
"Wah, ternyata Amar juga tak sabar ingin mencicipinya ya?" tanya Renata tersenyum heran menatap Anna.
Anna mengedikan bahu dan duduk di bangku kosong sebelah Amar. Anan melihat kedua orang tuanya sudah bersiap, tak mau kalah duduk di sisi kosong sebelah Amar.
"Aah, keluarga kalian ini semakin hari terasa semakin menggemaskan aja?" gumam Renata menyiapkan makanan untuk Anan terlebih dahulu.
"Habis ini, buatku ya, Mi?" Amar mengangkat piringnya bersiap menerima soup, yang dimaksud oleh Renata.
"Aku duluan dong, Mi. Yang anak Mami itu kan aku, bukan dia?" gumam Anna tak mau kalah.
"Ooh, jadi gitu. Sekarang pakai status-statusan dalam keluarga?" gumam Amar melirik Anna.
"Aduh ... Aduuuuhh ... Kalian ini kenapa siiih? Malah saingan kayak anak kecil gini?"
Amar tersentak dan bola mata berputar 360 derajat. Ia mengusap kepala dan merasa kebingungan sendiri. "Ya udah, buat Anna aja. Aku makan yang lain aja."
Amar memilih menu lain dengan perasaan sedikit malu. 'Apa yang terjadi padaku?'
*
*
*
Amar berjalan di belakang Anna yang menggandeng tangan Anan. Kepalanya sedikit meneleng merasa heran pada diri sendiri. Mereka baru saja berpamitan dari orang tua Anna.
Renata menyadari keanehan pada diri Amar. Ia menepuk pelan pundak Amar dari belakang. Sementara itu, Anna sudah masuk duluan ke dalam mobil.
"Iya, Mi?"
"Kamu kenapa? Mami lihat kamu sedikit tidak fokus," ucap Renata.
"Aaah, iya. Aku hanya kepikiran tentang keanehan pada diriku. Entah kenapa aku jadi menyukai semua yang disukai Anna," ucapnya bingung.
Renata terkekeh. "Sepertinya Anna akan mendapat saingan?"
"Hah? Saingan? Aku?" tanya Amar memasang wajah tak percaya.
"Bukan, kemungkinan Anna sedang hamil anak perempuan," ucap Renata kembali.
"Aaah, dari mana Mama tahu? Bahkan, di USG pun belum kelihatan karena masih terlalu kecil."
"Hanya tebakan nenek-nenek sok tahu aja kok. Kalau bisa, kamu kendalikan diri, agar Anna tidak salah paham denganmu."
"Ba-baik, Mi. Hanya saja aku tak menyadari perilakuku terhadap Anna ini. Tapi, ke depannya aku harus menahan diri," ucap Amar.
"Nah, gitu dong? Perjuangan jadi ayah memang begitu? Bukan setelah dia lahir aja. Bahkan dalam prosesnya pun kamu harus berjuang," ucap Renata.
Amar mengangguk paham dan mencium tangan Renata pamit. Ia masuk ke dalam kendaraan disambut tatapab tajam Anna.
"Sekarang kamu mencoba merebut perhatian mamiku?"
__ADS_1
Amar hanya terkekeh mendapat serangan sang istri. Tiba-tiba, ia mengusap perut Anna dan menciun perut itu. "Maafkan Papa ya? Kali ini Papa akan berusaha."
*
*
*
Enam bulan kemudian, Anna menggenggam tangan Amar yang menemaninya menuju ke ruang persalinan. Anna tengah didorong oleh beberapa orang berseragam putih. Ia terlihat kesakitan karena kontraksi hebat pertanda kelahiran anak keduanya ini.
"Sakiiiiiit ...." Anna mer3mas tangan Amar dengan sangat kuat.
"Sabar ya, Sayang. Kamu harus kuat, demi putri kita yang ingin melihat dunia ini." Amar merasa cukup kesakitan oleh genggaman yang kuat itu. Tidak hanya itu, Anna juga mencakar tangan Amar yang mencoba menenangkan Anna.
Tulang belulang di dalam tubuh Anna seakan ingin lepas dari persendian. Keringat mengucur deras tiada henti. Hal ini tentu membuat Amar tak sabar.
"Sus, mana dokternya?"
"Sebentar ya, Pak. Bapak sabar dulu. Dokter dan Bidan sedang mempersiapkan diri untuk persalijab istri Bapak," terang perawat.
"Sudah pembukaan berapa?" tanya seorang wanita yang kemungkinan seorang bidan baru muncul dalam ruang persalinan itu.
"Sudah sempurna, Bu."
Sang bidan mengangguk. "Baik lah, sebentar lagi Dokter Yoga akan datang."
"Jangan lama-lama! Kasihan istri saya!" Tangan Amar telah merah dipenuhi bekas cakaran Anna.
"Buruan!" bentak Amar.
Dokter Yoga terkekeh dan mulai memimpin persalinan normal Anna. Ia mengecek pintu lahir membuat Amar tergidik kesal. "Jangan lihat-lihat terus!"
"Lah? Kalau nggak dilihat mana kita tahu?" ucap Dokter Yoga setengah mencibir.
"Alasan!"
Anna menarik kemeja Amar yang didapat olehnya. Kancing-kancing kemeja itu terputus membuat kotak-kotak pada tubuh Amar iku menjadi tontonan para perawat dan bidan.
"Aaaiih, kalau suaminya kayak gini, aku gak akan menolak jika disurub bikin kesebelasan," celetuk salah satu perawat disambut tawa kecil perawat lain.
"Ah, segitu doang?" gumam Dokter Yoga.
"Hei, anak saya mau lahir? Fokus dong?" cecar Amar.
"Oke Anna, kamu harus bisa menenangkan diri! Ini adalah persalinan yang kedua, dan aku tahu kamu tidak akan setakut yang pertama," ucap Dokter Yoga, disambut anggukan cepat Anna yang menggenggam kedua tangan Amar yang berdiri di posisi bagian atas kepala.
"Sekarang, kamu tarik nafas yang dalam! Jangan ngeden ya? Tapi, biar kan ia bergerak mengikuti jalur hembusan napasmu!"
"Kelamaan!" bentak Amar tak sabar.
"Tarik napas ... Tahan sejenak! Lepaskan!"
__ADS_1
Anna memgikuti dan membuat bayi yang sudah berada di jalur lahir sedikit terdorong.
"Dok, kepalanya sudah kelihatan," ucap Bidan.
"Sekali lagi, Anna. Aku yakin kamu bisa! Tarik napasss ... Tahaaan ..."
Anna menarik napas dan menahan sesuai arahan.
"Lepasss ...."
Anna melepaskan napas dan ia merasakan bayi di yang sudah di pintu lahir, terdorong hebat hingga kepalanya benar-benar keluar.
"Oooeeekkk ... Oooeeekkk ... Oooeeekkk ...."
Dokter Yoga menyambut dan menarik bayi itu. Setelah itu sang bidan siap menampung dengan kain bersih. Bayi itu langsung dibungkus dan dibersihkan.
Anna sudah lemas, dan air mata jatuh di pipinya. "Alhamdulillah, selamat datang putriku."
"Sayang, terima kasih. Terima kasih atas perjuanganmu untuk kedua anak kita." Amar memeluk Anna dan mengecupnya bertubi-tubi.
"Ekheemm ..." Dokter Yoga kembali menggoda Amar. "Setelah ini, giliranku?"
*
*
*
"Cucuuu Oma ...." ucap mertua Anna yang langsung buru-buru balik ke Indonesia mendengar Anna melahirkan. Ia menggendong bayi cantik itu dalam pelukannya.
"Hmm, saya sudah menunggu dari tadi. Kapan giliran saya menggendong cucu cantik yang sedari tadi kamu monopoli?" ucap Renata merangkul Anan dari belakang.
"Tunggu, baru lima menit doang? Saya jauh-jauh ke sini buat ketemu cucuu," ucap ibu Amar.
"Gantian dong? Anan kan juga kangen sama Oma-nya? Saya juga mau gendong cucu cantik ini."
Anna dan Amar hanya tersenyum melihat pertengkaran kecil kedua nenek itu.
"Anan, sini sama Opa aja! Ayo kita pikirkan masa depanmu, untuk menggantikan Opa."
"Anan mau jadi atlet wushu, Opa ...." celetuk bocah tampan itu.
"Iya, gak apa. Nanti sekalian jadi CEO yang ahli wushu ya?"
...-TAMAT-...
Cerita boleh diulang lagi pada BAB 94 (Anan ikut turnamen)
Hayuuu, meriahkan cerita terbaru Author yaa ...
__ADS_1