Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
57. Anna yang M4ti Rasa


__ADS_3

"Maafkan dia ya, Dok. Dia pasti baru saja merepotkanmu?" Jawab Anna dengan wajah datar.


"Oh, bukan ... Aku lah yang membuatnya terluka. Harusnya aku yang meminta maaf padamu."


"Terluka?" Kening Anna terlihat sedikit mengerut.


"Iya, tadi dia terluka karena telah menolongku dari jambret."


Mata Anna yang tadi tenang dan dingin, tiba-tiba berubah liar, keningnya mengerut, menyemburatkan rasa khawatir. "Aku akan ke atas menengok keadaannya." Anna berjalan cepat menaiki anak tangga satu demi satu.


Dokter Yoga tersenyum tipis dan mengikuti Anna dari belakang menaiki anak tangga menuju tempat ia beristirahat.


Sampai di bagian rumah di atas sana, Anna menatap Anan yang meringkuk di atas kursi, memeluk kakinya yang terlipat, sambil memandangi perban putih yang menutupi luka pada tangannya.


Anna terdiam dalam waktu yang panjang. Di belakang, Dokter Yoga tak putus memperhatikan kelakuan Anna yang terlihat kaku terhadap anaknya. Ia pun memulai pembicaraan, tetapi Anna telah berjalan mendekat kepada Anan.


"Kenapa kamu sok berani seperti itu?" tanyanya memandang Anan yang tak memedulikan kehadirannya.


Anan melirik sejenak, menggeleng, dan meringkuk menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Jawab! Aku bertanya padamu." Anna menatap Anan dengan wajah datarnya.


"Em, maaf ... Seperti yang aku katakan tadi. Anakmu Anan, terluka karena Aku." Dokter Yoga menyela percakapan kaku antara ibu dan anak itu.


Dokter Yoga meminta tempat agar Anna memberikan jalan untuk dia lewat. Setelah itu, ia duduk dan merangkul Anan. "Kamu anak hebat, Anan. Kamu tenang saja. Aku akan memujimu di hadapan mamamu ini," bisik Dokter Yoga.


Anan kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Om. Mamaku emang selalu begini. Mamaku tak pernah memedulikanku." Anan bangkit lalu berpindah masuk pada sebuah ruangan dan mendorong pintu itu dengan kasar.


Terdengar suara benturan keras, membuat Dokter Yoga mengernyitkan wajah.


"Maaf kan dia, Dok. Dia memang anak keras kepala dan suka membangkang." ucap Anna masih berdiri mematung pada posisi yang sama.


"Bukan, dia tidak salah." Dokter Yoga menatap wajah Anna yang masih datar tanpa senyuman. Wajah Anna terlihat kaku.


Anna berjalan bagai robot dan duduk tepat di samping Dokter Yoga. Wajahnya masih kaku menatap ke arah pintu kamar Anan.


"Ayo ... Senyum dong? Kenapa kamu terlihat kaku begitu?"


Anna melirik Dokter Yoga kembali. Setelah itu melirik ke arah jam tangannya. "Dok, sepertinya ini sudah hampir malam. Apa istrimu tidak akan marah jika kelamaan pulang?"

__ADS_1


Dokter Yoga tersentak oleh pertanyaan Anna. Lalu ia menyugar rambutnya karena merasa sedikit insecure oleh pertanyaan Anna itu.


"Aah ... Ya, tapi aku ... Belum menikah."


Kepala Anna terputar lurus menatap Dokter Yoga. "Masa sih? Ini sudah sepuluh tahun lalu semenjak kita berpisah dulu.


Dokter Yoga memainkan tangannya. Ini adalah pertanyaan yang selalu menjadi momok menakutkan baginya. Di usianya yang hampir empat puluh tahun, ia masih belum menikah.


"Iya sih ... Bagaimana lagi, belum ketemu jodoh. Padahal, anakmu udah sebesar ini kan?" Dokter Yoga memasang wajah kikuk.


"Lalu kamu sendiri bagaimana? Aku dengar suamimu sudah meninggal? Apa yang terjadi dengannya?"


Anna menghela napas panjang. "Apa dia yang menceritakan seperti itu?"


"Yaa, siapa lagi? Saat aku bertanya tentang ayahnya, dia berkata bahwa ayahnya telah meninggal saat dalam kandungan."


Anna menoleh kembali ke arah pintu kamar anaknya. "Mungkin, sebenarnya dia masih hidup, tetapi aku tak tahu bagaimana kabarnya. Selama sepuluh tahun ini, aku pergi dari pulau ini, dan tinggal di pulau seberang."


Dokter Yoga menatap Anna yang masih memasang wajah datarnya. Anna persis seperti orang yang kehilangan jiwa, tepatnya m4ti rasa.

__ADS_1


"Seandainya saja, dulu kamu tidak menghilang, mungkin hari ini kita sudah menjadi keluarga yang utuh."


Anna memutar kepalanya dengan refleks menatap Dokter Yoga.


__ADS_2