
"Kamu jangan asal menuduh!" Dengan cuek Zico menuju ranjang tempat ia akan mengistirahatkan diri dari penatnya hari.
Silvi mengejar Zico dan memeluk suaminya dari belakang. Zico terpaku akan sikap Silvi yang begini. Istrinya sesegukan menyandarkan diri pada punggungnya.
"Mas ... Apa yang terjadi denganmu? Semenjak pulang dari salon tadi, kamu lebih banyak diam. Kamu berubah 180 derajat, Mas. Apa kamu kembali menyukainya?"
Zico tak bergeming ia melepaskan pelukan istrinya naik ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh seutuhnya. Silvi menghapus bekas air mata yang membasahi pipinya. Ia memilih keluar dari kamar itu, tetapi Zico membiarkan dan masih tetap membisu.
Pada kamar kosong, Silvi mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan live streaming pada sebuah aplikasi online.
"Halo Guys ... Saya ingin mereview pelayanan salon yang katanya sangat terkenal dengan kualitas produk perawatan dan pelayanan. Itu lho? Salon baru bernama Beauty Salon and Spa, tadi itu hancur banget. Jadi saya kasih rate nya bintang satu ya? Sangat tidak direkomendasikan ... Terus, pegawai di sana pada ganjen semua. Masa suami saya digoda begitu? Jadi, buat yang datang sama suaminya, hati-hati ya? Mereka itu lenje semua. Nggak mau suaminya direbut oleh pegawai sana kan? Kalau saya sih, kagak!"
*
*
"Anna, kenapa kamu tidak menghubungiku?" Dokter Yoga baru saja datang saat sore menjelang.
Anna teringat akan ucapan Amar, bahwa ia belum menceraikan Anna. Jadi, sepuluh tahun menghilang begini, Anna masih menjadi istri Amar.
__ADS_1
Anna yang terlihat kalut, menarik perhatian Dokter Yoga yang menjadi kekasihnya kini. "Kamu kenapa? Apakah ada sesuatu yang berat menimpamu?"
"Ah, Mas ...." Anna mulai kebingungan untuk menjelaskan kepada Dokter Yoga yang saat ini telah menjadi kekasihnya.
"Pelan-pelan, kamu tenang dulu." Dokter Yoga mengajak Anna duduk di atas sofa.
Namun, Anna masih bingung memikirkan cara untuk memulai memgatakan satu berita yang tak terduga tadi. "Mas ... Ah, menurutmu bagaimana dengan hubungan kita ini? Apa kamu yakin untuk melanjutkan semua kisah ini?"
"Kenapa begitu?" Dokter Yoga menggenggam kedua lengan Anna.
"Assalamaualaikum ..." Anan baru saja pulang latihan wushu. Wajah Anan terlihat sangat ceria. Namun, keceriaan itu seketika berubah.
Anan berjalan mendekati kedua orang tersebut. "Om, lepaskan Mama Anan! Nanti Papa Anan bisa marah kalau Om pegang-pegang Mama."
Dokter Yoga tertegun mendengar ucapan Anan barusan. Ia melirik Anna meminta penjelasan.
"Anan, kamu masuk dulu ke kamar. Jangan lupa langsung mandi biar tidak kepanasan," titah Anna.
"Tapi, Ma ... Anan gak suka Mama berdua aja sama Om Dokter. Om Dokter pulang dulu, ayo pulang dulu!" Anan menarik Dokter Yoga agar menjauh dari ibunya.
__ADS_1
"Anan, Mama tidak pernah mengajarkanmu seperti itu ya? Kamu harus sopan terhadap Om Dokter."
"Tapi, Ma?"
"Anan, kalau membantah nanti Mama tidak sayang?" ancan Anna, membuat Anan tertunduk.
"Masuk dulu! Jangan lupa langsung mandi!"
Anan berjalan dengan berat hati, sejenak ia melirik Dokter Yoga. Namun, tatapan mata sang ibu membuat Anan bergerak lemas masuk ke dalam kamarnya.
Setelah memastikan Anan menutup pintu kamarnya, Dokter Yoga menggenggam tangan Anna. Anna merasa tidak nyaman dengan sentuhan itu melepaskannya dengan perlahan.
"Tadi, aku bertemu dengan Bang Amar."
Dokter Yoga menatap Anna dengan dalam. "Lalu? Bukan kah dia selalu saja mengabaikanmu? Kenapa dia muncul kembali?"
"Ternyata, aku belum bercerai dengan Bang Amar, Mas."
Dokter Yoga mengerutkan kening. "Kok bisa? Bukan kah kamu bilang sudah tidak pernah bertemu semenjak sepuluh terakhir?"
__ADS_1
"Dulu, aku pergi, berharap dia akan melayangkan talak padaku. Namun, kenyataannya lain. Dia tidak menceraikanku. Kami berdua masih suami istri sah."
Kedua tangan Dokter Yoga, kembali menggenggem tangan Anna. "Lalu bagaimana denganmu? Bukan kah kamu tidak pernah bahagia dengannya? Bagaimana kalau kamu layangkan gugatan cerai kepadanya?"