Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
34. Anna lebih berhak


__ADS_3

Tangan Anna sudah menjinjing tas yang tidak terlalu besar. Ia menatap pintu apartemen yang biasa ditempati bersama pria yang tidak mencintainya.


Ia merasa sangat sedih, menyadari satu hal. Amar sama sekali tidak peduli padanya. Dia hanya lah angin lalu pengganggu kisah antara Amar dengan Luna. Bahkan, Amar membiarkannya tidur dalam posisi duduk di kursi sendirian. Tidak hanya rasa sesak di dada, tetapi juga menyisakan rasa pegal pada leher dan pinggangnya.


Anna memantapkan hati untuk meninggalkan apartemen itu. Akan tetapi, ia tidak tahu harus pergi ke mana karena ia malu untuk pulang ke rumah Papi Sugiono dan Mami Renata.


Anna memejamkan matanya lalu berjalan menuju lift ke lantai dasar. Namun, ia sangat dikejutkan akan kehadiran seseorang yang membuat ia menikah dengan Amar.


"Nenek?"


"Kamu mau pergi ke mana, Anna? Amar di mana?" tanya Nenek Andari menatap tas yang dijinjing oleh Anna.


Anna terpaku menutup bibirnya. Saat ingin pergi, malah tertangkap oleh Nenek yang memaksa mereka untuk berjodoh.


*


*


*


"Apa? Kamu mau pisah? Jangan dong? Pernikahan kalian belum genap satu bulan, masa kalian udah pisah? Apa nanti yang mau Nenek katakan kepada orang tuamu dan orang tuanya?"


Anna tertunduk memainkan jemari karena tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin segera lari, berteriak kencang tanpa ada yang memedulikannya.


"Apakah Amar masih menemui Luna?"


Anna menegakkan kepala yang tadi hanya tertunduk lesu. Ia menatap Nenek Andari beberapa waktu, tetapi masih tidak memberikan jawaban. Meskipun begitu, Nenek Andari bisa menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaan yang baru saja dilontarkan.


"Apa kamu merasa terluka karena itu?" tanya Nenek Andari membali.

__ADS_1


Anna masih diam karena ia sendiri bingung dengan perasaannya. Rasanya, itu tidak mungkin. Pahitnya patah hati, membuat ia bematasi diri dari rasa cinta. Mana mungkin tiba-tiba jatuh hati kembali.


"Baik lah, Nenek bisa menyimpulkan apa yang ada di hatimu. Tapi, Nenek tidak setuju jika kamu pergi. Harusnya kamu pertahanin Amar dong, bukan pergi kayak gini."


"Tapi Nek, dia mencintai Luna. Luna lebih membutuhkan dia," ucapnya lesu.


"Lalu kamu? Harusnya dia ada di dekat kamu. Kamu itu istrinya, meski bukan mengandung anak dia, setidaknya kalian telah tercatat sebagai pasangan di mata negara. Nanti, setelah anak itu lahir, kalian bisa menikah lagi."


Nenek tidak mengetahui kontrak pernikahan antara Amar dan Anna, sehingga ia tidak bisa mengatakan bahwa sebenarnya mereka akan berpisah setelah waktu yang ditentukan.


"Apa perlu Nenek yang mengatakan kepada Amar agar dia tidak menemui Luna lagi?"


"Jangan, Nek. Aku rasa tidak perlu. Biar aku yang pergi, sebelum aku ...."


"Sebelum kenapa? Kamu sudah menyukainya bukan?"


Anna menggeleng pelan. "Aku ini h1na, Nek. Aku tidak pantas untuk dia dan untuk siapa pun. Seharusnya aku memang m4ti saja pada waktu itu. Harusnya kalian tidak datang. Harusnya Amar tidak perlu turut hampir kehilangan nyawa gara-gara aku," tangisnya sesegukan. Nenek Andari memasang wajah iba, mengusap lengan Anna.


*


*


*


Suara ringtone pada ponsel Amar, telah menggema sekian kali. Rasa lelah yang mendera membuat berguling dan kembali tertidur.


Suara ringtone itu berulang lagi dan lagi, hingga memaksanya untuk bangun mengeluarkan benda yang masih berada dalam kantong celanaa.


Pada layar datar itu tertulis nama Darma dan ia langsung menggeser tanda jawab. "Ada apa?"

__ADS_1


"Huuufft, akhirnya Anda menjawab juga, Pak. Saya sudah mencoba menghubungi Anda semenjak tadi. Kenapa Anda tidak pergi ke kantor?"


Amar menutup mulutnya menguap cukup lebar. Rasa kantuk saat ini sungguh membuatnya tidur denga sangat pulas.


"Sepertinya hari ini saya terlambat datang. Tunda semua rapat sampai nanti sore. Saya ketiduran, dan ini baru bangun."


Beberapa waktu suara di seberang hening. "Apa masih masalah Luna?" Suara Darma terdengar lebih serius.


"Iya, kondisinya droup dan harus pindah rumah sakit. Jadinya saya mengurus semua dan menemani mamanya di rumah sakit."


"Pak, sadar lah! Anda itu memiliki istri yang lebih berhak diberi perhatian!"


Amar seakan ingat pada sesuatu, ia segera keluar dari kamar mengintip pada sofa di ruang tamu.


Dia sudah tidak ada. Mungkin saja dia sudah pindah ke dalam kamarnya.


"Pak, berhenti lah memikirkan Luna. Dia itu sudah menolak menikah dengan Anda, dan saat ini istri Anda bernama Anna. Jangan menyakiti hatinya, sebelum Anda menyesali semua." ucap yang di seberang panggilan.


Sementara itu, Amar baru menyadari suasana rumah kali ini teramat sepi. "Ya udah, saya siap-siap dulu." Panggilan ditutupnya dan kaki melangkah menuju kamar Anna.


Tok


Tok


Tok


"Anna, kamu masih tidur di dalam?"


Akan tetapi panggilannya tidak memiliki jawaban. Telinganya pun menempel pada daun pintu dan tak terdengar satu kehidupan pun.

__ADS_1


Perlahan Amar menarik gagang pintu kamar Anna. Ia tidak menemukan satu apa pun. Hanya sebuah kamar tanpa siapa pun dan pintu lemari yang terbuka. Mata Amar terbelalak saat melihat pakaian Anna telah kosong.


__ADS_2