Ditinggal Menjelang Nikah

Ditinggal Menjelang Nikah
Ex. Part 22—Wanita Itu


__ADS_3

Amar menarik Anan yang terus diteliti oleh wanita itu.


"Sudah Ma, jangan membuat anakku ketakutan seperti itu." Anan menyadari reaksi sang ibu yang terus membaca sesuatu antara Ama, Anna, dan Anan. Akan tetapi, Amar berusaha untuk terus menjauh membawa Anan kembali ke kamarnya.


Ibu Amar melirik Anna yang menuju dapur. "Mama dengar dia sedang hamil? Bukan kah kalian sempat pisah? Masa dia bisa hamil? Hamil anak siapa?"


Amar mulai gusar mendengar cecaran sang ibu. Ia melirik ke arah pintu dapur, tetapi ia tidak terlihat. Namun ia yakin bahwa sang istri pasti mendengar semuanya.


"Jagoan, sekarang kamu bersih-bersih dulu dan ganti baju," titah Amar. Anan menganggukan kepala, dan Amar menutup pintu kamar sang putra. Ia tak ingin, putranya ini mendengarkan apa yang akan terjadi di rumah ini.


Di belakangnya, ternyata sang ibu telah bersidekap dada menatap dengan wajah menyelidik. "Apa kamu yakin anak itu bener-bener d4rah dagingmu? Terus kenapa dia bisa hamil lagi? Kapan kalian rujuk? Kenapa tidak pernah memberitahukan kami?"


"Ekhem, Mom. Kamu jangan begitu! Harusnya kamu seneng generasi penerusnya lebih banyak dibanding kita," ucap sang ayah menengahi.


"Sudah, Pa! Papa jangan ikut campur dulu. Kali ini Mama mau bicara serius dengan Amar. Enak aja wanita itu pergi meninggalkan anak kita dalam waktu lama, tau-taunya balik dah hamil lagi?"


Amar menatap sang ibu, lurus. "Apa maksud Mama dengan kata 'wanita itu?' Anna itu punya nama. Dan, kami itu pisah jarak bukan berarti kami itu bercerai! Kami itu hanya butuh waktu untuk berpikir, dan kami kembali bersama."


Sang ibu berjalan menuju meja makan. "Berpikir apa sampai bertahun-tahun begitu hingga nenekmu pun telah meninggal tanpa tahu keberadaannya? Sudah lah Amar! Untuk apa kamu terus bertahan dengan wanita itu?"

__ADS_1


Ibu Amar melirik ke arah dapur. Ia memang sengaja memperbesar suara agar Anna mendengarkan semua yang mereka bicarakan.


"Cih, hamil? Entah anak siapa?"


"Ma, Anna itu hamil anak aku! Cucu Mama! Jika Mama pulang ke negara ini hanya untuk memecahkan keluarga kami, lebih baik Mama kembali ke luar negeri."


Sang ibu menatap nanar terhadap ibunya. "Amar? Sekarang kamu sungguh lancang pada Mama ya? Ini semua pasti karena wanita itu! Otakmu sudah dicuci olehnya kan?"


Anna mendengarkan obrolan tersebut bersembunyi di pojok dapur. Ia meringkuk dan terlihat pucat pasi.


"Nyonya, kenapa sembunyi di sana?" tanya Bibi yang membantu memasak.


"Nyonya? Ayo keluar dulu?" ajak Bibi menarik tangan Anna.


"Bi, tinggalkan aku!" ucap Anna datar.


Amar merasa khawatir, mengintip ke dapur. Jelas tampak di matanya Anna tengah dibujuk oleh wanita paruh baya yang ia bayar untuk membantu menyiapkan makanan dan kebutuhan lainnya.


"Nyonya?" Bibi terlihat hampir putus asa. Tanggapan wanita itu sungguh teramat dingin dan datar. Bibi melirik Amar yang perlahan berjalan mendekat.

__ADS_1


"Tu—"


Amar mengode agar Bibi tidak berbicara. Bibi menganggukan kepalanya dan memberikan tempat untuk Tuan Besar rumah ini.


Amar pun berjongkok tepat di hadapan istrinya. Anna melirik sang suami dengan datar. Namun, itu hanya sejenak. Anna kembali menundukan kepala, merenungkan semua yang diucapkah oleh wanita yang melahirkan suaminya.


"Kenapa ke sini? Keluar lah. Orang tuamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu dengan putra semata wayang." Anna masih meringkuk dan kali ini membuang muka.


Amar menarik tangan istrinya. "Kamu jangan ambil hati ya? Mamaku memang seperti itu. Hanya saja, hati Mama itu sebenarnya sangat baik. Jadi, kamu jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Mama. Karena, mereka adalah d4rah dagingku—"


"Tapi kamu tau sendiri dengan kenyataannya, Bang. Karena memang—" Mulut Anna terbungkam karena Amar menutupnya.


"Sudah, kamu jangan sendirian di sini. Gabung dan makan dulu. Kamu pasti sangat lapar."


Anna terlihat mulai mengendorkan tubuh menyiratkan ia tak bisa lagi untuk memberontak. Dengan patuh Anna mengangguk bangkit dibantu sang suami. Satu hal yang gak bisa dipungkirinya adalah, rasa lapar yang begitu besar.


Anna merangkul lengan sang suami. Amar menarik kepala Anna agar bersandar pada lengannya.


"Ekhem." Ibu Amar sengaja berdehem kasar.

__ADS_1


__ADS_2