannya. Amar yang seakan sudah memahami watak istrinya yang kaku ini, bergerak mendekati langsung memeluknya.
"Maaf," bisik Anna sesegukan memangis tanpa suara.
Amar mengusap punggung Anna mengecup keningnya. "Walau sebenarnya aku takut ini terjadi, tapi seperti apa yang kamu katakan, lambat laun semua akan terbongkar."
"ANAN BUKAN ANAK H4RAM! ANAN TIDAK MAU!"
"Aku harus bagaimana?" sesal Anna.
"Aku akan mencoba membujuknya." Amar melepaskan pelukannya kembali mengetuk pintu Anan.
"Boy! Kamu anak hebat kan? Ayo dengar kan Papa dulu. Kamu mau mendengarkan cerita Papa kan?"
__ADS_1
"PERGI! PERGI! ANAN TIDAK MAU BICARA!"
Mendengar teriakan Anan, pria itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia kembali berjalan ke arah Anna yang sudah dibanjiri air mata.
"Sepertinya, untuk malam ini kita biarkan saja dulu. Kita tunggu hingga ia tenang." Amar mengajak Anna kembali masuk ke dalam kamar mereka.
Akan tetapi, Anna menolak dan memilih duduk bersandar pada pintu di atas lantai. Amar mengerutkan keningnya, dan turut duduk di hadapan Anna. Anna menatap datar pada Amar.
"Lebih baik, kamu masuk, Bang. Aku akan menunggu Anan di sini. Ini adalah urusan antara aku dan anakku."
"Sudah berapa kali aku bilang? Anan itu juga anakku."
Anna menggelengkan kepala. "Tapi, d4rah tetap lebih kental dari pada air. Lebih baik kamu masuk, dan aku akan menunggu Anan di sini."
Amar beringsuk turut bersandar pada pintu itu. "Terserah apa yang akan kamu katakan. Bagiku, Anan tetap lah anakku. Kalau kamu menunggu di sini, aku juga akan menunggu di sini." Amar menarik Anna untuk tidur berbantalkan p4hanya. Meskipun terdengar kecil, mereka berdua mendengar suara tangisan halus dari arah dalam kamar. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam larut berpindah menuju dini hari, dan kedua orang tua Anan tampak tertidur di balik pintu itu. Bocah sembilan tahun itu teringat kembali pada pria yang mengaku sebagai ayahnya di sekolah.
__ADS_1
"Apa benar Om itu papa Anan? Kenapa ia baru muncul? Ke mana ia selama ini?"