
Yuki mengerutkan keningnya. "Kenapa internetnya gak mau jalan? Rasanya sih Uni waktu itu mulus-mulus aja?"
Ponselnya bergetar dan masuk pesan pemberitahuan.
Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk menggunakan layanan internet non-paket data. Silakan melakukan pengisian ulang!
Yuki kembali terduduk lemas. Kartu yang baru ini memang tidak memiliki pulsa, hanya beberapa perak sebagai modal yang diberi pihak operator selulernya.
Ia teringat pulsa di kartunya yang sebelumnya memiliki pulsa yang cukup banyak, tetapi saat ini entah berada di mana.
"Apa dicari dulu aja kali ya?"
Yuki membongkar-bongkar isi dalam lemarinya. Mengeluarkan semua hingga menimbulkan suara yang cukup gaduh. Sang kakak yang berada di sebelah mengernyitkan kening.
"Tuh anak lagi apa? Kok makin ke sini makin ngeselin?" Ia kembali mengecek pintu kamar sang adik. Ternyata pintu itu terkunci.
Uni April menggedor pintu kamar sang adik. "Ngapain sih woi?"
Yuki yang sedang merangkak di bawah meja terkejut mendengar gedoran pintu itu, membuat kepalanya terbentur meja. Ia melirik ke arah pintu dengan muka masam dan mendengkus.
"Jangan ganggu aku!" teriaknya.
Uni April mengernyitkan keningnya. "Dih, adik kurang ajar. Awas ya, kalau minta bantuan? Nanti nggak akan Uni bantu!"
Yuki mencibir tanpa suara, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. "Ini benda ke mana yah?" Ia mengusap pelipis yang meninggalkan noda bewarna coklat.
"Padahal pulsa di sana banyak banget diisikan sama Babang." Ia menghela napas panjang.
Akhirnya, Yuki menghempaskan dirinya pada kasur yang tidak empuk itu, meninggalkan derit ranjang yang terbuat dari bahan metal.
Ia menarik ponsel dan memeluknya. "Anggap saja ini memeluk Babang. Aku kangen banget," ucapnya sendu.
Beberapa waktu kemudian, ia merapikan kembali kamar yang telah hancur bagai kapal pecah. Dengan wajah memelas, Yuki beringsut mencari sang ibu. Namun, ternyata ibunya sudah tidak ada.
"Apa Ibu ke kebun ngantarin makanan buat Ayah?"
Dia memelas kembali ke kamar. "Kasian sekali kamu, Bang? Udah di dalam pelukan, tetapi tidak bisa aku ajak bicara."
Tiba-tiba, ia melirik ke dinding sebelah kamarnya, di mana sang kakak sedang sibuk sendiri di sana. "Uni pasti punya paket data, kan? Boleh minta tethering kali ya?"
Ia kembali bergerak sembari mengintip ke kamar sang kakak. Beruntung, pintu kamar Uni April tidak ditutup. Kakaknya terlihat sibuk menulis entah apa di meja belajar sederhana di sana.
Uni April menyadari kehadiran seseorang yang terus memantaunya. "Hmmm, sepertinya ada sesuatu yang kamu butuhkan 'lagi'?"
Yuki tersenyum kikuk. "Aaah, Un—"
"Nggak ada!" Potong sang kakak dengan cepat.
"Lah? Aku kan belum bilang?"
"Oh ... jadi memang ya? Uni-mu ini hanya kau cari di saat butuh doang? Ini tiap dibilang malah ngeyel mulu." Uni April melirik sang adik di ujung mata lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Ia melihat ponsel saudarinya ini tergeletak menganggur begitu saja. "Gimana Un? Udah kembali lagi hapenya? Kenapa dikunci segala?"
"Udah dong, aku kan pemiliknya. Gampang buka blokiran. Justru karena tahu kamu kayak gimana, makanya aku kunci."
Yuki memanyunkan kembali bibirnya. "Un ... boleh—"
"Nggak boleh!" Kembali Uni April memotong ucapan Yuki dengan cepat.
"Aku cuma mau minta—"
"Nggak ada!" Uni April terus menyela ucapan Yuki.
"Ya udah deh, pelit! Dasar kakak durhaka!"
"Apaaaa?" Uni April bangkit dan mengejar adiknya.
Yuki langsung kabur ke kamar dan mengunci pintunya. Dari luar terdengar gedoran pintu dari saudara satu-satunya ini.
"Dasar! Kak Ros!" Yuki kembali mencabik kesal.
Yuki kembali memandangi ponselnya yang masih kinclong itu. "Bang ... gimana ini? Aku nggak bisa makainya."
*
*
*
Di seberang sana, seseorang sedang menunggu untuk dihubungi, tetapi tak kunjung mendapat kabar juga.
Ia kembali membuka akun fesbuk sang kekasih. Memandangi foto yang telah dikomentari banyak orang, tetapi orangnya belum muncul juga.
"Apa kamu selingkuh dariku?"
Akel mulai meragu. Ada rasa sesal karena terlalu terburu-buru menganggap gadis itu sebagai pencarian terakhirnya.
"Harry, gimana surat izinnya? Udah dapat kabar dari notaris?"
Sang ayah yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, menbuyarkan lamunan panjang Akel yang terus memandangi potret gadis berseragam. Hal ini membuat sang ayah tertarik dan menarik benda pipih itu.
"Wiih, siapa ini? Pacar barumu setelah putus dengan Liani? Masih sekolah?" Indra menyerobot pertanyaan tanpa sekat.
"Aah, hmmm ... entah lah, Pa." Akel membuka laptopnya, pura-pura sibuk dengan kegiatannya.
"Manis juga, namanya siapa?"
Akel melirik mengernyitkan wajah kikuk. "Yukita, Pa."
"Woooh, namanya secantik orangnya." Sang ayah menyerahkan ponsel tersebut kembali pada putra sulungnya.
"Tapi, kenapa kamu terlihat tidak bersemangat akhir-akhir ini? Apa karena belum ketemu lagi gara-gara sibuk nolongin Papa?"
__ADS_1
"Oh, bukan Pa."
"Oh, syukur lah kalau bukan karena andil Papa. Lalu kenapa suratnya belum kelar juga?" Sang ayah bersidekap berdiri di belakang.
"Oh, iya ... ini langsung dicek kembali."
Sang ayah menatap panjang putranya ini yang terlihat semakin lesu semenjak beberapa hari belakangan. "Ya udah, kalau kamu mumet, Papa minta tolong notaris aja."
"Oh, jangan, Pa. Percuma dong, anaknya kuliah jurusan hukum. Masa surat perizinan ini aja aku gak bisa?" cegahnya.
"Aku ingin memperlihatkan kemampuan yang sudah aku tempuh selama menjadi mahasiswa ini."
Sang ayah masih terlihat mencoba memahami apa yang dipikirkan sang putra sulung yang begitu dewasa. "Selesaikan dulu masalahmu. Jika gadis itu lah yang membuatmu kebingungan seperti ini, cepat selesaikan! Pria itu harus tegas! Gak boleh menye-menye!"
Akel mengangguk mantap. Setelah sang ayah keluar, dia mencoba menghubungi kembali, tetapi masih belum masuk juga.
"Oke ... kita tunggu, sampai kapan akan begini terus?"
Sore hari ia diajak jalan oleh dua sahabatnya. Mereka mengajak untuk pria yang dirudung rindu yang belum putus ini, nonton bioskop mengenai kisah percintaan plus aksi yang sedang viral diperbincangkan oleh semua orang.
Saat asik menonton, pada ketegangan maksimum, sebuah panggilan masuk, tetapi karena merasa terganggu, ia segera merejek panggilan tersebut. Ia melanjutkan keseruan tontonan film dalam aksi menegangkan.
Panggilan masuk kembali, dan kali ini dia memperhatikan layar pipih itu dengan seksama di kegelapan ruangan bioskop.
"Ini panggilan fesbuk? Jangan-jangan ...."
Akel segera menjawab panggilan tersebut. Akan tetapi, kebisingan sound system dalam ruangan itu membuatnya tak bisa mendengar apa pun. Dengan cepat, ia bergerak keluar barisan, tetapi dicegat oleh dua kawannya.
"Ke mane lu?"
"Ada panggilan masuk nih."
"Kite ikut! Nanti tiba-tiba lu kabur aja ninggalin kami berdua."
Akel mencegat mereka mengikutinya. "Nggak usah! Lu pade nonton aja!"
"Nggak mau! Nanti lu main kabur aja kita malah masih asik-asik aja di dalam."
Akhirnya mereka bertiga sepakat keluar, dan panggilan yang tadinya telah berakhir. Akel memperhatikan dengan seksama. "Yukita?"
"Siapa?" tanya kedua sahabatnya serempak.
Akel tidak merespon pertanyaan kedua kawannya tersebut. Ia memilih menjauh dan mencoba melakukan panggilan ulang. Ternyata panggilan tersebut tak kunjung dijawab. Setelah beberapa kali ia mencoba, panggilannya tak dijawab juga.
"Apa yang terjadi? Kenapa ia hanya menggunakan fesbuk? Kenapa tidak langsung lewat WA atau telepon aja sekalian?"
Akel mencari kontak panggilan terakhir yang selalu diperiksa setiap waktu. Akan tetapi, nihil, panggilannya masih tak kunjung masuk juga.
"Kamu kenapa sih?"
Saat ia mulai merasa putus asa, ponselnya kembali bergetar, masih dari orang yang sama. Kali ini dia menjawab dengan cepat.
"Kamu ke mana aja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Kamu selingkuh dariku ya?" Kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulut Akel.
"Baaang, iih ... udah capek-capek berkelana mendaki gunung melewati lembah mencari tumpangan wifi, malah dituduh selingkuh. Ya udah, deh ... aku tutup aja teleponnya. Aku kirimkan lagi hapenya!" rutuk suara yang sangat ia rindukan di seberang.
"Enggak rusak sih." Lalu terdengar tawa renyah yang membuat Akel terbucin-bucin selama ini.
"Kalau nggak rusak kenapa nggak bisa dihubungi? Kamu beneran selingkuh ya?"
"Enak aja! Kayaknya kamu itu korban selingkuh ya? Makanya berprasangka mulu?"
Akel terkesiap mendapat tembakan yang sangat nyata pada dirinya. "E-enggak! Kenapa kamu malah yang marah-marah padaku? Yang menghilang itu kamu!"
"Enggak! Kamu yang hilang! Gara-gara gak mau video call kamu gak mau hubungi aku lagi!" Suara yang di seberang panggilan semakin meninggi.
"Bukan! Masa karena itu doang aku marah? Emangnya aku anak kecil macam kamu?"
"Dih? Malah bilang-bilang anak kecil? Ya udah deh, tutup aja teleponnya. Nggak tau apa, ini entah ke mana berkelana biar dapat wifi buat ngehubungi dia, akunya malah dimarahin," rajuknya.
Akel mengerutkan keningnya kembali. "Kenapa harus cari-cari wifi? Pulsamu kan banyak? Tinggal beli paketan data doang."
Beberapa waktu hening di seberang. "Sim-card yang itu hilang. Semua kontak yang tersimpan ikut hilang. Jadinya yaaa ... nyangkut ke rumah temen aku. Ini jauh-jauh aku jalan kaki ke rumah Feli, sahabat aku. Buat buktikan juga, aku sudah punya calon suami."
"Pppfftt ...." Akel tak kuasa menahan tawanya. "Dih, yakin bener?"
"Mana katanya pacarmu itu?" Terdengar suara berbeda dari seberang sana.
"Ini, aku lagi telepon," ucap sang kekasih.
"Video dulu! Jangan-jangan kamu bokis doang?" Suara berbeda terdengar sangat ketus.
"Siapa yang berani marah-marah sama kamu?" Membuat perasaan Akel menjadi jengkel. Ia tidak rela pujaan hatinya diperlakukan seperti itu.
"Dia temen baikku. Aku pernah cerita belum ya? Jadi, sekarang aku nangkring buat pamerin hape baru sama dia. Biar dia nggak marah-marah lagi. Soalnya ada yang fitnah aku deket sama adik kelas nih, padahal enggak."
"Tapi dia kirim surat cinta sama kamu!" Terdengar kembali suara ketus tersebut.
"Enggak kok ... aku aja udah pacaran sama Babang semenjak tiga bulan lalu. Bener kan, Bang?"
Akel hanya menyimak dengan seksama. Dia sadar diri adalah salah satu orang yang sudah salah sangka terhadapnya. "Tadi katanya dia kasih surat cinta sama kamu? Kamu jawab apa?"
"Nggak aku jawab lah! Soalnya dia bilang kalau terima aja. Kan aku udah cinta sama Babang. Ngapain aku jawab? Ya, aku biarin aja."
Degh
Tiba-tiba Akel memegang dadanya. Dengan mudah gadis seberang bilang cinta, membuat perasaannya menjadi bercampur aduk.
"Beneran nih, kamu cinta padaku? Kita belum pernah ketemu, loh?"
"Iya, beneran! Aku tu kangen berat tau nggak sih?" ucap Yuki.
"Ih, kenapa kalian malah bucin-bucinan sama aku kayak gini? Mana orangnya? Aku pengen lihat? Atau kamu hanya sekedar menghalu, tapi orangnya nggak ada." Suara berbeda terdengar kembali.
__ADS_1
"Tapi aku malu kalau video call," ucap Yuki kembali.
"Pokoknya harus! Kalau tidak, aku nggak percaya!"
Akel tersenyum dan setuju. Sudah sangat lama ia menantikan ini, berbicara bertatapan meski sekedar lewat udara.
"Bang, mau video call?" tanya kekasihnya dengan ragu.
"Tentu!"
'Karena inilah yang aku inginkan. Berbicara sambil menatapmu, bagai morphin penenang sendiri bagiku.' ucapnya dalam hati.
Lalu, panggilan beralih ke video. Akel segera menggeser panggilan tersebut. Namun, ia sangat terkejut. Di layar yang muncul bukan lah wajah yang ia mimpikan. Akan tetapi, rambut terurai membuat semua wajahnya tertutup.
"Kamu kenapa? Lagi mendalami peran menjadi suster ngesot?" tanya Feli.
Akel menahan diri untuk tertawa. Karena kali ini dia akan berhadapan dengan sahabat sang kekasih. Ponsel bergerak cepat dan kali ini orang yang ada di layar tersebut telah berbeda.
"Iiih, beneran beda? Aku pikir tadi kamu bicaranya sama Zaki?" celetuk Feli kembali.
Akel hanya menatap layar tersebut memasang wajah datarnya tadi.
"Halo?" Sapa Feli.
Akel mengangguk.
"Namanya siapa, Bang?"
"Akel."
"Tinggalnya di mana?"
"Ada deh."
"Sejak kapan pacarannya?"
"Tiga bulan."
Feli yang mendapat tanggapan dingin, menyerahkan kembali ponselnya kepada Yuki. "Sepertinya kalian cocok. Satu bar-bar, satu dingin kayak freezer!"
'Enak aja dibilang freezer?' batin Akel kesal.
Layar ponselnya telah memperlihatkan seseorang dengan semua rambut menutupi wajah. "Udah yah? Aku tutup dulu. Kirim kan aja nomor hapenya yah? Nanti aku SMS."
"Kenapa SMS? Udah bisa chat sama hape barunya kan?"
"Tapi aku gak ada paket data. Babang belikannya kecanggihan. Aku gak sanggup menafkahi membeli paket datanya."
"Sekarang kamu aja yang kirim kontak hapemu yang baru! Biar aku yang isikan."
Gadis yang wajahnya tertutup rambut, menyibak rambutnya. Wajahnya terlihat girang. "Beneran?"
"Nah, gitu dong? Pinggirin rambutnya! Udah kayak kuntilanak kesiangan tau nggak?"
Yang di seberang kembali menutup wajahnya dengan rambut.
"Dih? Kenapa ditutupi lagi?"
"Maluuu ...."
"Kenapa malu?"
"Aku nggak pakai bedak dulu, tadinya."
"Cantik kok, Sayang ... cantik!"
"Dih, apa tadi? Sayang?" tanya Yukita kembali.
"Iya, aku sayang sama kamu."
"Ekheeemmm ..." terdengar deheman kasar dari teman Yukita.
"Cepat kirim nomor barunya! Biar aku isikan paket datanya!"
"Bang, kirim buatku juga!" celetuk suara yang lain.
*
*
*
Sepanjang perjalanan pulang, Yuki tak berhenti tersenyum. Ponselnya saat ini sudah ready untuk digunakan sepanjang waktu. Apalagi, setelah bicara langsung dengan laki-laki yang saat ini memenuhi kepalanya.
"Dari mana aja?" Tiba-tiba suara Uni April membuat Yuki tersentak.
Buru-buru ia menyimpan ponselnya ke dalam kantong.
"Apa itu yang disembunyiin?" tanya kakaknya lagi.
"Nggak ada, kepo amat sih?" Yuki berlalu memasuki rumah.
Uni April memaksa merogoh kantong Yuki dan menarik benda yang disimpan adiknya tadi. Matanya terbelalak melihat benda yang ditarik dari dalam kantong sang adik itu.
"Ini kamu dapat dari mana?" Nada Uni April terdengar tegas menyudutkan Yuki.
"I-ini—" Yuki gelagapan.
"Kamu mencuri ya?"
"Enggak!"
"Terus?"
__ADS_1
Yuki merebut benda itu dari tangan sang kakak. "Ini pacarku itu yang belikan."
"Hah? Pacarmu yang kamu bilang jauh itu? Kamu udah ngapain aja sama dia?"